• Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510

Pdt. Tommy O. Lengkong, M.Th.

HEAVENLY WORSHIP: TERSUNGKUR DAN MENYEMBAH ANAK DOMBA ALLAH

 

Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus. (Wahyu 5:8)

 

Melanjutkan perenungan kemarin, Wahyu pasal 5, ketika Tuhan Yesus Kristus, Anak Domba datang ke takhta Allah menerima gulungan kitab itu dari tangan kanan Allah, terjadi penyembahan surgawi (heavenly worship). Keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua tersungkur di hadapanNya. Istilah “tersungkur” (Yun: “pipto”) dapat diartikan “tersungkur sebagai tanda penyembahan” (fall down as a sign of devotion). Pengertian ini searah dengan Wahyu 5:14b, dimana kata “tersungkur” berpasangan dengan kata “menyembah” (Yun: “proskuneo”). “…. Dan tua-tua itu jatuh tersungkur dan menyembah.

Penerimaan gulungan kitab yang akan dibuka oleh Anak Domba menyebabkan suatu penyembahan surgawi. Ibadah surgawi adalah “Ibadah Yang Berpusat Pada Anak Domba” (Lamb-Centered Worship). Anak Domba adalah fokus utama, karena Ia layak membuka gulungan kitab sebagai sang “Omnipotent” dan “Omniscient”. Anak Domba disembah bersama Allah Bapa, karena Ia “co-equal” dengan Allah Bapa.

Kecapi, cawan emas dan kemenyan adalah alat-alat yang biasa digunakan dalam ibadah di Bait Suci. Kecapi adalah alat untuk mengiringi nyanyian (1 Taw. 25:1,6), cawan emas adalah alat untuk meletakkan kemenyan (2 Taw. 4:22). Asap kemenyan melambangkan doa-doa orang-orang kudus. (Wah. 8:3; Maz. 141:2) Ke-empat makhluk dan para tua-tua menyembah Anak Domba dengan nyanyian yang diiringi oleh kecapi dan sementara itu doa-doa orang kudus naik ke hadapan hadirat Allah.

 

Ibadah surgawi dalam kitab Wahyu ini seharusnya menjadi referensi ibadah-ibadah yang dilakukan oleh gereja milik Kristus saat ini. Sifat ibadah surgawi adalah bukanlah ibadah “berpusat pada manusia” (man-centered) tetapi “ibadah berpusat pada Allah” (God-Centered). Semua hal yang fokus kepada, yang penting untuk dan yang menyenangkan bagi manusia tidak menjadi tempat utama dalam ibadah. Ibadah seharusnya tidak mengutamakan subyektif manusia, yang berfokus pada penikmatan pengalaman manusiawi dan tidak berfokus kepada Pribadi Allah yang disembah. Ibadah seharusnya tidak berbasis humanis dimana Allah disembah dalam perspektif antropologis, sehingga sangat mengedepankan secara imaginatif Allah itu yang mahakuasa, maka Allah yang demikian akan senantiasa bertemu dengan kebutuhan manusia. Ibadah yang seharusnya tidak cenderungan kepada psykologisme, dimana praktek ibadah seperti “terapi psikologis” yang dikaitkan dengan sentuhan kebutuhan dasar utama manusia. Ibadah yang prakteknya bukanlah bernuasa konsumerisme, dimana tujuan pelayanan cenderung untuk memberikan jemaat apa yang mereka butuhkan dan apa yang dapat mempengaruhi mereka agar membayar kewajiban mereka. Pelaksanaan suatu ibadah seharusnya tidak dilatar-belakangi dengan pemikiran pragmatis bahwa hasil dari pelayanan itu menjadi ukuran untuk membenarkan segala ide dan tindakan-tidakan yang dilakukan dalam ibadah. Contohnya, asal ibadah itu membuat banyak orang datang atau menambah jumlah pemasukan gereja.

Hal yang seharusnya ada dalam setiap ibadah kekinian adalah seperti ke-empat makhluk dan para tua-tua menyembah Anak Domba dengan jatuh tersungkur dan menyembah. Marilah kita menyembah Allah dalam roh dan dalam kebenaran!

 

“Teruslah bersekutu dan memberitakan Injil !"

Pdt. Tommy O. Lengkong, M.Th. - Ketua Umum PP PGLII


ID EN