Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Pdt. Tommy O. Lengkong, M.Th.
“Karena itu, setelah aku mendengar tentang imanmu dalam Tuhan Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus, akupun tidak berhenti mengucap syukur karena kamu. Dan aku selalu mengingat kamu dalam doaku” (Efesus 1:15-16)
Apakah yang menyukakan dan membanggakan kita dari jemaat atau pribadi yang pernah kita layani? Tentu adalah pertumbuhan iman mereka dan bagaimana mereka hidup dalam kasih. Hal-hal inilah yang diungkapkan Rasul Paulus dalam doanya. Dalam ayat 16, Paulus berkata: “Akupun tidak berhenti mengucap syukur karena kamu.” Hal yang menyebabkan Paulus mengucap syukur sedemikian kuat dan terus menerus adalah iman dan kasih orang-orang kudus di Efesus.
Ketika Paulus berbicara iman, ia mengatakan, imanmu “dalam” Tuhan Yesus. (kata dalam diterjemahkan dari kata Yun. ‘en’ - - preposisi dativ) Pengertian teks ini tidak hanya bermaksud menjelaskan bahwa Tuhan Yesus itu sebagai “obyek iman” mereka, yang sering diungkapkan dengan iman “kepada” Tuhan Yesus.” Teks ini dapat dimengerti bahwa Tuhan Yesus menjadi seperti satu tempat atau wadah dimana iman itu diletakkan. Hal ini menggambarkan tentang kokohnya/teguhnya iman seseorang bukan karena orang itu sendiri, tetapi karena Kristus adalah dasar yang teguh, yang tidak berubah dan yang dapat diandalkan, dimana iman orang percaya diletakkan. Dalam 1 Korintus 3:11 tertulis, “Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.” Iman dalam Tuhan Yesus juga dapat berarti “personal relationship”. Kristus digambarkan sebagai ‘ruang’ dimana iman kita berada. Artinya ketika seorang percaya bersekutu dengan Kristus dengan imannya, ia berada atau tinggal dalam Tuhan Yesus. Dalam Yohanes 15:5, Tuhan Yesus berkata: “Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”
Paulus juga mengucap syukur karena “kasih mereka terhadap semua orang kudus.” Bahwa selain mereka memiliki kehidupan iman dalam Kristus yang luar biasa, yang menyukakan dan membanggakan juga bagi Paulus sehingga ia mengucap syukur adalah kehidupan mereka yang penuh kasih terhadap orang-orang kudus. Mereka tidak hidup untuk diri mereka sendiri tetapi saling memperhatikan dan juga membagi hidup mereka dalam kasih dengan orang-orang kudus lainnya. Mereka menaati perintah Tuhan Yesus untuk saling mengasihi. “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." (Yoh. 13:34-35)
Kehidupan iman kita dalam Kristus dan kita saling mengasihi seharusnya nampak dan menjadi suatu kesaksian bagi orang lain. Ketika orang percaya lainnya melihat bagaimana iman kita dalam Kristus kokoh dan teguh, mereka mengucap syukur kepada Tuhan. Ketika hidup kita diwarnai dengan penuh kasih terhadap sesama orang kudus, mereka juga mengucap syukur kepada Tuhan.
Kiranya kehidupan iman dan kasih masing-masing kita menyukakan dan membangga, sehingga orang lain tidak berhenti mengucap syukur kepada Tuhan.
“Teruslah bersekutu dan memberitakan Injil !”
Pdt. Tommy O. Lengkong, M.Th.
Ketua Umum PP PGLII