Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Pdt. Prof. Dr. Daniel Ronda, Th.M.
Dalam kepemimpinan rohani, salah satu ujian yang paling halus namun tajam adalah ketika seorang pemimpin menjadi bahan pembicaraan alias digosipkan, baik secara langsung maupun di belakang layar. Hampir setiap pemimpin pernah mengalaminya: mendengar laporan tentang apa yang dikatakan orang lain, atau tanpa sengaja menangkap percakapan yang menyinggung dirinya.
Di titik ini, hikmat dari Kitab Pengkhotbah menjadi penting: “Juga janganlah memperhatikan segala perkataan yang diucapkan orang, supaya engkau tidak mendengar pelayanmu mengutuki engkau” - Pengkhotbah 7:21.
Bagi seorang pemimpin rohani, ini bukan anjuran untuk “tidak baper,” melainkan disiplin hati yaitu kemampuan untuk memilah suara mana yang membangun dan mana yang hanya akan menggerogoti panggilan.
Namun, realitasnya tidak sesederhana itu. Kata-kata tetap memiliki daya luka. Kritik yang tidak adil, gosip, atau bahkan fitnah bisa menembus pertahanan batin seorang pemimpin. Kesehatan mental terganggu. Banyak pelayan Tuhan yang secara emosional masih “berdarah” oleh kata-kata dari masa lalu yang belum dipulihkan.
Di sinilah perspektif rohani perlu dikalibrasi ulang:
Pertama, kerendahan hati adalah fondasi kepemimpinan sejati. Charles Spurgeon pernah mengatakan bahwa jika seseorang berpikir buruk tentang kita, kemungkinan realitasnya kita bahkan lebih buruk dari yang ia bayangkan. Bagi pemimpin rohani, ini bukan untuk merendahkan diri secara tidak sehat, tetapi untuk menjaga kesadaran akan natur dosa. Kesadaran ini melindungi kita dari sikap defensif dan membuka ruang untuk refleksi diri yang jujur.
Kedua, kritik itu sekalipun ada yang tidak akurat, dapat menjadi alat pembentukan. Jika seorang pemimpin hanya dikelilingi oleh pujian, ia kehilangan kesempatan untuk melatih pengampunan dan menumbuhkan kerendahan hati. Kepemimpinan rohani yang matang tidak dibentuk oleh afirmasi semata, tetapi juga oleh respons yang benar terhadap ketidakadilan.
Ketiga, integritas menuntut introspeksi. Seorang pemimpin tidak hanya menjadi korban kata-kata orang lain, tetapi juga pelaku dalam banyak kesempatan. Jujur, kita pun pernah melakukannya! Lidah yang sama yang memberkati jemaat, bisa juga melukai sesama. Pengakuan seperti yang diungkapkan nabi Yesaya, “aku ini seorang yang najis bibir” harus menjadi bagian dari spiritualitas seorang pemimpin. Kesadaran ini menjaga hati tetap lembut dan tidak cepat menghakimi.
Dengan demikian, ketika seorang pemimpin rohani mendengar dirinya dibicarakan secara negatif, responsnya bukan reaktif, melainkan reflektif dan redemptif. Ini adalah momen untuk:
1. menumbuhkan kerendahan hati,
2. memeriksa diri dengan jujur,
3. bertobat jika diperlukan,
4. dan mengampuni dengan tulus.
Lebih dalam lagi, ini adalah kesempatan untuk kembali kepada inti pengajaran Injil. Sebagaimana bibir Yesaya disucikan oleh bara dari mezbah, demikian juga kehidupan seorang pemimpin telah disucikan oleh karya Yesus Kristus. Identitas dan kelayakan seorang pemimpin tidak ditentukan oleh opini manusia, melainkan oleh anugerah yang menebus.
Pada akhirnya, kepemimpinan rohani bukan tentang menjaga reputasi tanpa cela di hadapan manusia, tetapi tentang kesetiaan di hadapan Allah, bahkan ketika suara-suara di sekitar tidak selalu adil atau benar.
Pdt. Prof. Dr. Daniel Ronda, Th.M. - Sekretaris Umum PP PGLII