• Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510

Pdt. Tommy O. Lengkong, M.Th.

BERTAHAN SAMPAI KEDATANGAN TUHAN YESUS DAN TETAP MEMBERITAKAN INJIL

 

“Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.” (Matius 24:13-14)

 

Yesus menyampaikan pesan ini dalam khotbah-Nya tentang akhir zaman. Ia mengatakan bahwa orang-orang percaya tidak mudah dalam menempuh perjalanan iman mereka menjelang akhir zaman. Mereka akan mengalami kebencian, penolakan, penderitaan dan siksaan. Namun mereka harus bertahan sampai akhir, yakni hingga kedatangan Tuhan Yesus yang kedua. Kata bertahan disini (Yun: hupomeno) dapat berarti tetap berdiri di bawah tekanan tanpa menyerah. Jadi bertahan disini bukan sekadar menunggu tanpa aktifitas, tetapi tetap mempertahankan kesetiaan kepada Tuhan Yesus walaupun mengalami berbagai pergumulan dan tekanan. Dalam budaya Yahudi, kesetiaan seperti ini sangat dihargai. Dalam tradisi rabinik, orang benar disebut sebagai mereka yang tetap setia kepada Tuhan bahkan ketika keadaan sulit. Sementara dalam dunia Helenistik, kesabaran dan ketekunan juga dianggap sebagai kebajikan penting. Para filsuf Yunani menyebutnya sebagai ketahanan moral, yaitu kemampuan untuk tetap teguh dalam prinsip walaupun menghadapi penderitaan. Hal seperti ini yang diingini Tuhan Yesus, yaitu orang percaya memiliki ketahanan spiritual.

Selain bertahan, Tuhan Yesus mengatakan: “Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.” Hal ini menjadi nubuatan Tuhan Yesus tentang pelaksanaan pemberitaan Injil di masa akhir dunia. Padahal pada masa itu, murid-murid Yesus hanyalah sekelompok kecil orang yang berada di wilayah Palestina. Namun Yesus melihat jauh ke depan, bahwa pengikut-pengikut-Nya akan memberitakan Injil sampai ke seluruh bangsa di bumi. Dan kita meyakininya bahwa hal ini akan benar-benar terjadi.

Memang kita sebagai orang-orang percaya, kita harus tetap berdiri di dalam kebenaran Kristus dan setia kepada-Nya, meski berada di bawah tekanan, dan tanpa menyerah, hingga kematian kita atau kedatangan Tuhan Yesus.

  • Di dunia masa kini, yang semakin kuat dengan budaya kompromi, orang percaya mengalami pergumulan untuk tidak menyesuaikan nilai-nilai hidupnya dengan dunia yang bobrok (kebebasan seks, hedonisme, relativisme moral, koruptif, dlsb.)
  • Di wilayah tertentu di Timur Tengah atau Afrika dan di beberapa tempat, menjadi pengikut Yesus sering kali berarti kehilangan hak waris, diusir dari keluarga, diisolasi secara sosial, dan kehilangan mata pencaharian.
  • Di Tiongkok, penindasan dilakukan melalui pemantauan digital yang canggih dan penangkapan, sehingga gereja ditekan untuk membatasi pergerakan mereka.
  • Di negara-negara yang didominasi oleh nasionalisme agama seperti India dan Myanmar, penderitaan meliputi perusakan properti, penyerangan terhadap gereja dan rumah warga Kristen, serta intimidasi untuk berpindah keyakinan kembali.
  • Di Korea Utara, yang secara konsisten menduduki peringkat pertama negara paling berbahaya bagi umat Kristen. Pengikut Kristus menghadapi eksekusi atau dikirim ke kamp kerja paksa yang brutal.
  • Di negara seperti Nigeria, Somalia, dan Yaman, umat Kristen menghadapi penganiayaan ekstrem, seperti serangan dengan kekerasan fisik yang intens, penculikan, bahkan menjadi martir karena keyakinan mereka.

Tentu masih banyak daftar yang bisa dikumpulkan tentang berbagai pergumulan, tantangan, tekanan penderitaan orang-orang percaya.

Namun selain orang-orang percaya harus bertahan, tugas yang terpenting adalah memberitakan Injil kepada semua bangsa. Tekanan tidak akan menghentikan Injil, malahan semakin mempercepat penyebarannya.

Marilah kita tetap setia memberitakan Injil.

 

“Teruslah bersekutu dan memberitakan Injil !”

Pdt. Tommy O. Lengkong, M.Th. - Ketua Umum PP PGLII


ID EN