Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
(Tulisan ini terinspirasi dari Artikel Kompas, Hendriyo Widi, “Grinch” di Gedung Putih, 13 Desember 2025, hal. 13)
Oleh Daniel Ronda
Ada buku bergambar kisah klasik yang berkisah latar belakang Natal “How the Grinch Stole Christmas!” karya Dr. Seuss (Theodor Seuss Geisel). Pembaca diperkenalkan pada sosok Grinch yang hidup menyendiri di atas gunung, jauh dari keramaian Kota Whoville. Ia membenci Natal bukan karena ia tidak mengerti maknanya, tetapi justru karena suara sukacita, nyanyian, dan perayaan orang-orang Whoville terasa mengusik hatinya yang telah lama terluka. Grinch digambarkan sebagai makhluk dengan hati yang “dua ukuran terlalu kecil”, simbol dari jiwa yang mengeras oleh kekecewaan, penolakan, dan kepahitan yang tak pernah disembuhkan.
Sejak pertama kali muncul dalam karya Dr. Seuss pada tahun 1957, Grinch telah melampaui statusnya sebagai tokoh fiksi anak-anak. Ia bukan lagi sekadar makhluk hijau yang membenci Natal, melainkan telah menjadi istilah budaya. Dalam percakapan sehari-hari di Amerika, seseorang disebut “Grinch” ketika ia dianggap merusak suasana, mematikan sukacita kolektif, atau menghalangi perayaan bersama. Seorang atasan yang melarang bonus akhir tahun, seorang pejabat yang memotong dana sosial saat liburan, atau tetangga yang mengeluh soal pesta Natal, semuanya bisa dicap sebagai “Grinch”.
Dalam dunia politik Amerika, istilah ini bahkan memiliki muatan yang lebih tajam. Media dan publik sering melabeli politisi sebagai “Grinch” ketika mereka dianggap mencabut harapan publik, memangkas program kesejahteraan, menolak kompromi, atau memanfaatkan krisis untuk agenda kuasa. Dalam konteks ini, Grinch bukan hanya perusak pesta, tetapi simbol kepemimpinan yang dingin, sinis, dan lebih setia pada ideologi atau kepentingan sendiri daripada kesejahteraan bersama. “Grinch politics” menjadi istilah tidak resmi untuk menggambarkan kebijakan yang sah secara hukum, tetapi miskin empati.
Menariknya, dalam semua penggunaan ini, makna Grinch selalu konsisten yaitu ia adalah figur yang memiliki kuasa untuk memengaruhi suasana kolektif, tetapi memilih menggunakan kuasa itu dengan cara yang menyempitkan hidup orang lain. Ia tidak selalu salah secara aturan, namun gagal secara moral dan relasional. Grinch jarang dipersoalkan karena melanggar hukum. Grinch dipersoalkan karena melanggar rasa kemanusiaan.
Di sinilah istilah Grinch menjadi cermin yang tidak nyaman bagi kepemimpinan rohani di gereja. Gereja mungkin merasa aman dari label semacam itu karena berbicara tentang kasih, kekudusan, kebenaran, dan Injil. Namun dalam praktiknya, kepemimpinan rohani juga memiliki kuasa simbolik dan psikologis yang besar, bahkan lebih dalam daripada kuasa politik. Seorang pemimpin gereja dapat membentuk cara jemaat memandang Allah, diri sendiri, dan dunia. Ketika kuasa ini dijalankan tanpa kasih, empati, tanpa kerendahan hati, dan tanpa kesadaran akan dampaknya, maka gereja pun dapat melahirkan “Grinch rohani”.
Pemimpin rohani ala Grinch tidak selalu menolak praktik keagamaan dan spiritualitas secara terang-terangan. Mereka justru sering paling lantang berbicara tentang teologi yang “benar”. Namun seperti Grinch dalam kisah Whoville, mereka sibuk mengawasi, mengoreksi, dan mengontrol ekspresi iman orang lain, seolah-olah ekspresi sukacita dalam berteologi adalah ancaman terhadap ketertiban. Dalam nama kemurnian doktrin, disiplin, atau kekudusan pelayanan, mereka mematikan ruang dialog, meremehkan emosi serta kesehatan mental jemaat, dan memperlakukan orang yang tidak sama dengan keyakinannya sebagai pemberontakan.
Perbedaannya dengan Grinch dalam politik hampir tidak terasa. Jika politisi Grinch mencabut program sosial demi efisiensi, pemimpin rohani Grinch mencabut kasih demi “ketegasan rohani”. Jika Grinch politik berbicara tentang anggaran dan aturan, Grinch gerejawi berbicara tentang ayat dan otoritas yang diyakininya sendiri. Namun dampaknya serupa bahwa orang-orang awam teologi tetap menanggung beban dosa tanpa solusi, harapan hilang, dan suasana atmosfer gereja kehilangan kehangatan cinta kasih Yesus.
Yang membuat kepemimpinan Grinch di gereja jauh lebih berbahaya adalah klaim rohaninya. Dalam politik, publik masih bisa berkata, “Itu kebijakan yang kejam.” Dalam gereja, jemaat sering ragu berkata, “Ini kepemimpinan yang melukai,” karena takut dianggap melawan Tuhan. Di sinilah Grinch rohani bekerja paling efektif, bukan mencuri atau mengganti berita Injil yang penuh sukacita secara kasar, tetapi dengan membuat orang percaya bahwa kehilangan sukacita Injil adalah bagian dari kekudusan.
Kisah Grinch berakhir dengan pertobatan ketika ia menyadari bahwa Natal tidak bergantung pada apa yang bisa ia ambil. Orang-orang Whoville tetap bernyanyi tanpa hadiah dan pesta. Dalam terang ini, gereja seharusnya berani bertanya: apakah iman jemaat kita masih hidup tanpa kontrol pemimpin? Apakah sukacita berita Injil masih terdengar ketika struktur, jabatan, dan simbol kuasa dilepaskan? Seharusnya iya, karena Injil yang menyelamatkan dan memulihkan serta memberikan sukacita akan tetap hidup dalam umat manusia yang percaya kepada-Nya. Namun jika jawabannya tidak, mungkin masalahnya bukan pada jemaat, melainkan pada pemimpin dan gaya kepemimpinannya.
Natal yang merupakan ekspresi Injil secara keseluruhan menawarkan model kepemimpinan yang kontras dengan Grinch, baik dalam politik maupun gereja. Kristus tidak datang sebagai penguasa yang membungkam pergumulan jemaat, melainkan sebagai hamba yang memberi diri. Ia tidak memadamkan pergumulan pastoral manusia atas nama kekudusan, tetapi justru menghadirkan kekudusan yang melahirkan pemulihan dan solusi bagi jemaat. Kepemimpinan rohani yang setia kepada Kristus membawa harapan, pemulihan, dan kehidupan jemaat, karena semua itu adalah buah dari anugerah keselamatan.
Mungkin gereja perlu belajar dari cara publik Amerika menggunakan kata “Grinch” sebagai kritik moral. Bukan untuk meniru sinisme politiknya, tetapi untuk berani menandai bahkan mengkritisi kepemimpinan yang diberi mandat secara organisatoris namun gagal secara pastoral dalam melayani pergumulan jemaat. Sebab pada akhirnya, tantangan terbesar gereja bukanlah serangan dari luar, melainkan ketika tanpa sadar ia membiarkan Grinch berdiri di mimbar dan menyebut dirinya setia dan yang paling “kudus”.
Jakarta-Semarang, 14 Desember 2025