Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Pdt. Dr. Yohanes Suprandono
Beberapa waktu terakhir, bencana alam kembali melanda berbagai wilayah di Sumatera dan Aceh. Banjir, longsor, dan gempa tidak hanya merusak rumah dan infrastruktur, tetapi juga mengguncang rasa aman, harapan, dan masa depan banyak keluarga. Di tengah situasi seperti ini, gereja dipanggil bukan hanya untuk bersimpati, tetapi untuk menghadirkan kasih Allah secara nyata—melalui tindakan kasih dan pemberitaan Firman Tuhan.
Kasih sejati, menurut Alkitab, selalu melibatkan dua hal yang tidak terpisahkan: perbuatan dan kebenaran.
Hati Yesus yang Tergerak oleh Penderitaan
Injil Matius mencatat bahwa Yesus berkeliling ke kota-kota dan desa-desa, mengajar, memberitakan Injil Kerajaan Allah, serta menyembuhkan berbagai penyakit. Namun Injil juga menyingkapkan isi hati Yesus ketika Ia melihat orang banyak:
“Tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala” (Mat. 9:36).
Yesus tidak memandang penderitaan manusia dari kejauhan. Ia melihat, Ia tergerak, dan Ia bertindak. Dari belas kasihan itulah lahir pelayanan yang menyentuh kebutuhan jasmani dan rohani.
Kondisi saudara-saudara kita yang terdampak bencana di Sumatera dan Aceh mencerminkan gambaran yang sama: lelah, terluka, dan membutuhkan pengharapan. Situasi ini bukan hanya ladang pelayanan sosial, tetapi juga ladang Injil.
Kasih yang Tidak Melewati dari Seberang Jalan
Dalam Lukas 10, Yesus menceritakan perumpamaan tentang Orang Samaria yang Baik Hati. Seorang yang terluka parah dibiarkan tergeletak di pinggir jalan. Dua tokoh religius melihatnya, tetapi memilih untuk melewati dari seberang jalan. Mereka tahu hukum Taurat, tetapi gagal menghidupi kasih.
Sebaliknya, seorang Samaria berhenti. Alkitab mencatat dengan jelas: “Tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.” Belas kasihan itu mendorong tindakan konkret—merawat, mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya.
Yesus kemudian menutup perumpamaan itu dengan perintah yang sangat jelas: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” Perintah ini relevan bagi gereja di setiap zaman, termasuk di tengah situasi bencana alam.
Traktat: Firman Tuhan yang Hadir di Tengah Penderitaan
Di tengah keterbatasan dan kondisi darurat, salah satu sarana pemberitaan Firman Tuhan yang sederhana namun sangat efektif adalah traktat Injil. Traktat bukan sekadar selebaran, melainkan pembawa pesan pengharapan dari Firman Tuhan.
Bagi mereka yang kehilangan rumah, keluarga, dan rasa aman, satu lembar traktat yang berisi firman penguatan, janji keselamatan, dan kasih Allah dapat menjadi benih pengharapan. Traktat dapat dibagikan bersamaan dengan bantuan logistik, kunjungan pastoral, atau pelayanan kemanusiaan.
Traktat memungkinkan Firman Tuhan hadir bahkan ketika kesempatan berbicara terbatas. Firman itu bisa dibaca berulang kali, disimpan, dan direnungkan di saat-saat sunyi ketika seseorang bergumul dengan rasa takut dan kehilangan.
Kasih yang Utuh: Perbuatan dan Firman
Kasih Kristen tidak pernah bersifat parsial. Menolong secara jasmani tanpa menghadirkan pengharapan rohani akan terasa tidak lengkap. Sebaliknya, memberitakan firman tanpa kepedulian nyata terhadap penderitaan fisik juga kehilangan kekuatannya.
Melalui pelayanan bencana, gereja dipanggil untuk menghidupi kasih yang utuh:
· Tangan yang memberi bantuan,
· Hati yang berbelas kasihan,
· Firman Tuhan yang diberitakan dengan lemah lembut.
Traktat menjadi jembatan yang menghubungkan tindakan kasih dan pemberitaan Injil. Ia menyampaikan bahwa pertolongan yang diberikan bukan sekadar kemanusiaan, tetapi lahir dari kasih Kristus yang menyelamatkan.
Menjadi Pekerja di Ladang Tuhan
Yesus berkata, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.” Di tengah bencana alam, perkataan ini terdengar semakin nyata. Tuhan sedang membuka pintu-pintu pelayanan, dan Ia memanggil umat-Nya untuk terlibat.
Tidak semua orang dapat pergi langsung ke lokasi bencana. Namun setiap orang dapat berperan: melalui doa, dukungan dana, penyediaan bantuan, dan juga pemberitaan Firman Tuhan melalui traktat. Ketika gereja bergerak bersama, kasih Kristus dinyatakan secara nyata dan Injil diberitakan dengan kuasa.
Pergilah dan Perbuatlah Demikian
Bencana alam di Sumatera dan Aceh mengingatkan kita bahwa dunia ini rapuh dan manusia membutuhkan pengharapan yang melampaui keadaan. Firman Tuhan memberikan pengharapan itu. Melalui traktat, Injil dapat menjangkau hati-hati yang sedang terluka.
Kiranya kita tidak menjadi seperti mereka yang melihat dari kejauhan dan berlalu dari seberang jalan. Sebaliknya, marilah kita menjadi sesama yang berhenti, tergerak, dan bertindak—menghadirkan kasih Allah melalui perbuatan dan Firman.
Seperti kata Yesus: “Pergilah, dan perbuatlah demikian.”