• Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510

Pdt. DR Ronny Mandang, M.Th.

GUNAKAN AKAL IMITASI, MENGKHIANATI NATUR SEBAGAI MANUSIA, HIKMAT DAN PERAN ROH KUDUS(I)

 

Roma 11:33 (TB2) *O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat, dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!

 

"Teknologi Akal Imitasi telah membuat masyarakat tidak memiliki pilihan lain"

 

Ada dua buku yang menarik, buku "Matinya Kepakaran - The Death of Expertise", Tom Nicholes. Buku ini saya peroleh atas saran Pdt. Rhesa Sigarlagi saat bertemu di Jakarta, "Pak Ronny perlu membaca buku itu". Dan buku "Neksus" - Riwayat Jejaring Informasi, dari Zaman Batu ke Akal Imitasi, Yufal Noah Harari, buku yang saya beli karena letaknya berdempetan dalam satu rak toko buku dengan "Matinya Kepakaran".

 

Di buku "Neksus" Google VS Goethe, hal XX, Harari menyebut:

 

"Teknologi informasi paling penuh kuasa dalam sejarah - yaitu Akal Imitasi (AI). Sejumlah pengusaha Amerika, termasuk Marc Andreesen, percaya bahwa Akal Imitasi pada akhirnya akan memecahkan semua masalah umat manusia. Andreesen menerbitkan esai berjudul "Why AI Will Save the World" - "Mengapa AI Akan Menyelamatkan Dunia" yang bertaburkan pernyataan-pernyataan gagah, "Saya di sini membawa kabar baik: AI tidak akan menghancurkan dunia, dan malah mungkin menyelamatkannya" dan "AI dapat membuat segala sesuatu yang bermakna bagi kita menjadi lebih baik". Katanya, "Pengembangan dan proliferasi AI - jauh dari resiko yang kita patut takuti - adalah kewajiban moral yang kita bagi diri kita sendiri dan bagi anak-anak kita, dan bagi masa depan kita."

 

Masih Harari, juga Ray Kurswell, dalam The Singularity Is Near mengajukan bahwa, "AI adalah teknologi kunci yang akan memungkinkan kita menjawab tantangan-tantangan medesak di hadapan kita, termasuk mengatasi penyakit, kemiskinan, kerusakan lingkungan, dan segala kelemahan kita sebagai manusia. Kita memiliki kewajiban moral untuk mewujudkan janji teknologi-teknologi baru ini." 

 

Banyak pakar AI dan pengusaha terkemuka seperti Yoshua Bengio, Geoffrey Hinton, Sam Altman, Elon Musk, telah memperingatkan masyarakat, " bahwa AI bisa menghancurkan peradaban kita" dan "bahwa kemajuan AI yang tidak terkendali bisa berpuncak kepada kemusnahan skala besar mahluk hidup dan biosfer, dan marjinalisasi atau bahkan kepunahan umat manusia."

 

Pada tahun 2023, hampir tiga puluh pemerintahan, termasuk pemerintahan Tiongkok, Amerika Serikat, dan Britania Raya menandatangani "Deklarasi Bletchley mengenai AI", yang mengakui bahwa "ada potensi bahaya serius, bahkan bencana, baik disengaja maupun tidak disengaja, yang berakar dari kemampuan-kemampuan paling signifikan dari model-model AI ini." 

 

Kuasa AI dapat secara besar-besaran mengompori berbagai konflik manusia yang sudah ada, memecah belah umat manusia. Sebagaimana abad ke-20 "Tirai Besi"  memisahkan kekuatan-kekuatan yang bersaing dalam Perang Dingin, maka pada abad ke-21 "Tirai Silikon" - terbuat dari chip silikon dan kode komputer, bukan lagi kawat berduri - bisa jadi memisahkan kekuatan-kekuatan yang bersaing dalam konflik global. Oleh karena perlombaan senjata AI akan menghasilkan senjata-senjata yang makin besar daya rusaknya, percikan api kecil sekalipun bisa menyulutkan kebakaran mahadahsyat."

 

Cuplikan di atas ini dari buku "Neksus" sangat perlu dicermati secara serius. Karena akan menimbulkan suatu pertanyaan awal, "dimana peran agama dan khususnya teologi terhadap Akal Imitasi?" "Apakah teologi yang dapat menghadapi Akal Imitasi ataukah sebaliknya justru Akal Imitasi lah yang kini dipandang sebagai jalan cepat mencapai surga?" ....

 

Salam Injili

Pdt. DR Ronny Mandang, M.Th. - Ketua Majelis Prrtimbangan PGLII


ID EN