Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Pdt. Tommy O. Lengkong, M.Th.
Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa." (Lukas 5:8)
Ekspresi sebagai suatu penghormatan dan pemuliaan kepada Tuhan Yesus yang berulang-ulang dicatat dalam PB adalah dengan “tersungkur.” Sikap ini juga mengekspresikan rasa tidak layak dan kerendahan hati ketika bertemu atau berhadapan dengan Tuhan Yesus. Hal inilah yang ada pada Simon Petrus ketika ia berhadapan dan mengenal Yesus yang adalah Tuhan. Petrus menyadari diri sebagai orang berdosa tentu tidak layak bertemu dengan Tuhan yang kudus. Apa yang ada di hati Petrus yang terdalam dan yang bersifat terus menerus dan tidak berubah adalah penghormatan dan pemuliaan kepada Tuhan Yesus. Hal ini nampak terus dalam interaksi Petrus dengan Tuhan Yesus. Ketika Yesus membasuh kaki murid-muridNya, (Yoh. 13) pada waktu itu Petrus sangat enggan Yesus yang adalah Tuhan akan membasuh kakinya. Sikap Petrus seperti ini nampak dalam beberapa peristiwa lainnya, bahkan hingga ia telah mengalami Roh Kudus turun atasnya dan sebagai rasul Yesus. Ketika ia berkhotbah di Serambi Salomo, sikap Petrus yang memberi penghormatan dan memuliakan Tuhan Yesus nampak sangat jelas ketika ia mengatakan: “Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah nenek moyang kita telah memuliakan Hamba-Nya, yaitu Yesus yang kamu serahkan dan tolak di depan Pilatus, walaupun Pilatus berpendapat, bahwa Ia harus dilepaskan. Tetapi kamu telah menolak Yang Kudus dan Benar, … (Kis. 3:13-14a)
Sikap merasa tidak layak dan merendahkan diri di hadapan Tuhan Yesus nampak juga pada murid lain, seperti Yohanes. Ketika ia berada di pulau Patmos, pada waktu ia melihat Tuhan Yesus dalam visionnya, ia pun tersungkur di depan kaki Yesus dan merasakan seperti mati. “Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: "Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir” (Wah. 1:17)
Dalam pemahaman Liturgika, pengertian worship atau ibadah di dalamnya mencakup sikap penghormatan dan pemuliaan seperti di atas. Karena pengertian ibadah dari kata Ibrani “hisytakhawa” dan kata Yunani “proskuneo” secara literal berarti menunduk atau membungkuk atau sujud. Suatu ungkapan sikap rasa takut penuh hormat, kekaguman dan ketakjuban penuh pujian kepada Tuhan.
Jadi ibadah yang benar adalah penghormatan dan pemuliaan kepada kepada Tuhan Yesus. Seharusnya ekspresi dalam worship bukanlah suatu ekspresi kesenangan daging, tetapi seharusnya Tuhan yang disenangkan. Bukanlah kepuasan jemaat yang beribadah, tetapi apakah Tuhan Yesus berkenan pada ibadah itu. Bukanlah berbasis pada penikmatan pengalaman manusiawi, tetapi mengalami Yesus yang mengubah hati. Bukanlah terapi psikologis memenuhi kebutuhan manusia, tetapi tiap-tiap orang bertemu dengan Yesus yang adalah Juruselamat.
Seharusnya dalam kehidupan hamba-hamba Tuhan dan anak-anak Tuhan selalu bersikap menghormati dan memuliakan Tuhan Yesus. Bahwa hanya oleh anugerah Allah kita diselamatkan dalam Tuhan Yesus dan dipercayakan Tuhan untuk melayaniNya. Ketika kita menyembah Tuhan Yesus, kiranya Dialah yang diagungkan, disenangkan dan ia berkenan pada penyembahan kita.
Apakah kita masih dapat berlutut di hadapan Tuhan Yesus?
“Teruslah bersekutu dan memberitakan Injil !”
Pdt. Tommy O. Lengkong, M.Th.
Ketua Umum PP PGLII