Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Pdt. DR Ronny Mandang, M.Th.
Matius 28:19 (TB2) "Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku, dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus"
"Gereja-gereja di zaman Batavia terbagi dua bagian; gereja-gereja yang berada di dalam tembok Kota Tua (old town) Batavia, dan gereja-gereja yang berdiri di luar tembok Batavia"
Menurut Adolf Heuken SJ, buku Gereja-gereja Tua di Jakarta, 2003, Ketika Jan Pieterszoon Coen menguasai Batavia, 30 Mei 1619, Coen melihat orang-orang Belanda tidak suka mandi, dan perempuan-perempuan Belanda terlalu cepat meninggal karena kurang subur ketika hidup di wilayah tropis. Lalu Coen memerintahkan para laki-laki Belanda menikahi perempuan setempat (non Belanda). Saat itu Coen juga menyadari bahwa "Keluarga Kristen hampir tidak ada di Batavia".
Sebelumnya, tahun 1610, Pangeran Jayakarta memberikan ijin kepada orang Belanda untuk membangun suatu gudang di tepi timur sungai Ciliwung. Gudang tersebut disebut "Rumah Nassau" yang lantai duanya dipakai sebagai tempat beribadah yang terdiri dari pedagang, tentara, pelaut, tukang dari Eropa dan Asia. Hidup mereka dinodai oleh "dosa-dosa keji".
Pada tahun 1640 dan 1808 dibangunlah dua gedung gereja di Batavia, yang dikenal sebagai, "Gereja Salib" dan "Gereja Kubah". Saat itu VOC hanya mengakui satu gereja Belanda yakni, "Gereformeerde Kerk" (gereja Calvinis). Dua gereja ini kemudian berada di Museum Wayang 1912. Selain gereja Belanda, dibangun juga gereja Portugis di Batavia, meski Portugis tidak pernah berkuasa di Batavia. Patut diingat saat itu Batavia disebut sebagai Kota Budak-Belian yang oleh tuan-tuan mereka (orang Belanda) mendesak agar para budak belian diberi pelajaran Kristen, karena "Guru Agama Keliling". Menjadi orang Kristen dianggap suatu keuntungan bagi para budak.Namun karena situasi seperti itulah, orang Kristen Belanda dan orang Kristen yang berasal dari budak, terjadi suatu ketimpangan besar.
Nicolaus de Graaff, seorang dokter kapal dagang lima singgah di Batavia, ia menulis dalam bukunya "Oost Indische Spiegel" (1701) yang berisi,
"Kemewahan serta kesombongan besar diperlihatkan di Batavia. Hal ini sangat nampak saat mereka datang atau pulang dari ibadah hari Minggu atau pada hari lain, bila diakan khotbah. Pada sat itu, yang satu berhias dan mengenakan pakaian yang lebih bagus daripada yang lain. Sutra, beludru, satin, linen, kain songket atau bermacam-macam kain mahal seperti cindai dan tegarun. Hiasan paling istimewa berupa lisban sutra atau emas, serta kalung mutiara di leher dan di tangan atau atau di topi yang berhiaskan bros emas dengan banyak berlian tanpa didada mereka itu. Aneh benar, bahwa orang yang semestinya menghukum dan melarang orang yang bersifat sombong dan berlebihan ini, malah dibiarkan anak, istri, suami memamerkan kesombongan yang tidak pantas. Mereka seharusnya menunjukkan jalan benar yang lain, namun mereka sendiri tidak mau menempuhnya. Setiap wanita dan pria adalah nyonya-nyonya besar dan tuan-tuan besar. Karena itu, 1676, para pendeta yang bertugas menegur jemaat, supaya jangan mempertontonkan kemewahan waktu menghadiri ibadah di gereja. Penjaga ditempatkan di pintu gereja untuk mencegah orang yang tidak mau tunduk. Tetapi, pada masa itu orang memandang ibadah dan perayaan di gereja sebagai kesempatan baik untuk memperlihatkan dan menguatkan status mereka dalam masyarakat. Maka, kalau orang dilarang ikutserta dalam Perjamuan Suci, mereka kadang-kadang pergi ke gereja lain."
........
Salam Injili
Pdt. DR Ronny Mandang, M.Th. - Ketua Majelis Pertimbangann PGLII