Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Pdt. Prof. Dr. Daniel Ronda, Th.M.
Banyak pemimpin berpikir bahwa krisis terbesar dalam kepemimpinan adalah konflik, kritik, pengkhianatan, atau kelelahan pelayanan (burn out). Padahal sering kali semua itu hanyalah permukaan. Akar terdalamnya adalah ketika hati secara perlahan kehilangan kepekaan untuk mendengar suara Tuhan.
Bila melihat catatan Firman Tuhan, Bangsa Israel jatuh bukan pertama-tama karena mereka lemah, tetapi karena mereka menutup telinga terhadap firman Allah. Ketidakpercayaan lahir ketika hati berhenti mendengar. Dan seorang pemimpin dapat tetap aktif melayani, sibuk bekerja, bahkan terlihat berhasil, tetapi diam-diam kehilangan arah karena tidak lagi memiliki ruang untuk mendengar Tuhan.
Di tengah situasi itu, doa Salomo menjadi sangat menyentuh. Ketika Tuhan memberinya kesempatan meminta apa saja, Salomo tidak meminta kekayaan, kekuasaan, atau umur panjang. Ia meminta “lev shomea”, hati yang mendengar (1 Raja-Raja 3:9).
Sebuah doa yang sederhana, tetapi sangat dalam. Salomo memahami bahwa sebelum seorang pemimpin mampu berbicara kepada banyak orang, ia harus terlebih dahulu mampu mendengar Tuhan. Sebab kepemimpinan sejati tidak lahir dari ego yang kuat, melainkan dari hati yang lembut.
“Lev shomea” adalah hati yang tetap terbuka. Hati yang mau diajar. Hati yang tidak terlalu penuh dengan suara diri sendiri. Hati yang rela berhenti sejenak di tengah kesibukan untuk mendengar apa yang Tuhan kehendaki.
Sering kali masalah terbesar pemimpin bukan kurangnya kemampuan, melainkan hati yang terlalu bising. Bising oleh ambisi, tekanan, pencitraan, kekecewaan, dan keinginan untuk selalu benar. Akibatnya, suara Tuhan perlahan menjadi samar.
Pemimpin yang sehat bukanlah mereka yang selalu memiliki jawaban tercepat, tetapi mereka yang tetap memiliki kepekaan rohani. Mereka tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga setia mendengar.
Hari ini, Tuhan tidak terutama mencari pemimpin yang hebat di mata manusia. Tuhan mencari hati yang mendengar. Hati yang memiliki “dua telinga besar” untuk mendengar firman-Nya, menerima koreksi-Nya, dan mengikuti arah-Nya.
Karena itu, sebelum memimpin orang lain, berhentilah sejenak dan tanyakan pada diri sendiri: Apakah hati saya masih mendengar Tuhan?
Bali, 14 Mei 2026
Pdt. Prof. Dr. Daniel Ronda, Th.M - Sekretaris Umum PP PGLII