Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Pdt. Tommy O. Lengkong, M.Th.
Seperti ada tertulis: "Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!" Tetapi tidak semua orang telah menerima kabar baik itu. Yesaya sendiri berkata: "Tuhan, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami?" Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. (Roma 10:15b-17)
Kita menyadari bahwa yang berperan dalam pemberitaan Injil adalah Roh Kudus. Karena Ia-lah yang menyadarkan manusia akan dosa dan membawa orang untuk percaya kepada Tuhan Yesus dan bertobat. Oleh karena itu ketika kita memberitakan Injil, kita akan menghadapi orang yang berespons untuk percaya kepada Tuhan Yesus atau orang yang tidak berespons atau menolak pemberitaan kita dan tidak mau percaya. Itu sebabnya pada ayat-ayat di atas dikatakan bahwa setelah kabar baik itu sampai kepada mereka yang mendengar, maka tidak semua orang mau menerima kabar baik itu. Namun orang yang mau menyambut kabar baik itu, maka mereka beriman kepada Allah. Iman dari orang-orang yang menyambut kabar baik itu timbul dari mendengarkan Firman Kristus.
Secara alkitabiah, kita pahami bahwa Allah adalah satu-satunya sumber iman dan Firman-Nya adalah dasar iman kita. Tanpa Allah dan Firman Allah, tidak akan pernah ada iman, dan kita pun tidak membutuhkan iman. Sebagaimana hubungan antara Allah dan Firman-Nya, demikian pula seharusnya hubungan iman dengan Firman Tuhan.
Iman selalu berkembang, ketika Roh Allah bekerja dan manusia menanggapi secara koperatif.
Jadi yang pertama, secara sederhana, iman tidak datang dari manusia atau atas inisiatif manusia, juga tidak dapat dilengkapi oleh manusia. Seperti pada ayat 17 di atas, "Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus..." Selanjutnhya dalam Roma 11:36 dikatakan "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" Allah-lah yang pertama memberi kita Firman-Nya, dan Roh Kudus yang bekerja secara khusus untuk membuat kita berbalik kepada Allah dari berhala-berhala untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar. (1 Tes. 1:9).
Namun yang kedua, dari sudut pandang manusia, iman harus dimengerti sebagai tanggapan dan perilaku manusia yang aktual dan apa adanya, terhadap kehadiran Allah melalui pemberitaan Firman-Nya. Tanggapan atau respons dalam iman dapat dilihat dalam 3 cara, yaitu, iman secara intelektual, iman secara perasaan, dan iman secara kehendak. Ketiganya dihasilkan dari pekerjaan Roh Kudus melalui Firman dan pemberitaan Firman serta relevasi/penyataan diri Allah. Firman Tuhan membuka hati manusia dan memperbarui pikiran, sehingga mereka dapat mengenal Allah dan apa yang dinyatakan atau diwahyukan-Nya. Demikianlah, mereka mulai menyadari dan mengetahui kebodohan, ketidak sadaran, kesia-siaan, kebandelan, dan kegelapan keberadaannya. Di bawah pencerahan Roh Kudus dalam pikiran mereka, mereka mulai menyadari kebenaran Firman Tuhan dan merasakan dengan hati tersayat rasa penyesalan yang mendalam akan keberdosaan mereka, kemudian dengan penuh kerelaan dan sukacita mereka menyetujui teguran dari Roh Kudus, dan mereka mengambil keputusan untuk berbalik kepada Allah (lih. Kis. 2:37). Akhirnya, mereka dapat dengan bahagia mempercayakan diri kepada Allah dan Firman-Nya. Kemudian menerima anugerah pengampunan-Nya menuju kelahiran baru untuk memasuki kerajaan dari Anak-Nya yang terkasih (Kolose 1:13).
Betapa berbahagianya kita, karena kita telah beriman kepada Allah melalui Juruselamat kita Tuhan Yesus Kristus. Marilah kita terus mendoakan dan memberitakan Injil kepada mereka yang belum percaya, agar ada di antara mereka yang menjadi percaya.
“Teruslah bersekutu dan memberitakan Injil !”
Pdt. Tommy O. Lengkong, M.th.
Ketua Umum PP PGLII