Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Jakarta – Komisi Pendidikan Umum PGLII melakukan pertemuan dan audiensi dengan jajaran Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pada Hari Selasa, 26 Mei 2026 guna membahas penguatan pendidikan non formal serta membangun sinergi dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (PAUD Dikdasmen), Gogot Suharwoto, S.Pd., M.Ed., Ph.D., bersama Direktur Pendidikan Nonformal dan Pendidikan Informal, Dr. I Gusti Made Ardana, S.Pd., M.T. serta Ketua Tim Kerja, Ilman. Turut hadir Ketua Komisi Pendidikan Umum PGLII, Sophian Andi serta Ketua Harian Asah Pena, Lovely Bintoro dan Sekum Asah Pena, Budi K Suhery.
Dalam pertemuan tersebut, Komisi Pendidikan Umum PGLII memperkenalkan peran dan program kerjanya sebagai bagian dari upaya mendukung pembangunan pendidikan nasional, khususnya pada bidang pendidikan masyarakat, pendidikan keluarga, pendidikan non formal, pendidikan karakter, serta pembelajaran sepanjang hayat.
Ketua Komisi Pendidikan Umum PGLII, Sophian Andi, menyampaikan bahwa tujuan utama Komisi Pendidikan Umum adalah memastikan pendidikan non formal yang berada di bawah PGLII dapat berkembang menjadi pendidikan yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga memiliki martabat dan dampak nyata bagi masyarakat.
"Kami ingin memastikan bahwa pendidikan non formal tidak dipandang hanya sebagai pelengkap sistem pendidikan, tetapi menjadi bagian penting dalam membangun manusia Indonesia yang utuh. Pendidikan harus bermutu sekaligus bermartabat," ungkap Sophian Andi.
Ia menjelaskan bahwa pendidikan bermutu mencakup standar pembelajaran yang baik, tenaga pendidik yang kompeten, kurikulum yang relevan, serta menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat.
Sementara pendidikan bermartabat menekankan pembentukan karakter, integritas, nilai moral, serta penghargaan terhadap keberagaman.
Dalam diskusi tersebut juga dibahas berbagai tantangan pendidikan, khususnya di wilayah terpencil seperti Papua, mulai dari akses pendidikan yang belum merata, keterbatasan tenaga pendidik, kesenjangan teknologi digital, hingga penguatan pendidikan keluarga dan komunitas.
Ketua Harian Asah Pena, Lovely Bintoro, menyampaikan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadirkan pendidikan yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Sementara itu, pertemuan berlangsung dalam suasana dialog yang konstruktif dengan semangat membangun kemitraan strategis antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat.
Melalui pertemuan ini diharapkan terbangun sinergi yang semakin kuat dalam menghadirkan pendidikan Indonesia yang inklusif, berkualitas, dan mampu menjangkau seluruh anak bangsa tanpa terkecuali.
Pendidikan non formal diharapkan dapat mengambil peran yang lebih besar dalam membentuk generasi Indonesia yang unggul, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
SA – Komisi Dikum PP PGLII