• Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510

Pdt. DR Ronny Mandang, M.Th.

KEMATIAN MUSA, KISAH YANG PALING MENYENTUH HATI DI SELURUH ALKITAB

 

Ulangan 34:6 (TB2)  Dia menguburkannya di suatu lembah di tanah Moab, berhadapan Bet-Peor, dan tidak ada orang yang tahu kuburnya sampai hari ini.

 

Saat Musa berusia 120 tahun, Tuhan membawa Musa naik ke atas Gunung Nebo (Jordania), ke puncak Pisga, dan memperlihatkan Tanah Kanaan kepadanya. Hati Musa tentu berkecamuk saat melihat Tanah Kanaan karena ia sendiri tidak diijinkan memasukinya.

 

Benarkah Musa tidak memasuki Kanaan karena peristiwa di Meriba, Musa memukulkan tongkatnya ke bukit batu dua kali lalu keluarlah air. Padahal yang Tuhan perintahkan "cukup katakan saja air akan keluar"?

 

Musa tidak memasuki Tanah Kanaan bukan semata adanya kemarahan Tuhan, karena Musa adalah pemimpin yang telah membawa Israel keluar dari Mesir selama 40 tahun. Lawan Musa adalah bangsanya sendiri yang ia pimpin, tetapi juga menghadapi Raja-raja Padang Gurun. Musa juga telah menjaga dan mengawal janji Tuhan atas keturunan suatu bangsa kepada Abraham, Ishak dan Yakub. Sebab itu, karena Tuhan sayang pada Musa yang telah berusia 120 tahun, Ia tidak mengijinkan Musa harus berperang lagi melawan Raja-raja di Tanah Kanaan. Tuhan mau, Musa pelayan setia yang telah dipilih-Nya dari pelariannya 40 tahun di Midian, meninggalkan dunia ini tanpa beban apa pun.

 

Mengapa hanya Musa sendirian dengan Tuhan jelang kematiannya? Jawabnya, karena Tuhan tidak ingin membiarkan Musa mati dengan membawa rasa bersalah dan kegagalan dari kepemimpinannya. Oh, Tuhan tahu Musa tidak sempurna namun ia tetap setia. Ada penghiburan dan pujian dari Tuhan kepada Musa, selain mengawal perjanjian keturunan Abraham, Ishak dan Yakub, Tuhan juga berbicara secara pribadi kepada Musa seperti Ayah dengan Anak - yaitu Tuhan telah melupakan semua kegagalan Musa.

 

Tuhan mau Musa mati dengan damai dan perasaan yang lega - jauh dari rasa bersalah apalagi menganggap dirinya gagal sehingga ia dilarang memasuki Tanah Kanaan.

 

Simaklah, setelah Tuhan berbicara dengan Musa, Tuhan lah yang mendampingi kematian Musa, dan Tuhan juga yang menguburkannya. Tidak seorang pun yang hadir dan tahu tempat kematian Musa. Inilah kisah kematian yang paling menyentuh hati yang dicatat Alkitab, bahwa Tuhan justru yang memberi penghiburan dan mendampingi orang yang Ia kasihi.

 

Kisah kematian Musa telah menginspirasi, bahwa penting sekali hidup taat dan setia kepada Tuhan Yesus, bahkan setia melayani meski jatuh bangun, berhasil atau gagal, tetapi tetap setia bersama Tuhan. Dan berharap, saat kematian tiba, terjadi kepada siapa pun, hanya Tuhan Yesus yang bersamanya dan memandunya memasuki kekekalan.

 

Salam Injili

Pdt. DR Ronny Mandang, M.Th. - Ketua Majelis Pertimbangan PGLII


ID EN