Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Renungan Kebangsaan HUT ke-81 Republik Indonesia
Nats: Yohanes 8:36: “Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.”
Memasuki 81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, sebagai warga gereja, kita patut bersyukur atas anugerah Tuhan dan perjuangan para pahlawan yang telah meletakkan dasar bagi bangsa yang merdeka dan berdaulat. Pada saat yang sama, peringatan kemerdekaan tahun ini patut menjadi momentum untuk melakukan refleksi yang jujur: Benarkah seluruh rakyat Indonesia telah mengalami kemerdekaan yang sejati?
Jujur, kita masih melihat kesenjangan yang nyata antara mereka yang sangat kaya dan mereka yang hidup dalam keterbatasan. Di satu sisi, ada kelompok yang menikmati kekayaan dan berbagai kemudahan, namun di sisi lain, masih banyak rakyat yang terpinggirkan. Mereka masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar, mendapatkan pendidikan yang layak, memperoleh pelayanan kesehatan, dan mencari pekerjaan yang bermartabat. Kemerdekaan seharusnya menghadirkan kesempatan dan kesejahteraan yang lebih adil bagi seluruh rakyat. Namun hal itu masih jauh dari harapan.
Kita juga saat ini diperhadapkan dengan nasionalisme semu. Nasionalisme ini begitu lantang berbicara atas nama rakyat, tetapi dalam praktiknya justru memperkaya diri, menyalahgunakan kekuasaan, dan melakukan korupsi secara kasat mata. Tidaklah cukup mengatakan “demi rakyat” apabila keputusan dan tindakannya pada akhirnya justru menyengsarakan rakyat. Cinta tanah air tidak diukur dari kerasnya slogan, tetapi dari kesediaan berkorban, berlaku jujur, dan menggunakan kekuasaan untuk kepentingan bersama.
Lebih dari itu, pemimpin yang benar bukan hanya pemimpin yang hanya menerima laporan yang baik sahaja. Pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang rela turun, melihat dengan mata sendiri, mendengar dengan telinga sendiri, dan merasakan dengan hati sendiri penderitaan rakyat. Jangan sampai laporan yang sampai kepada pemimpin hanya berisi keberhasilan dan angka-angka yang indah, sementara jeritan rakyat di bawah tidak pernah terdengar. Pemimpin harus bersedia keluar dari ruang nyaman, mengunjungi dengan benar mereka yang miskin dan terpinggirkan, mendengar keluhan mereka, serta berani melihat kenyataan apa adanya. Sebab, laporan dapat disusun untuk terlihat baik, tetapi penderitaan rakyat tidak dapat disembunyikan selamanya.
Walaupun demikian, gereja dan seluruh umat percaya tidak boleh apatis terhadap kehidupan bangsa. Kita dipanggil untuk kritis terhadap ketidakadilan, berani menyuarakan kebenaran, namun tetap menghormati pemerintah dan mendoakan para pemimpin. Kritik bukanlah bentuk kebencian kepada bangsa. Kritik yang lahir dari kasih justru merupakan bagian dari tanggung jawab kita untuk menjaga bangsa ini.
Yesus pun berkata, “Apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.” Kemerdekaan sejati bukan hanya terbebas dari penjajahan, tetapi juga terbebas dari perbudakan dosa, keserakahan, korupsi, ketidakjujuran, dan penyalahgunaan kekuasaan.
Maka pada HUT ke-81 ini, marilah kita membangun Indonesia dengan nasionalisme yang bukan hanya orasi lantang melainkan pengabdian. Bila berbicara tentang rakyat, jangan eksploitasi demi popularitas. Dalam sanubari pemimpin, hendaknya benar-benar memperjuangkan rakyat lewat mendengarkan mereka. Pemimpin yang diharapkan adalah tidak mengejar kekuasaan untuk memperkaya diri, melainkan menggunakan kekuasaan untuk melayani.
Indonesia yang merdeka adalah Indonesia yang rakyatnya bukan hanya bebas dari penjajahan, tetapi juga saat ini harus bebas dari kemiskinan, ketidakadilan, korupsi, dan keserakahan.
Kiranya Tuhan memberikan kepada para pemimpin kita hikmat dan integritas. Tuhan juga memberikan seluruh rakyat Indonesia keberanian untuk berkata benar dan bersama-sama membangun bangsa dalam menghidupi kebenaran, keadilan, dan kasih.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Merdeka untuk melayani. Merdeka untuk berlaku benar. Merdeka untuk membangun Indonesia yang adil dan sejahtera. Tuhan memberkati Indonesia.
Daniel Ronda,
Sekum PGLII