• Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510

Pdt. DR Ronny Mandang, M.Th.

DUA KATA DI BAHASA INDONESIA YANG TIDAK DITEMUKAN DI ALKITAB: LUMAYAN DAN SUKSES

Daniel 6:4 (TB2) "Daniel ini melebihi para pejabat tinggi dan para kepala daerah itu, karena ia mempunyai roh yang luar biasa. Raja bermaksud untuk menempatkan dia atas seluruh kerajaannya."

 

Dua kata yang tidak tertulis secara eksplisit di Alkitab, adalah kata baku yang sering diucapkan di dalam ibadah di gereja, atau kerap menjadi judul di berbagai tulisan, yaitu: Lumayan dan sukses.

Jika mencari teks "lumayan" atau "sukses" di Kamus Alkitab, tidak ditemukan. Tetapi justru sering diucapkan atau ditulis!

Pengertian kata "lumayan" adalah kata sifat dalam bahasa Indonesia, yang artinya: "sedang saja", "gagal tidak beruntung juga tidak" yang umumnya diartikan "segala jenjang kebaikan telah dicapai meski tidak istimewa". Karena itu, kata "lumayan" kerap dikaitkan dengan jenjang pelayanan, penampilan diri, bisnis, pasangan hidup, penggembalaan bahkan iman. Perlu diketahui, kata "lumayan" kerap diucapkan jemaat atau pemimpin gereja untuk menghindari sombong atas keberhasilan puncak.

Kata kedua, adalah "sukses", yang paling sering ditulis, misalnya, "pelayan Kristus yang sukses", "pemimpin Kristen yang sukses", atau ketika suatu kegiatan berakhir baik, "Selamat ya semuanya sukses!". Pengertian kata baku "sukses" selalu berkaitan dengan keberuntungan puncak, pencapaian prestasi, kekayaan atau jabatan tertinggi yang diperoleh dan belum tentu orang lain menikmatinya.

Di dalam Alkitab, orang-orang yang dipakai Tuhan dan berhasil melakukan hal-hal besar tidak pernah ditulis "ia telah sukses!'. Atau, prestasi iman yang jauh dari sikap sombong ditulis "musuh telah dikalahkan, lumayan juga hasilnya!".

Meski bisa saja, dua kata tersebut dapat ditemukan padanan dan artinya yang sama, tetapi teks-teks di Alkitab tidak pernah menggunakannya. Hal ini bukan karena keterbatasan bahasa belaka, tetapi agar kepastian yang ditulis justru menjadi keyakinan dan peneguhan iman atas kebenaran yang terjadi, Tuhan terlibat di dalamnya.

Kisah Daniel dan kawan-kawannya yang berada di pembuangan, mampu membuktikan bahwa pencapaian yang diperoleh berada dalam level "luar biasa" atau "di atas rata-rata", bahwa Daniel terbukti jauh lebih baik dari kepala daerah. Itu bukan prestasi lumayan tetapi karena hubungannya dengan Tuhannya, "rohnya menjadi luar biasa!", bukan lumayan atau sekedar mampu.

Begitu juga dengan janji-janji Tuhan terhadap pemimpin dan bangsa Israel, "Jika mereka berepegang teguh pada ketetapan dan peraturan-Nya, Ia akan membuat beruntung dan berhasil", tidak ditulis mereka telah sukses!

Akhirnya, hal yang perlu mendapat perhatian adalah, apakah ukuran-ukuran kata "berhasil", "beruntung" di Alkitab identik dengan kata "sukses" dalam arti yang umum? Tentu saja berbeda. Sukses dalam persepsi masa kini dikonotasikan memiliki segala kekayaan melimpah, jabatan dan tinggi dan nama yang terkenal. Tetapi, kata "berhasil dan beruntung" adalah hasil atau upah ketaatan terhadap perintah dan ketaatan kepada Allah.

Akan baik jika karya-karya Tuhan yang terjadi pada diri orang Kristen, tidak selalu dianalogikan dengan pemahaman umum di dunia sekuler yang artinya menjadi bias. Misalnya, mulailah tidak menggunakan kata "lumayan" atau "sukses" untuk hal-hal yang berkaitan dengan karya Kristus. Tegasnya, arti "bahagia" secara umum karena telah memiliki segala kebutuhan, tetapi di dalam Alkitab "bahagia" itu karena takut akan Tuhan dan mengikuti perintah-perintah-Nya.

Salam Injili

Pdt. DR Ronny Mandang, M.Th. - Ketua Majelis Pertimbangan PGLII


ID EN