Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Pdt. Tommy O. Lengkong, M.Th.
Kuatkanlah benar-benar hatimu dalam memelihara dan melakukan segala yang tertulis dalam kitab hukum Musa, supaya kamu jangan menyimpang ke kanan atau ke kiri, dan supaya kamu jangan bergaul dengan bangsa-bangsa yang masih tinggal di antaramu itu, serta mengakui nama allah mereka dan bersumpah demi nama itu, dan beribadah atau sujud menyembah kepada mereka. Tetapi kamu harus berpaut pada TUHAN, Allahmu, seperti yang kamu lakukan sampai sekarang. (Yosua 23:6-8)
Ini adalah bagian dari pidato perpisahan Yosua kepada para pemimpin Israel, supaya mereka jangan beribadah dan sujud menyembah kepada allah-allah bangsa lain, selain mereka hanya berpaut/beribadah dan sujud menyembah kepada TUHAN, Allah mereka.
Yosua sangat konsern dengan hal beribadah, sehingga dalam pasal 24:15, Yosua menegaskan bahwa ia dan seisi rumahnya akan konsisten beribadah kepada TUHAN.
Istilah ibadah dalam PL, digunakan dengan dua istilah yaitu beribadah dan sujud menyembah. Kedua istilah ini berasal dari 2 kata Ibrani, “aboda” dan ““hisytakhawa” (derivat dari shachah).
“Aboda” (persamaannya dengan kata Yunani “latreia”) secara orisinil berarti pekerjaan atau pelayanan para budak atau hamba-hamba upahan kepada tuan mereka. Ketika istilah ini dikaitkan dengan ibadah kepada TUHAN, hal ini berarti melayani dan memuji TUHAN secara aktif. Inisiatif untuk melayani dan memuji TUHAN secara aktif ini timbul karena TUHAN telah menyatakan diri-Nya, dan umat-Nya menjawab dengan melayani, berbakti dan memuji TUHAN.
“Hisytakhawa” (persamaannya dengan kata Yunani “proskuneo”) secara literal berarti menunduk atau membungkuk atau sujud. Hal ini berkaitan dengan suatu ungkapan sikap rasa takut, penuh hormat, penuh kekaguman dan ketakjuban kepada yang disembah. Ketika istilah ini dikaitkan dengan ibadah kepada TUHAN, hal ini berarti umat Allah/orang-orang percaya mengeskpresikan rasa takut, penuh hormat, penuh kekaguman dan ketakjuban kepada TUHAN yang melebih diri mereka dan di atas segala sesuatu, sehingga mereka menyembah TUHAN. Maka mereka tidak lagi untuk menyenangkan diri mereka sendiri, tetapi dengan bulat hati menyenangkan TUHAN.
Dalam pelayanan gereja, persekutuan, pengajaran, doa syafaat, melayani adalah berkaitan dengan relationship satu dengan yang lain dalam komunitas, penginjilan dan misi adalah terarah kepada dunia ini, tetapi beribadah adalah seharusnya hanya terpusat kepada TUHAN (God-centered) bukan kepada manusia (man-centered). Beribadah seharusnya dalam tiga aspek: (1) hanya kepada TUHAN semata (toward God), (2) hanya tentang TUHAN semata (about God), (3) hanya untuk TUHAN semata (for God).
Menguji suatu pelayanan dalam ibadah yang benar adalah dengan pertanyaan apakah ibadah itu terpusat kepada Tuhan Yesus atau tidak? Apakah dalam pemberitaannya memberitakan tentang Tuhan Yesus atau tidak?
“Teruslah bersekutu dan memberitakan Injil !”
Pdt. Tommy O. Lengkong, M.th.
Ketua Umum PP PGLII