Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Pdt. Tommy O. Lengkong, M.Th.
Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, (Kisah Para Rasul 2:46)
Dalam catatan Lukas untuk menggambarkan kehidupan gereja mula-mula salah satu di antaranya ia menulis tentang “makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati.” Pada saat ini, beberapa gerejapun mempraktekkan hal ini. Alasan mereka adalah mengikuti teladan gereja mula-mula.
Namun jika memperhatikan kehidupan gereja mula-mula, makan bersama-sama itu disebabkan karena begitu banyak orang percaya mula-mula mengalami kesulitan dan kekurangan, maka gereja mula-mula dalam setiap ibadahnya akan dilanjutkan dengan makan bersama. Sebenarnya hal makan itu berkaitan dengan hidup tiap-tiap orang percaya pada waktu itu. Jika melihat ayat sebelumnya (ayat 45), mereka yang memiliki harta yang berlebih, menjual hartanya lalu hasil penjualannya dibagikan kepada yang lain sesuai dengan kebutuhannya. Jadi makan bersama disini adalah tentang menghargai hak hidup tiap orang. Dalam kehidupan umat Israel dalam Perjanjian Lama, mereka mempraktekkan juga bagaimana menghargai hak hidup orang lain. Contohnya Boas yang menghargai hak hidup Rut, seorang perempuan asing. Dalam Rut 2:14 tertulis, “Ketika sudah waktu makan, berkatalah Boas kepadanya: ‘Datanglah ke mari, makanlah roti ini dan celupkanlah suapmu ke dalam cuka ini.’ Lalu duduklah ia di sisi penyabit-penyabit itu, dan Boas mengunjukkan bertih gandum kepadanya; makanlah Rut sampai kenyang, bahkan ada sisanya.” Salah satu komentar terhadap ayat ini menjelaskan bahwa Boas membagikan makanan kepada Rut, karena ia mau memberikan makanan agar hidup Rut dapat berjanjut. Boas menghargai hak hidup dari Rut.
Lebih kuat lagi, Tuhan Yesus juga mengajarkan bahwa makanan itu berhubungan dengan hidup, sehingga Ia menyebutkan dirinya roti hidup. “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia." (Yoh. 6:51) Hidup yang dimaksudkan Tuhan Yesus adalah hidup yang kekal. Jadi Yesus Kristus memberi teladan, Ia bersedia memberikan hidupnya dengan kematian untuk menghidupkan kita semua.
Jelas bahwa dalam etika Kristen, bahwa tiap orang Kristen wajib menghargai hak hidup orang lain. Solidaritas kemanusiaan terbangun dari konsep etika Kristen. Ketika dalam perumpamaan Tuhan Yesus dalam Lukas 10:25-37 tentang orang Samaria yang baik hati, orang Samaria ini menolong orang Yahudi yang dirampok penyamun supaya tidak mati. Orang Samaria ini menghargai hak hidup orang yang dirampok ini.
Kemarin, ketika membaca postingan Bapak Rhesa Sigarlaki di group WA PGLII Nasional tentang “Anak SD bunuh diri lantaran tak mampu beli buku dan pena, tamparan bagi negara”, dengan caption: “Kejadian yang sangat memprihatinkan di daerah mayoritas Katolik & Kristen. Ketimbang menyalahkan Pemda atau pemerintah pusat, patut ditanyakan dimana gereja? dalam kasus ini nampaknya tidak ada dimana-mana.” Suatu koreksi bagi kehadiran orang-orang Kristen dan gereja masa kini, masihkah kita menghargai hak hidup orang lain?
Demikian pula, ketika kita memberitakan Injil, maka kita juga memikirkan orang lain agar mereka dapat memperoleh hidup, dalam arti hidup yang kekal.
“Teruslah bersekutu dan memberitakan Injil !”
Pdt. Tommy O. Lengkong, M.Th.
Ketua Umum PP PGLII