• Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510

Pdt. Tommy O. Lengkong, M.Th.

MENGHADAPI PENYESATAN HAMBA-HAMBA TUHAN HARUS TERUS KEMBALI KEPADA ALKITAB

 

“… dan banyak orang akan murtad dan mereka akan saling menyerahkan dan saling membenci. Banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang. (Matius 24:10-11)

 

Di zaman akhir ini, mungkin kita terfokus bahwa kebencian, penolakan bahkan penganiayaan adalah hal-hal yang menjadi tantangan terkuat bagi orang beriman. Namun, dalam teks ayat di atas yang menjadi ancaman bagi orang beriman adalah penyesatan dari dalam. Istilah “menyesatkan” (Yun: planaō) dapat diartikan sebagai menyimpangkan orang menjauh dari kebenaran. Dalam kehidupan masyarakat Yahudi pada waktu itu, nabi palsu bukanlah fenomena baru. Dalam PL, umat Israel sering disesatkan oleh orang-orang yang mengaku berbicara atas nama Tuhan tetapi sebenarnya membawa kepentingan pribadi. Salah satu contoh tertulis dalam kitab Yeremia: “Lalu aku berkata: ‘Aduh, Tuhan ALLAH! Bukankah para nabi telah berkata kepada mereka: Kamu tidak akan mengalami perang, dan kelaparan tidak akan menimpa kamu, tetapi Aku akan memberikan kepada kamu damai sejahtera yang mantap di tempat ini!’ Jawab TUHAN kepadaku: ‘Para nabi itu bernubuat palsu demi nama-Ku! Aku tidak mengutus mereka, tidak memerintahkan mereka dan tidak berfirman kepada mereka. Mereka menubuatkan kepadamu penglihatan bohong, ramalan kosong dan tipu rekaan hatinya sendiri.’” (Yer. 14:13-14)

 

Pada ayat-ayat di atas Tuhan Yesus memberi peringatan bahwa penyesatan akan semakin meningkat menjelang akhir zaman. Kita menyadari bahwa di dunia masa kini kita hidup dalam era banjir informasi. Media sosial membuat siapa saja bisa menjadi: pengajar, influencer, penggagas opini, bahkan hingga menjadi “guru rohani.” Kemudian, penyesatan bertambah runyam ketika para netizen sering cepat percaya tanpa memeriksa kebenaran dan cepat menyebarkan tanpa memahami isi yang sesungguhnya. Akibatnya, ajaran-ajaran yang sesat bisa menjadi lebih viral daripada ajaran kebenaran. Penyesatan dapat berupa: pengajaran rohani yang manipulatif; nubuat-nubuat sensasional; janji berkat tanpa pertobatan; spiritualitas instan tanpa salib; dlsb. Hal-hal demikian dapat dikatakan penyesatan oleh nabi-nabi palsu.

 

Menghadapi berbagai hal seperti di atas, para hamba Tuhan harus terus kembali kepada Alkitab. Pemberitaan kita harus terus-menerus dilakukan sebagai hasil dari perenungan, penggalian, pendalaman teks-teks Alkitab yang memadai. Tentu semua dilakukan dengan membuka hati pada pimpinan Roh Kudus.

 

Marilah kita terus mengingat apa yang disampaikan Paulus: “Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, … dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan. (Ef. 5:8b, 10)

 

“Teruslah bersekutu dan memberitakan Injil!”

Pdt. Tommy O. Lengkong, M.Th. - Ketua Umum PP PGLII


ID EN