• Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510

Pdt. Tommy O. Lengkong, M.Th.

KETIDAKPUASAN BERAKIBAT KEPADA KETIDAK-TAATAN

 

Lalu Akhan menjawab Yosua, katanya: "Benar, akulah yang berbuat dosa terhadap TUHAN, Allah Israel, sebab beginilah perbuatanku: aku melihat di antara barang-barang jarahan itu jubah yang indah, buatan Sinear, dan dua ratus syikal perak dan sebatang emas yang lima puluh syikal beratnya; aku mengingininya, maka kuambil; semuanya itu disembunyikan di dalam kemahku dalam tanah, dan perak itu di bawah sekali." (Yosua 7:20-21)

 

Apa yang menyebabkan Akhan melakukan tindakan ketidaktaatan yang menyedihkan ini? Itu dimulai dengan ketidakpuasan. Akhan tidak puas dengan cara Tuhan mengatur urusan hidupnya. Pikiran Akhan tidak tertuju pada berkat-berkat yang ada di depan. Dia memikirkan masa lalu dan apa yang tidak dia miliki. Ketidakpuasan AkHan, yang merupakan dosa, melahirkan ketidaktaatan.

 

Ketidakpuasan adalah akar dosa Iblis, yang menyebabkan pemberontakannya terhadap Tuhan. “Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu: Aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah, dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di sebelah utara. Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi!” (Yes. 14:13-14)

 

Demikian halnya dengan Adam dan Hawa, ketika dosa pertama kali memasuki kehidupan manusia. Tuhan telah menciptakan Hawa dan Adam sempurna dalam segala hal. Tetapi ketika Setan menarik perhatian Hawa dengan merujuk tentang fakta bahwa dia dan suaminya “tidak seperti Allah, mengetahui yang baik dan yang jahat" (Kej. 3:5), pada saat itu setan sedang menabur benih ketidakpuasan kepada Hawa.

 

Kita juga harus menyadari bahwa kita juga “tidak sepenuhnya terbebas dari ketidakpuasan.” Ketidakpuasan masih dapat meracuni pikiran kita. Oleh karena itu, kita perlu belajar dari Paulus. Dalam Filipi 4:11-13 dia menulis, “Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”

 

Rahasia Paulus untuk mengatasi ketidakpuasan adalah mencukupkan diri dalam segala keadaan. Mencukupkan diri sendiri (Yun: autarkes)  mengacu pada kemandirian dari keadaan eksternal dan sering kali merujuk pada kondisi seseorang yang mencukupkan dirinya sendiri tanpa bantuan dari orang lain, atau kata ini mengacu pada rasa cukup dalam batin, sebagai lawan dari rasa kurang atau keinginan akan hal-hal lahiriah.

Rasa cukup dan berpikir yang tidak berorientasi pada keinginan akan kepuasan lahiriah akan menjadi penahan ketidakpuasan.

 

Hal lainnya yang dapat menolong kita agar kita tidak dikuasai oleh ketidakpuasan adalah meyakini bahwa Allahlah yang menjamin kecukupan. “Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.” (2 Kor. 9:8)

 

Sikap bersyukur atas segala berkat yang telah dikaruniakan kepada kita, akan membawa kita tidak hidup dalam ketidakpuasan.

 

“Teruslah bersekutu dan memberitakan Injil !”

Pdt. Tommy O. Lengkong, M.Th. - Ketua Umum PP PGLII


ID EN