• Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510

Sejarah PGLII

Sejarah Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia (PGLII)

 

Pendahuluan

Gerakan Injili (Evangelical) merupakan salah satu arus besar dalam kekristenan dunia yang memiliki pengaruh luas baik secara global maupun di Indonesia. Berakar pada kebangunan rohani dan gerakan pemurnian iman yang muncul sejak abad ke-18, gerakan ini menekankan otoritas Alkitab, keselamatan melalui iman kepada Yesus Kristus, dan keterlibatan aktif dalam penginjilan serta misi.

Dalam konteks dunia, semangat ini diwujudkan dalam bentuk organisasi-organisasi global yang mewadahi persekutuan Injili lintas negara dan denominasi. Setelah Perang Dunia II, dua gerakan besar misi modern muncul dengan dua pendekatan yang berbeda: gerakan oikumenikal (yang melahirkan World Council of Churches atau WCC pada tahun 1948 di Amsterdam) dan gerakan evangelikal (yang melahirkan World Evangelical Fellowship atau WEF pada tahun 1951 di Woudschoten, Belanda).

WEF menjadi wadah internasional bagi berbagai organisasi Kristen Injili di seluruh dunia, menegaskan kesatuan iman Injili tanpa membentuk denominasi baru. Sejak tahun 2002, WEF berubah nama menjadi World Evangelical Alliance (WEA) dan kini menaungi 143 aliansi nasional serta jutaan umat Injili di berbagai benua.

Gerakan evangelikal global dengan semangat misi dan persekutuannya ini turut memberi pengaruh besar terhadap dinamika kekristenan di Indonesia, yang pada akhirnya melahirkan gerakan Injili nasional sebagai wadah bersama bagi gereja-gereja dan lembaga Injili di Tanah Air.


Awal Mula Gerakan Injili di Indonesia

Pada akhir dekade 1960-an, sejumlah pemimpin Injili di Indonesia mulai merasakan kebutuhan mendesak untuk membangun wadah persekutuan yang dapat mempererat hubungan antar gereja dan lembaga Injili serta mengonsolidasikan pelayanan misi di tengah-tengah bangsa. Dalam konteks kehidupan gereja yang beragam, “persekutuan” menjadi kata kunci yang mempersatukan berbagai pihak dalam beban dan visi yang sama: memberitakan Injil dan menegakkan nilai-nilai Kristiani di Indonesia.Sejak tahun 1969, tokoh-tokoh Injili Indonesia mulai mengadakan persekutuan-persekutuan informal untuk membahas berbagai hal penting: pergumulan pekabaran Injil, kebutuhan akan wadah bersama, penampungan aspirasi dari berbagai gereja dan yayasan, serta upaya memperkuat kesaksian bersama di tengah masyarakat. Walau tampak sederhana, persekutuan-persekutuan kecil ini memiliki daya rohani yang luar biasa besar dan menjadi benih bagi lahirnya gerakan Injili nasional.

 

Lahirnya Persekutuan Injili Indonesia (PII)

Puncak dari pergumulan tersebut terjadi dalam dua pertemuan penting pada tahun 1971.  Pertama, pada bulan Juni 1971, para pemimpin Injili berkumpul di City Hotel, Jakarta untuk membicarakan pembentukan wadah Injili nasional. Kedua, pada bulan Juli 1971, pertemuan lanjutan diselenggarakan di Batu, Malang, Jawa Timur, yang kemudian menjadi momentum lahirnya organisasi Injili Indonesia.Sebelum momentum tersebut, tepatnya pada 15 Juni 1971 di Hotel Ramayana, Tanah Abang – Jakarta, sekitar 100 hamba Tuhan dari berbagai gereja dan lembaga hadir dalam persekutuan yang bersejarah. Dalam pertemuan itu disepakati empat keputusan penting:

 

  1. Nama wadah pelayanan bersama adalah Persekutuan Injili Indonesia (PII).
  2. Dibentuk pengurus sementara dengan susunan:
    • Ketua: Pdt. Dr. Petrus Octavianus
    • Sekretaris: Pdt. Willem Hekmann
    • Bendahara: Philip Leo
  3. Pengurus sementara diberi mandat untuk mempersiapkan Kongres Nasional I PII.
  4. Pengurus juga diminta merumuskan Mukadimah dan AD/ART PII.

 

Selanjutnya, pada 17 Juli 1971 di Batu, Malang, dirumuskanlah Mukadimah PII dengan motto “Dipanggil untuk Bersekutu dan Memberitakan Injil”, berdasarkan Matius 28:19 dan Galatia 5:13. Tanggal inilah yang kemudian ditetapkan sebagai hari lahir Persekutuan Injili Indonesia (PII).

Tokoh-tokoh yang terlibat secara intens dalam proses kelahiran dan perumusan PII antara lain:
Pdt. Dr. Petrus Octavianus, Pdt. Dr. Ais M.O. Pormes, Pdt. G. Neigenfind, Pdt. Willem Hekmann, Brigjen (Purn.) N. Huwae, Philip Leo, S.O. Bessie, Pdt. Dr. H.L. Senduk, Ev. S. Damaris, Pdt. Ernest Sukirman, dan Pdt. Andreas Setiawan.

Selama lebih dari tiga dekade berikutnya, PII berperan sebagai wadah nasional yang mempertemukan berbagai sinode dan lembaga Injili dalam persekutuan, dialog, serta kerja sama misi. Ia menjadi simbol kesatuan umat Injili Indonesia dalam semangat kebangunan rohani, pelayanan sosial, dan keterlibatan aktif dalam kehidupan bangsa.

 

Transformasi Menjadi PGLII

Memasuki abad ke-21, dengan semakin luasnya lingkup keanggotaan dan kompleksitas pelayanan, PII mengalami transformasi struktural dan nomenklatural. Pada Kongres Nasional IX PII yang diselenggarakan pada 3–6 Oktober 2006 di Hotel Indo Alam, Puncak – Jawa Barat, nama organisasi secara resmi diubah menjadi Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia (PGLII).

Perubahan nama ini mencerminkan realitas organisasi yang telah berkembang: dari persekutuan individu dan komunitas, menjadi aliansi yang menaungi sinode-sinode gereja (ada 100 sinode) dan lembaga-lembaga pelayanan Kristen (lebih dari 60 yayasan/lembaga) di seluruh Indonesia. PGLII kini memiliki pengurus wilayah di 31 provinsi dan 3 perwakilan luar negeri, menjadikannya salah satu aliansi Injili terbesar di kawasan Asia.

 

Kiprah dan Perkembangan PGLII

Dalam perjalanannya, PGLII tidak hanya berfokus pada dimensi spiritual dan penginjilan, tetapi juga memberi perhatian seimbang terhadap pelayanan sosial dan pembangunan bangsa. Hal ini tercermin dalam struktur organisasi yang senantiasa memuat berbagai bidang pelayanan, seperti: Gereja, Yayasan, Misi, Teologi, Pelayanan Masyarakat, Pelayanan Umum, serta Penelitian dan Pengembangan.

Tema-tema besar yang diangkat dalam berbagai Musyawarah Nasional (MUNAS) PGLII selalu menegaskan keseimbangan antara iman dan tanggung jawab sosial. Misalnya, pada MUNAS X, PGLII mengusung tema “Usahakanlah Kesejahteraan Bangsa” (Yeremia 29:7) dengan subtema “Menegakkan nilai-nilai Kristiani dalam kiprah bersama membangun masyarakat sejahtera, adil, dan demokratis dalam bingkai NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.”

Kesadaran untuk menjaga kemurnian asas Injili dan memperkuat semangat kebersamaan diwujudkan melalui berbagai kegiatan, antara lain Sarasehan HUT PGLII ke-43 pada 24 Juli 2014 di MDC Hall, Jakarta Barat, serta keterlibatan aktif dalam berbagai kegiatan ekumenis nasional. Salah satu momen penting adalah ketika PGLII turut memimpin kegiatan “Celebration of Unity” pada 17–18 Mei 2013, yang merupakan bagian dari peringatan ulang tahun ke-10 Dewan Gereja Sedunia (WCC).

Semangat kebersamaan tersebut kembali ditekankan dalam Musyawarah Nasional XI dengan tema: “Bersama-sama Membangun dan Memperbaharui Bangsa dengan Kasih Kristus” (Yesaya 42:6).

 

Munas XII dan Tantangan Era Baru

Munas XII PGLII diselenggarakan pada 16–20 Maret 2020 di Medan, Sumatera Utara, dengan pembukaan di GBI Rumah Persembahan, Jln. Letjend Jamin Ginting, dan persidangan di GBI Tabernacle of David (ToD), JW Marriott Hotel, Medan. Tema besar yang diangkat adalah “Api Injil Terus Menyala” (Matius 28:18–20; Markus 16:15) dengan subtema “Terus Merajut Nilai-nilai Kebangsaan Sesuai Pancasila dan UUD 1945 Menuju Indonesia Maju.”

Munas XII menjadi momentum penting bagi PGLII untuk mempertegas komitmennya dalam menjaga kemurnian Injil, memperkuat kebersamaan gereja-gereja Injili, serta meneguhkan peran gereja dalam kehidupan berbangsa di tengah tantangan zaman modern.

 

MUNAS XIII – Balikpapan, 2025

Pada 17–21 Maret 2025, PGLII menyelenggarakan Musyawarah Nasional (MUNAS) ke-XIII di Balikpapan, Kalimantan Timur, dengan tema “Membangun Kebersamaan dalam Melayani Bangsa untuk Kesejahteraan Bersama.”  MUNAS XIII menghasilkan sejumlah keputusan penting, antara lain terpilihnya Pdt. Tommy Lengkong sebagai Ketua Umum PGLII periode 2025–2029 dan penetapan program kerja nasional yang berfokus pada penguatan organisasi, misi, penginjilan, serta tata kelola keuangan dan aset lembaga. Di samping itu PGLII kembali menegaskan komitmen sebagai mitra strategis pemerintah dalam pembangunan bangsa, termasuk dukungan terhadap pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) di Kalimantan Timur. Melalui MUNAS XIII, PGLII menegaskan arah baru pelayanannya di era modern dengan memperkuat kebersamaan, memperdalam spiritualitas Injili, dan berperan aktif dalam membangun bangsa yang adil, sejahtera, dan beriman.

Penutup

Sejak kelahirannya pada tahun 1971 hingga kini, PGLII tetap setia pada panggilannya: “Dipanggil untuk Bersekutu dan Memberitakan Injil.” Gerakan ini bukan hanya melanjutkan semangat global Aliansi Injili Dunia, tetapi juga meneguhkan kesaksian Injili yang kontekstual di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.

 Melalui persekutuan, penginjilan, pendidikan, dan pelayanan sosial, PGLII terus berkomitmen menjadi terang bagi bangsa, menghadirkan nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan publik, serta memperkuat kesatuan gereja-gereja Injili Indonesia untuk kemuliaan Kristus dan kesejahteraan bangsa (DR).


ID EN