Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Pdt. DR Ronny Mandang, M.Th.
Roma 15:6 (TB2) sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus.
Pemimpin Kristen di Indonesia seringkali berbeda, bukan saja karena perbedaan denominasi gereja atau prinsip berteologi yang dipegang ketat, tetapi juga karena adanya tujuan dan kepentingan yang berbeda, meski itu demi kebenaran dan hak sebagai anak bangsa kerap sulit satu hati dan satu suara.
Suatu contoh, ketika marak terjadi penutupan atau pelarangan umat Kristen berkumpul untuk berdoa dan beribadah, dengan alasan tidak mengantongi ijin. Suara Kristen terpecah, sebagian membela umat yang dianggap mengalami ketidakadilan, sebagian menyetujui ditutup karena harus memiliki ijin.
Ketika kalender libur nasional yang direncanakan nama Isa Almasih harus segera diganti menjadi nama Yesus Kristus karena sesuai isi Alkitab, sebagian suara Kristen setuju sebagian menolak.
Begitu juga, ketika Pak Jusuf Kala (JK) mengatakan "Islam dan Kristen berpendat membunuh adalah sahid", suara Kristen terpecah belah. Sebagian mengatakan Pak JK benar, sebagian bilang Pak JK telah menciderai Kekristenan. Ada umat Kristen yang melaporkan Pak JK ke kepolisian, tetapi ada juga yang datang ke rumah Pak JK untuk beri dukungan.
Sangatlah wajar ketika suatu argumen dikemukakan, bahwa perbedan adalah suatu keniscayaan yang justru menjadi kekayaan bagi gereja dan lembaga Kristen di Indonesia. Sah-sah saja.
Namun bukankah ketika muncul isu-isu keagamaan yang viral atau ketika menghadapi isu-isu politik seperti Program Strategis Nasional (PSN) di Papua, yang berdampak tersingkirnya masyarakat adat Orang Asli Papua dan tanah Injili yang sudah menjadi miliknya bahkan sebelum Indonesia merdeka. Atau terus menerusnya dilakukan pengiriman pasukan nor organik ke Papua, suara Kristen yaitu suara gereja-gerja dan lembaga-lembaga Kristen tidak selalu bulat sepakat.
Jika suara Kristen di Indonesia tidak pernah bulat suara untuk hal keagamaan dan politik, maka selama itu Kristen dianggap sebagai kelompok yang indekost di Indonesia. Rasul Paulus terus menerus menekankan satu hati dan satu suara menjadi sangat penting, karena dari situ tercipta suatu kekuatan yang terbuka.
Salam Injili
Pdt. DR Ronny Mandang, M.Th. - Ketua Majelis Pertimbangan PGLII