Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Pdt. Tommy O. Lengkong, M.Th.
“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” (Mazmur 119:105)
Bagi orang Yahudi pada masa Pemazmur, perjalanan malam itu adalah perjalanan yang berbahaya. Selain gelap karena kurang penerangan, jalan-jalan itu berbatu, ada semak duri dan tidak sedikit di kiri atau kanan jalan-jalan ada jurang. Kemungkinan juga rawan penyamun dan binatang buas. Oleh karena itu, pelita menjadi sangat penting. Pelita dapat menghindarkan dari bahaya. Pelita tidak menerangi seluruh perjalanan sekaligus, tetapi cukup memberi terang untuk satu langkah demi satu langkah. Pemazmur memakai ilustrasi pelita untuk menjelaskan bahwa firman Tuhan menuntun hidup, memberi arah, dan melindungi manusia dari kesesatan. Itu sebabnya ia mengatakan, “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Menurut pemazmur, Taurat atau Firman Tuhan itu bukanlah suatu pembatasan atau hal yang membebani dirinya, tetapi hal yang sangat penting dan sangat dibutuhkan sebagai pemberi arah, penuntun dan yang menjaga supaya tidak terjatuh dalam dosa. Ia sangat mempercayai bahwa manusia tanpa Firman Tuhan akan menuju kepada bahaya dan kehancuran.
Jika kita merefleksikan perenungan kita dengan kekinian kita di era informasi dan media sosial ini, bahaya yang kita hadapi adalah kesesatan informasi. Kita hidup di era yang penuh informasi, tetapi miskin arah. Setiap hari kita dibanjiri opini, berita, konten media sosial, motivasi yang hanya memuaskan ego, dan berbagai disinformasi.
Dalam kondisi ini, masyarakat lebih mudah mempercayai informasi yang didasarkan pada emosi dan keyakinan pribadi daripada data yang terverifikasi. Emosi mengalahkan logika. Sebaran informasi yang memicu kemarahan, simpati, atau ketakutan lebih cepat diterima daripada data ilmiah atau fakta logis. Masyarakat cenderung mencari informasi yang memvalidasi (membenarkan) keyakinan yang sudah ada dalam pikiran mereka sebelumnya, daripada mencari kebenaran yang objektif. Saat ini perang antara Membenarkan Keyakinan vs Kebenaran. Arus informasi di media sosial sering kali dimanfaatkan untuk menyebarkan hoaks atau informasi yang diframing secara manipulatif demi kepentingan tertentu. Akibatnya, banyak orang bingung menentukan mana yang benar dan mana yang salah, serta mana yang bijaksana dan mana yang menyesatkan. Akhirnya, orang memilih berdasarkan perasaan, tren, dan tekanan massif opini media, sehingga pilihan-pilihan tanpa standar kebenaran dan akhirnya tersesat. Berikutnya, mereka mengalami kekosongan dalam jiwa, kehilangan tujuan hidup, depresi, dan mengalami krisis identitas.
Namun, bagi kita yang hidup di dalam Tuhan Yesus, kita seharusnya tidak kehilangan arah dan tersesat, karena kita hidup dan berjalan dengan Firman Tuhan. Sama seperti pemazmur berkata: “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Demikian pula kita berpegang pada perkataan Paulus kepada Timotius: “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik. (2 Tim. 3:16-17)
Marilah dalam segala sesuatu kita mengutamakan Firman Tuhan dalam kehidupan kita.
“Teruslah bersekutu dan memberitakan Injil !”
Pdt. Tommy O. Lengkong, M.Th. - Ketua Umum PP PGLII