• Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510

Pdt. Tommy O. Lengkong, M.Th.

SALING MENGHORMATI DAN SALING MEMPERHATIKAN MENGUKUHKAN PERSEKUTUAN

 

Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus. Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. (1 Korintus 12:23-25)

 

Dalam kehidupan orang-orang percaya, baik dalam gereja-gereja, dalam komunitas-komunitas, dalam lembaga-lembaga pelayanan harus senantiasa mengutamakan persekutuan dan menghindari perpecahan. Apa yang disampaikan Paulus dalam ketiga ayat di atas, saling menghormati dan saling memberi perhatian adalah untuk mengukuhkan persekutuan agar tidak terjadi perpecahan. Menghormati dan memberi perhatian kepada orang lain adalah suatu ekspresi kehidupan dalam kasih. “Mengasihi orang lain seperti diri sendiri” adalah hal yang utama dalam kehidupan anak-anak Tuhan.

Dalam Galatia 5:14-15, Paulus menegaskan: “Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: ‘Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!’ Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan.”

Kehidupan dalam kasih harusnya tidak saling menggigit dan saling menelan sesama. Terjemahan Galatia 5:15 menurut Richard N. Longenecker dalam WBC, “jika kalian terus saling menggigit dan merobek-robek satu sama lain, waspadalah agar kalian tidak saling memusnahkan.” Di sini Paulus memberikan peringatan yang sarkastis. Gambaran tersebut, tentu saja, bersifat hiperbolis: “kalian menggigit” (Yun: dakno), “kalian merobek-robek” (katesthio), dan “kalian dimakan habis” (analisko bentuk aorist pasif sebagai hasil). Hiperbola ini menggambarkan binatang buas yang bertarung begitu ganas satu sama lain hingga akhirnya saling memusnahkan. Implikasi dari penggambaran ini adalah bahwa inilah yang diyakini Paulus sedang terjadi di gereja-gereja Galatia. Mungkin perkelahian mereka berasal dari perbedaan sikap dengan kaum libertinisme yang tidak mengutamakan kasih. Paulus di sini dengan sarkastis mengecam kecenderungan libertinisme yang ada di antara jemaat Galatia.

Sama seperti keadaan dunia kita masa kini, dimana kita berhadapan dengan manusia yang saling membenci, saling menyakiti, saling menjatuhkan, tidak peduli, tidak punya rasa belas kasih, bahkan saling berperang dan saling membunuh. Karena memang dalam dunia berlaku prinsip The Law of the Jungle (hukum rimba). Demi makanan saling menyerang, membunuh dan memakan. Atau apa yang dinamakan “The Survival of the Strongest”, yang terkuat adalah yang bertahan hidup. Maka orang berlomba-lomba untuk menjadi yang paling kuat, paling berpengaruh, paling keren, paling kaya supaya dapat mengalahkan yang lain dan bertahan hidup. Bukankah kita berprilaku yang tidak sama seperti pola pikiran dunia ini? Karena kita menaati apa yang dikatakan Firman Tuhan: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, …” (Rom. 12:2)

Marilah kita terus saling mengasihi antar sesama kita dengan saling menghormati dan saling memperhatikan sehingga mengukuhkan persekutuan. PGLII mempunyai moto: “Dipanggil untuk bersekutu dan memberitakan Injil.”

 

“Teruslah bersekutu dan memberitakan Injil !”

Pdt. Tommy O. Lengkong, M.Th. - Ketua Umum PP PGLII


ID EN