Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Kabar Baik bagi Seluruh Bumi:
Injil, Keutuhan Ciptaan, dan Panggilan Gereja dalam Perspektif Teologi Kristen
Pendahuluan
Sebagai respons teologis terhadap krisis ekologi global yang semakin mendesak, gereja dipanggil untuk menegaskan kembali bahwa Injil Yesus Kristus adalah kabar baik bukan hanya bagi manusia, tetapi bagi seluruh ciptaan. Dokumen Good News for All the Earth – The Korean Invitation to Respond to the Gospel lahir dari pertemuan Global Creation Care Forum di Gonjiam, Korea Selatan, yang diselenggarakan segera setelah Kongres Lausanne keempat di Incheon (Oktober, 2025). Dokumen ini berdiri dalam kesinambungan dengan warisan teologis kaum Injii/Evangelikal secara global, termasuk Lausanne Covenant, Manila Manifesto, dan Cape Town Commitment .
Tulisan ini berupaya mengartikulasikan sebuah teologi Injil yang holistik, berakar dalam Kitab Suci, yang menghubungkan karya penyelamatan Allah dengan pemeliharaan, pemulihan, dan pembaruan seluruh ciptaan. Dalam kerangka ini, perawatan terhadap ciptaan (creation care) bukanlah isu tambahan, melainkan bagian integral dari iman, pemuridan, dan misi gereja.
1. Allah Tritunggal dan Kebaikan Ciptaan
Allah Tritunggal—Bapa, Anak, dan Roh Kudus—adalah Pencipta dunia yang penuh keindahan, keanekaragaman, dan keterhubungan. Alkitab menyaksikan bahwa seluruh ciptaan dinyatakan Allah sebagai “sungguh amat baik” (Kej. 1:31). Kebaikan ciptaan dan pemeliharaan Allah atasnya merupakan fondasi teologis Injil itu sendiri .
Manusia diciptakan menurut gambar Allah (Kej. 1:26–28), namun juga dibentuk dari debu tanah (Kej. 2:7). Dengan demikian, manusia memiliki identitas ganda: sebagai bagian dari ciptaan yang rapuh dan fana, sekaligus sebagai wakil Allah yang dipanggil untuk mengusahakan dan memelihara bumi (Kej. 2:15). Akan tetapi, sejak awal sejarah manusia, dosa telah merusak relasi dengan Allah, dengan sesama, dan dengan seluruh ciptaan. Kerusakan ekologis pada hakikatnya merupakan manifestasi dari kejatuhan manusia ke dalam dosa yang bersifat relasional dan struktural .
2. Perjanjian Allah dan Kepedulian-Nya terhadap Seluruh Makhluk
Meski dunia jatuh dalam dosa, Allah tidak pernah meninggalkan ciptaan-Nya. Setelah kejatuhan, Allah secara aktif mengikat perjanjian bukan hanya dengan manusia, tetapi juga dengan seluruh makhluk hidup. Perjanjian dengan Nuh secara eksplisit mencakup semua makhluk di bumi (Kej. 9:10–17). Perjanjian-perjanjian berikutnya dengan Abraham dan Israel memperlihatkan perhatian Allah yang berkelanjutan terhadap tanah, hewan, dan keteraturan hidup ekologis .
Hukum Taurat menegaskan keterkaitan antara relasi dengan Allah dan relasi dengan tanah melalui ritme Sabat, Yobel, dan hukum pertanian. Bahkan dalam konteks pembuangan, umat Allah dipanggil untuk menanam, membangun, dan mengupayakan kesejahteraan kota tempat mereka tinggal (Yer. 29:5–7). Para nabi menantikan suatu zaman shalom—pemulihan relasi antara Allah, manusia, dan ciptaan—yang menjadi inti pengharapan eskatologis Israel .
3. Kristologi: Inkarnasi dan Rekonsiliasi Segala Sesuatu
Pusat Injil adalah kasih Allah yang dinyatakan dalam Yesus Kristus. Dalam inkarnasi, Sang Pencipta masuk ke dalam ciptaan (Yoh. 1:14), sehingga dunia materi ditegaskan kembali sebagai sesuatu yang bernilai dan layak ditebus. Yesus memberitakan Injil Kerajaan Allah—kabar baik bagi orang miskin, pembebasan bagi tawanan, pemulihan bagi yang tertindas, dan pengampunan dosa (Luk. 4:18–21).
Melalui kematian Kristus di kayu salib, Allah mengalahkan kuasa dosa dan maut serta mendamaikan segala sesuatu, baik yang di bumi maupun di sorga (Kol. 1:19–20). Dengan demikian, karya keselamatan Kristus memiliki cakupan kosmik. Injil bukan hanya menjanjikan hidup kekal bagi manusia, tetapi juga pengharapan bagi seluruh ciptaan yang terluka dan rusak
4. Pneumatologi dan Panggilan Gereja bagi Ciptaan
Roh Kudus, yang hadir sejak penciptaan dan terus memperbarui muka bumi (Mzm. 104:30; Rm. 8:22), dicurahkan atas para murid dan melahirkan gereja. Gereja dipanggil untuk menjadi tubuh Kristus yang menghadirkan dan memperagakan kabar baik Allah bagi seluruh ciptaan. Oleh karena itu, kepedulian terhadap ciptaan merupakan bagian esensial dari ketaatan kepada Kristus sebagai Tuhan atas segala sesuatu .
Pemeliharaan ciptaan harus terintegrasi dalam pemuridan, ibadah, pengajaran, dan misi gereja. Gereja dipanggil bukan hanya untuk memberitakan Injil, tetapi juga untuk mewujudkan tanda-tanda Kerajaan Allah melalui kehidupan yang memelihara dan memulihkan ciptaan.
5. Eskatologi: Pengharapan akan Ciptaan Baru
Injil juga mencakup janji kedatangan Kristus kembali untuk menghakimi dan menyelamatkan. Alkitab menyaksikan bahwa Allah akan membinasakan mereka yang membinasakan bumi (Why. 11:18). Seluruh ciptaan, yang kini mengeluh karena dosa manusia, akan dibebaskan dari kebinasaan dan diperbarui dalam ciptaan baru (Rm. 8:21; Why. 21:5).
Kebangkitan tubuh Kristus menjadi jaminan kesinambungan antara ciptaan lama dan ciptaan baru. Allah tidak menghapus dunia ini, melainkan memperbaruinya. Dengan demikian, pengharapan Kristen bersifat material, kosmik, dan transformatif .
6. Pertobatan, Pemuridan, dan Respons Praktis Gereja
Kesadaran akan Injil yang bersifat kosmik menuntut pertobatan (metanoia). Krisis ekologi pada dasarnya adalah krisis spiritual yang berakar pada keserakahan, konsumerisme, dan penyempitan pemahaman tentang ketuhanan Kristus. Gereja dipanggil untuk meratapi kerusakan ciptaan dan meresponsnya dengan doa, ketaatan, dan tindakan nyata .
Respons ini mencakup:
Perawatan ciptaan bukan sekadar respons terhadap krisis, tetapi ekspresi utama ketaatan kepada Kristus sebagai Tuhan atas seluruh bumi.
Penutup
Perawatan terhadap ciptaan mencerminkan kualitas relasi kita dengan Sang Pencipta. Gereja dipanggil untuk membuka mata terhadap kesaksian Kitab Suci dan erangan ciptaan, serta untuk memberitakan dan memperagakan Injil sebagai kabar baik bagi seluruh bumi. Dengan berpegang pada Kristus yang bangkit—buah sulung ciptaan baru—umat Allah hidup dalam pengharapan dan kesaksian bahwa Yesus adalah Tuhan atas seluruh ciptaan .
Diterjemahkan dan disadur ke dalam Bahasa Indonesia dari: https://wea-sc.org/wp-content/uploads/2024/12/Good-News-for-All-the-Earth%E2%80%94The-Korean-Invitation-to-respond-to-the-gospel.pdf; dirilis 12 Desember 2025 oleh Sustainability Center dari World Evangelical Alliance. (DR)