Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Oleh : Pdt. Dr. Yohanes R. Suprandono
Dunia abad ke-21 menghadirkan tantangan yang semakin kompleks bagi pelayanan gereja. Perkembangan teknologi, perubahan budaya, arus globalisasi, serta menguatnya relativisme dan individualisme telah membentuk pola pikir baru dalam masyarakat. Di saat yang sama, dunia juga diwarnai oleh berbagai persoalan kemanusiaan seperti konflik, kekerasan, ketidakadilan, kemiskinan, dan krisis moral. Dalam konteks inilah gereja dipanggil untuk tetap setia melaksanakan Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus dengan pendekatan yang tetap setia kepada Injil sekaligus relevan dengan kebutuhan zaman.
Penginjilan bukanlah sekadar salah satu program gereja, melainkan merupakan bagian dari hakikat keberadaan gereja itu sendiri. Keberadaan gereja dan misi tidak dapat dipisahkan -gereja bersifat missional. Penginjilan berakar pada karya Allah Tritunggal. Bapa mengasihi dunia dan merancang keselamatan bagi umat manusia. Anak menggenapi karya penebusan melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Roh Kudus terus bekerja meyakinkan manusia akan dosa, memimpin kepada pertobatan, serta memperlengkapi gereja menjadi saksi Kristus di tengah dunia. Karena itu, penginjilan merupakan partisipasi umat percaya dalam misi Allah (Missio Dei) yang bertujuan membawa manusia diperdamaikan kembali dengan Allah melalui Yesus Kristus.
Walaupun isi Injil tidak pernah berubah, cara penyampaiannya perlu terus dikontekstualisasikan sesuai dengan perkembangan masyarakat. Dunia postmodern tidak lagi mudah diyakinkan hanya melalui argumentasi intelektual. Masyarakat masa kini lebih menghargai keaslian hidup, relasi yang tulus, kepedulian nyata, dan kesaksian yang dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, gereja perlu menghadirkan Injil yang tidak hanya diberitakan melalui perkataan, tetapi juga diwujudkan melalui kehidupan yang mencerminkan kasih Kristus.
Dalam kerangka inilah pendekatan penginjilan relasional menjadi sangat relevan. Pendekatan ini menekankan bahwa Injil disampaikan melalui hubungan yang dibangun atas dasar kasih, kepercayaan, persahabatan, dan kepedulian terhadap sesama. Fokusnya bukan sekadar menyampaikan informasi tentang keselamatan, melainkan menghadirkan kasih Allah yang memulihkan hubungan manusia dengan Sang Pencipta, sesama manusia, dan ciptaan.
Teladan utama penginjilan relasional adalah Tuhan Yesus sendiri. Selama pelayanan-Nya, Yesus hadir di tengah kehidupan masyarakat, memasuki rumah-rumah, membangun percakapan, mendengarkan pergumulan orang, menjawab kebutuhan mereka, kemudian memperkenalkan mereka kepada Kerajaan Allah. Pertemuan Yesus dengan perempuan Samaria, Zakheus, maupun berbagai keluarga yang dikunjungi-Nya menunjukkan bahwa relasi menjadi jembatan bagi transformasi hidup yang sejati.
Salah satu bentuk nyata dari pendekatan ini adalah Oikos Evangelism, yaitu penginjilan melalui jaringan relasi yang telah dimiliki setiap orang percaya—keluarga, kerabat, sahabat, tetangga, rekan kerja, maupun komunitas sehari-hari. Dalam lingkungan yang dipenuhi rasa saling percaya, Injil lebih mudah diterima karena disampaikan melalui kehidupan yang konsisten dan penuh kasih. Gereja mula-mula pun mengalami pertumbuhan yang luar biasa ketika Injil menyebar dari rumah ke rumah melalui komunitas-komunitas yang hidup dalam persekutuan, doa, dan kesaksian.
Penginjilan relasional tidak berarti mengurangi atau mengubah isi Injil. Sebaliknya, pendekatan ini justru menjaga kemurnian berita keselamatan sambil menghadirkannya dalam cara yang dapat dipahami dan dialami oleh masyarakat masa kini. Inti pemberitaan tetap sama, yaitu Yesus Kristus yang telah mati dan bangkit sebagai satu-satunya Juruselamat dunia. Yang berubah hanyalah cara gereja membangun jembatan komunikasi agar kabar baik tersebut dapat diterima dengan lebih efektif.
3 langkah dalam penginjilan relasional sebuah pendekatan yang holistik dalam mengasihi sesama yang adalah tetangga kita: (1) Memperhatikan sesama kita. Kita memberikan kepedulian terhadap sesama kita. Kia melibatkan diri sebagaimana Yesus melihat orang banyak dengan belaskasihan (Matius 9:36). Yesus berbelaskasihan dan menyembuhkan mereka (Matius 14:14). (2) Mendemonstrasikan kasih. Kita bertindak dalam pelayanan yang peduli dan penuh kasih terhadap sesama kita (lihat, 1 Yoh. 3:18). Kita membagikan makanan untuk orang yang lapar, memberikan minum kepada orang yang kehausan dan memberikan pakaian kepada orang yang telanjang (bdgkan Matius 25:25- 36). Kita membagikan kepada sesama kita sesuai kebutuhan yang riil yang mereka perlukan (lihat, Yakobus 2:16) (3) Memperkatakan pengharapan. Bagikan kabar baik kepada sesamamu. Sebab tidak mungkin orang diselamatkan kecuali ada orang yang membagikan Injil (lihat, Roma 10:14). Sebagaimana orang -orang di Kota Korintus dipanggil menjadi duta-duta Kristus kita di tengah -tengah masyaraka kontemporer merupakan utusan Injil di masa kini (Lihat, 2 Kor. 5:20).
Melalui Gerakan mengasihi sesama ini akan semakin dirasakan kekuatan dari kehadiran. Kita percaya bahwa kehadiran itu hal yang sangat penting dalam Kerajaan Allah, yang akan menciptakan transformasi yang akan bertahan lama melalui kesetiaan dalam jangka yang Panjang. Kita tahu bahwa transformasi terjadi melalui bukan hanya sekali perjumpaan dengan Injil- yang mana hal ini menuntut orang yang nyata, yang mewujudnyatakan kasih Kristus kepada sesama kita, sesama pekerja Kristen dan Masyarakat. Mungkin saja banyak orang sudah mendengar Injil tetapi tanpa hubungan yang personal dengan orang Kristen, mereka tidak memiliki kesempatan untuk melihat kuasa dari transformasi dalam kehidupan orang secara nyata. Gap relasional inilah yang menjadi masalah nyata dalam penginjilan di masa kini. Menurut pusat penelitian Sekolah Tinggi Teologi Gordon Conwell, diperkirakan 81 persen orang non Kristen secara personal tidak mengenal orang Kristen . Tanpa hubungan relasional, Injil akan tetap menjadi sebuah konsep yang berjarak bukan sebagai sebuah realitas perubahan hidup. Dan lagi dalam waktu yang bersamaan menurut penelitian tentang keberadaan Amanat Agung, laporan menunjukkan bahwa kurang dari 20 persen orang Kristen secara aktif membagikan imannya, sedang 35-40% orang Kristen sangat jarang atau bahkan sama sekali tidak pernah membagikan imannya. Inilah mengapa sebuah pelayanan mengasihi sesama mulai dari rumah sendiri kepada orang lain dalam lingkaran pengaruh keluarga Kristen itu sangat penting.
Sebagai persekutuan gereja-gereja dan lembaga-lembaga Injili di Indonesia (PGLII) terus mendorong setiap gereja untuk mengembangkan pelayanan penginjilan yang Alkitabiah, kontekstual, dan berpusat pada Kristus. Penginjilan harus dilaksanakan dengan ketergantungan penuh kepada Roh Kudus, disertai kehidupan doa yang tekun, karakter yang mencerminkan Kristus, serta kasih yang nyata kepada sesama.
Pada akhirnya, dunia tidak hanya membutuhkan orang yang mampu berbicara tentang Injil, tetapi juga orang-orang yang menghadirkan Injil melalui kehidupan mereka. Ketika gereja hidup dalam kasih, integritas, kekudusan, dan pelayanan yang tulus, Injil menjadi nyata di tengah masyarakat. Melalui kesaksian seperti inilah gereja dapat terus menjadi terang dan garam bagi bangsa Indonesia, sehingga semakin banyak orang mengalami kasih karunia Allah dan menerima keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus.