Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Pdt. DR Ronny Mandang, M.Th.
AD PGLII Pasal 6 Usaha:
Untuk mencapai Tujuan seperti tersebut di atas, maka PGLII berusaha:
1.Membela dan meneguhkan teologi dan etika Injili sesuai kemurnian asas Injili berdasarkan Alkitab.
Sejak terlibat di PGLII (PII) 1983 dan menjadi bagian Pengurus Pusat PGLII sejak 1990-an, seluruh tokoh Injili, pengurus bahkan anggota, yang berbicara di berbagai forum; Munas, Rapat, Seminar, Simposium selalu menyinggung sikap hidup, jabatan, cara kerja, keuangan, komitmen, pengorbanan, perkawinan, penginjilan, pertumbuhan gereja, politik, pemilu, penerintah, kebangsaan, homoseksual (kemudian dikenal sebagai LGBTQ+) dan sebagainya, dengan bahasa yang sama, yaitu satu suara, suara Injili, yang sesuai dengan nilai-nilai yang dibangun di PGLII dan menjadi ciri serta identitas PGLII. Saya menyebutnya, "PGLII ber-DNA Injili". Akan terjadi penyimpangan, jika PGLII hanya dijadikan alat batu loncatan atau demi tujuan yang tidak sesuai Tujuan dan Usaha PGLII.
Sebagian besar materi dalam bentuk paper, majalah, pokok pikiran dari tokoh-tokoh dan para senior di PGLII tersebut di atas hingga saat ini masih saya simpan dengan baik.
Pernah dalam suatu acara HUT PGLII, seorang tokoh Injili yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum dan Majelis Pertimbangan, karena mendengar pengurus terlibat kampanye politik, dengan keras ia mendesak dilakukan Kongres Luar Biasa PGLII (sejak 2010 disebut Munas). Begitu sensitifnya perhatian terhadap gaya hidup Injili dan tanggung jawab disorot di PGLII, baik oleh anggota maupun para pengurus, sampai Pdt. Dr. Chris Marantika berkali-kali menyebut, "Orang Injili itu seperti hidup dalam rumah kaca".
Pada waktu Maper dan PP PGLII, 2015, diundang ke Istana Merdeka oleh Bapak Presiden, Ir. Joko Widodo, berkaitan dengan kasus tragedi Taolikara, dan setelah selesai memberi penjelasan tentang kronologis tragedi Tolikara, Pak Presiden bertanya, "Seperti Orang Injili itu?"
Pdt. Lipiyus Biniluk yang hadir saat itu menjawab, "Orang Injili hanya punya satu istri (atau satu suami) selama hidupnya; Menjaga kekudusan dalam hidupnya sehari-hari; Tidak merokok; Tidak suka minum minuman keras; Tidak berjudi; Setia kepada ajaran Tuhan Yesus; Setia beribadah;.. dan seterusnya".
Yang menarik, Bapak Presiden mencatat apa yang dikatakan oleh Pdt. Lipiyus. Rasanya (mungkin) belum pernah terjadi Pendeta yang berbicara ke Presiden dan Presiden yang mencatat. Dan nampak tersirat di raut wajah Bapak Presiden beliau nampak nyaman mendengar siapa kaum Injili di PGLII tetsebut. Karena di pertemuan tersebut, hanya ada Bapak Presiden dengan PGLII. Menteri, Sekreraris, Panglima semua tidak diperbolehkan ikut hadir. PGLII bebas berbicara panjang lebar soal tragedi Tolikara dan gaya hidup kaum Injili di PGLII dan Presiden banyak membuat catatan.
Begini, bergabung di PGLII, penting membuktikan gaya hidup sebagai kaum Injili (evangelical) yang sepadan dengan Injil dan mengejawantahkan tanpa kompromi. Membuktikan diri memiliki integritas Injil yang utuh adalah bagian dari Etika Injili dan nilai-nilai yang telah dibangun lebih dari separuh abad. Etika Injili, yang diartikan etika hidup kaum Injili sangat dibutuhkan untuk segera dirumuskan.
Jika etika Injili dan nilai-nilai diabaikan, maka PGLII hanya menjadi lembaga dengan casing Kristen yang kehilangan integritas dirinya sebagai kaum Injili Indonesia.
Salam Injili
Pdt. DR Ronny Mandang, M.Th. - Ketua Majelis Pertimbangan PGLII