• Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510

Pdt. Tommy O. Lengkong, M.Th.

JANGANLAH HANYA INGIN PUAS TETAPI TAATLAH DENGAN SEPENUH HATI

 

Oleh sebab itu, berikanlah kepadaku pegunungan, yang dijanjikan TUHAN pada waktu itu, sebab engkau sendiri mendengar pada waktu itu, bahwa di sana ada orang Enak dengan kota-kota yang besar dan berkubu. Mungkin TUHAN menyertai aku, sehingga aku menghalau mereka, seperti yang difirmankan TUHAN." Lalu Yosua memberkati Kaleb bin Yefune, dan diberikannyalah Hebron kepadanya menjadi milik pusakanya. Itulah sebabnya Hebron menjadi milik pusaka Kaleb bin Yefune, orang Kenas itu, sampai sekarang ini, karena ia tetap mengikuti TUHAN, Allah Israel, dengan sepenuh hati. (Yosua 14:12-14)

 

Dalam ketaatan dengan sepenuh hati kepada Tuhan, Kaleb kontras dengan sebagian besar orang Israel lainnya pada masa bangsa Israel memasuki tanah Kanaan. Ketika pembagian wilayah bagi suku-suku bangsa Israel, Kaleb diberikan Hebron dan mengusir orang-orang Enak dari negeri itu. Hal ini sesuai dengan tekad Kaleb, bahwa jika pegunungan, yakni Hebron yang didiami orang-orang Enak diberikan kepada Kaleb, maka oleh penyertaan Tuhan, ia akan “menghalau” mereka. (ay. 12) Istilah “menghalau” dari kata Ibrani “yarash” (dalam ayat ini digunakan dalam bentuk hiphil) berarti merampas, mengusir, dan mengambil alih. Jadi Kaleb dan bani Yehuda merampas dan mengusir orang-orang Enak dari Hebron dan mengambil alih sepenuhnya daerah itu. Orang-orang Enak tidak lagi tinggal di Hebron sejak Kaleb menghalau mereka. Hebron menjadi milik pusaka bani Yehuda.

 

Sayangnya, suku-suku lain dari bangsa Israel tidak sepenuhnya mengusir orang-orang asli Kanaan seperti yang dilakukan Kaleb. Padahal tanah itu telah menjadi milik mereka dan kekuatan orang Kanaan telah hancur. Mereka tidak sepenuhnya menguasai kepemilikan tanah Kanaan yang telah diberikan Tuhan kepada mereka.

 

Mengapa demikian? Jawaban sederhananya: mereka tidak taat kepada Tuhan dengan sepenuh hati, seperti yang dilakukan Kaleb. Mungkin mereka lelah bertarung dan mereka merasa puas karena telah memiliki tanah pusaka mereka sendiri. Mereka membiarkan orang-orang asli Kanaan yang tersisa di tanah pusaka mereka. (Bd. Hakim-Hakim 3:1-6) Dan ternyata di kemudian hari orang-orang Israel mengikat perjanjian dan mereka kawin-mengawin dengan orang-orang Kanaan. Orang-orang Israel juga beribadah kepada ilah-ilah mereka. Orang-orang asli di Kanaan ini kemudian menjadi musuh bangsa Israel.

 

Mereka seharusnya tidak puas karena tidak menuntaskan tugas mereka menghalau orang-orang Kanaan itu. Hal itu terlihat, ketika Yosua menjadi tua, ternyata masih banyak wilayah yang belum dikuasai suku-suku Israel. “Setelah Yosua menjadi tua dan lanjut umurnya, berfirmanlah TUHAN kepadanya: ‘Engkau telah tua dan lanjut umur, dan dari negeri ini masih amat banyak yang belum diduduki.’” (Yos. 13:1)

 

Dari kehidupan Kaleb dan bangsa Israel, kita belajar bahwa hal yang utama adalah ketaatan sepenuh hati kepada Tuhan, sehingga kita terus bertekad menuntaskan tugas dan tanggung jawab kita. Janganlah dalam mengikuti Tuhan Yesus kita hanya ingin puas dengan berkat-berkat yang kita alami. Mungkin sama seperti Kaleb, ada saat-saat ia merasa cukup lelah, tetapi dia tidak putus asa; dia menatap Tuhan untuk menuntaskan tugas dan tanggung jawabnya. Dan akhirnya Tuhan memberinya kemenangan.

 

Marilah dengan mata kita tertuju pada Juruselamat, Tuhan Yesus Kristus, kita menuntaskan tugas dan tanggung jawab kita, di antaranya menjadikan segala bangsa murid Tuhan Yesus.

 

“Teruslah bersekutu dan memberitakan Injil!”

Pdt. Tommy O. Lengkong, M.Th. - Ketua Umum PP PGLII


ID EN