Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Pdt. Prof. Dr. Daniel Ronda
Dalam kepemimpinan rohani, transisi kepemimpinan yang baik menunjukkan tanda sehatnya sebuah organisasi. Pergantian pemimpin bukan sekadar perubahan struktur, melainkan proses spiritual dan psikologis yang menentukan apakah sebuah organisasi sungguh percaya pada keberlanjutan panggilan Allah melampaui pengandalan atas satu figur tertentu. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa transisi sering kali tidak berjalan mulus. Salah satu fenomena yang paling umum namun jarang dibahas secara terbuka adalah munculnya “shadow leadership”, yaitu kepemimpinan bayangan yang dijalankan oleh pemimpin lama setelah secara formal tidak lagi menjabat.
“Shadow leadership” merujuk pada praktik kepemimpinan tidak resmi yang dilakukan oleh individu yang sudah tidak memiliki mandat struktural, tetapi masih dan atau ingin tetap memegang pengaruh kuat terhadap arah, keputusan, dan dinamika organisasi. Pengaruh ini tidak dijalankan melalui jabatan, melainkan melalui relasi personal, sejarah kepemimpinan, otoritas kependetaan, atau legitimasi spiritual yang masih diakui oleh anggota dalam komunitas. Akibatnya, meskipun pemimpin baru telah ditetapkan secara sah, kepemimpinannya menjadi tidak jelas karena masih ada figur lain yang “mengatur dari belakang layar”.
Dalam konteks kepemimpinan rohani, “shadow leadership” sering kali sulit dikenali karena dibungkus dengan bahasa iman. Intervensi yang bersifat kontrol kerap disamarkan sebagai kepedulian, nasihat rohani, atau upaya menjaga kemurnian visi. Pada titik inilah perbedaan antara mentoring yang sehat dan “shadow leadership” menjadi krusial. Mentoring yang sehat bersifat diminta, berbatas jelas, dan bertujuan memperkuat otoritas pemimpin baru. Sebaliknya, “shadow leadership” bersifat sepihak, tidak memiliki batas peran yang tegas, dan justru ingin terus menciptakan ketergantungan.
Secara psikologis, fenomena ini sering berakar pada identitas diri yang terlalu melekat pada jabatan. Banyak pemimpin rohani membangun makna hidup dan rasa berharga melalui peran kepemimpinan yang mereka jalani bertahun-tahun. Ketika jabatan dilepas, yang hilang bukan hanya posisi, tetapi juga harga diri. Ahli kepemimpinan menyebut kondisi ini sebagai krisis integritas diri, di mana sang pemimpin gagal berdamai dengan perubahan peran dan kemudian jatuh pada keputusasaan dan kebutuhan untuk mempertahankan kuasa. Dalam situasi ini, keinginan mengatur pemimpin baru menjadi cara mempertahankan identitas lamanya.
Kebutuhan akan kontrol juga memainkan peran besar. Pemimpin yang lama berada di pusat pengambilan keputusan akan mengalami kecemasan ketika kontrol tersebut berpindah ke tangan orang lain. Kecemasan ini sering tidak diakui secara terbuka, melainkan diekspresikan melalui kritik tersembunyi, arahan informal, mencari dukungan ke orang yang dianggap mendukungnya atau pembentukan kelompok loyalis yang masih menggantungkan diri pada figur lama. Dalam kepemimpinan rohani, kontrol semacam ini sering memperoleh kekuatan tambahan karena dilegitimasi secara spiritual, seolah-olah pemimpin lama memiliki akses yang lebih murni terhadap Firman Tuhan dan paling tahu visi pendiri organisasi.
Pada beberapa kasus, “shadow leadership” juga berkaitan dengan narsisme rohani, yaitu keyakinan bahwa diri sendirilah yang paling memahami visi Allah dan arah pelayanan. Pemimpin baru dipandang belum cukup matang, belum cukup rohani, tidak berani, atau belum “siap memimpin”, sehingga mantan pemimpin merasa sah untuk terus mengarahkan. Sikap ini bukan hanya merendahkan pemimpin baru, tetapi juga secara tidak langsung menyangkal karya Allah dalam proses regenerasi.
Dampak dari “shadow leadership” sangat merusak kesehatan organisasi rohani. Otoritas pemimpin baru menjadi lemah, jika dibiarkan. anggota pengurus akan mengalami kebingungan loyalitas, dan organisasi terjebak dalam dualisme kepemimpinan, antara yang resmi dan yang bayangan. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa melahirkan stagnasi, konflik laten, serta kelelahan emosional yang menggerus kepercayaan dan semangat pelayanan.
Apa kata Firman Tuhan untuk hal ini? Ada contoh yang diberikan untuk kasus ini. Yang pertama, relasi kepemimpinan Daud dan Salomo. Meskipun Daud adalah raja besar dengan pengaruh yang sangat kuat, ia tidak membiarkan bayangannya menutupi kepemimpinan Salomo. Daud mempersiapkan, memberi nasihat yang terbatas dan strategis, lalu memberi ruang bagi Salomo untuk memimpin dengan hikmat yang Tuhan berikan kepadanya (1 Raja-raja 2:1-4). Daud mengajarkan bahwa mentoring yang sehat adalah mempersiapkan dan mempercayakan, bukan mengendalikan.
Sebaliknya, Alkitab juga memberi contoh betapa berbahayanya ketidakmampuan melepaskan kepemimpinan. Raja Saul adalah contoh pemimpin yang gagal berdamai dengan berakhirnya musim kepemimpinannya. Ketika Tuhan memilih Daud, Saul tidak mau menerima kenyataan tersebut. Ia tetap berusaha mempertahankan kendali, bahkan memburu Daud untuk melindungi posisinya. Saul tidak hanya kehilangan jabatan, tetapi juga kehilangan damai sejahtera karena tidak mampu melepaskan apa yang Tuhan sudah ambil darinya (1 Samuel 18-26). Ini adalah gambaran ekstrem dari kepemimpinan yang tidak mau keluar dari bayangan.
Menghadapi fenomena ini menuntut keberanian dan kedewasaan. Penegasan batas peran bukanlah tindakan tidak hormat, melainkan bentuk tanggung jawab kepemimpinan. Pemimpin lama perlu dibantu untuk memproses kehilangan perannya secara sehat, sering kali melalui pendampingan bahkan konseling, agar ia dapat membangun identitas baru yang tidak bergantung pada jabatan. Sementara itu, pemimpin baru dituntut untuk bersikap tegas tanpa menjadi agresif menyerang balik dan tetap menghormati sejarah, namun tidak membiarkan masa lalu mengendalikan masa depan.
Pada akhirnya, kepemimpinan rohani sejati tidak diukur dari seberapa lama seseorang memegang kendali, melainkan dari kesediaannya untuk melepaskan. Pemimpin yang matang memahami bahwa panggilan Tuhan tidak berhenti ketika jabatan berakhir, dan bahwa memberi ruang bagi generasi berikutnya adalah bentuk ketaatan yang sama mulianya dengan memimpin. Ketika pemimpin lama mampu keluar dari bayangan dan mempercayakan tongkat estafet sepenuhnya, di situlah regenerasi yang sehat benar-benar dimulai.
Pdt. Prof. Dr. Daniel Ronda
Sekretaris Umum PP PGLII