Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Pdt. Tommy O. Lengkong, M.Th.
Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu. Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingkupun aku akan melihat Allah… (Ayub 19:25-26)
Kata penebus dalam bahasa Ibrani adalah “goel”. Tentu kita telah mengetahui pengertian "goel" ini.
Pertama, "goel" mengacu pada seorang kerabat yang melakukan fungsi penebus bagi saudara atau temannya. Seumpama ada seorang Ibrani telah kehilangan warisannya karena hutang. Dia telah menggadaikan harta miliknya dan, karena kekurangan uang untuk membayar hutang, dia akan kehilangannya atau sudah kehilangannya. Dalam situasi seperti itu, adalah tugas “goel”, sebagai kerabat terdekat, untuk membeli warisan; yaitu, membayar hipotek dan mengembalikan tanah kepada kerabatnya.
Inilah yang dimaksud Ayub dalam ungkapan imannya yang besar kepada Penebus ilahinya, dan itulah sebabnya perikop ini harus merujuk pada pemulihan keadaan Ayub sendiri. Saat Ayub mengucapkan kata-kata ini, dia berada dalam kondisi fisik yang mengerikan. Dia telah kehilangan keluarga dan kesehatan. Dia pasti membayangkan bahwa dia akan kehilangan nyawanya juga. Dia akan mati. Cacing akan menghancurkan tubuhnya. Tapi itu bukan akhir dari cerita. Karena tubuhnya, walaupun dari debu dan rusak, adalah warisannya yang hidup; dan ada Penebus ilahi yang akan menebusnya.
Ungkapan Ayub tentang “Penebus yang hidup” adalah suatu tipologi, yang antitipe (puncak pengenapan) dalam PB sebagai Penebus yang akan berdiri dengan otoritasNya di atas bumi dan akan melaksanakan tugas “goel” dalam memulihkan dan membangkitkan orang-orang percaya. Dialah Yesus Kristus yang hidup.
Tugas kedua goel adalah menebus dengan power, jika ini diperlukan. Abraham melakukan tugas ini terhadap keponakannya Lot ketika Lot telah ditangkap oleh empat raja dalam perang. Abraham mengejar raja-raja dan mengambil tawanan dan rampasan. Hal ini juga adalah suatu tipologi yang dilakukan Yesus Kristus. Yesus dengan kuasa, yaitu kuasa kebangkitanNya mematahkan cengkeraman kematian. Sekarang kita menantikan penebusan tubuh kita dalam kebangkitan yang kekal.
Akhirnya, “goel” juga memiliki tugas untuk membalas musuh yang menyebab keadaan hampir mati (sekarat) saudara atau kerabatnya. Bayangkan bahwa seorang Israel telah terkena pedang dan sekarat. “Goel” datang dan mengetahui siapa yang telah memukul saudara atau kerabatnya. Segera dia menyambar pedangnya sendiri dan berlari untuk membalas upaya pembunuhan itu. Yesus Kristus juga adalah pembalas musuh-musuh kita. Kita adalah orang yang sekarat tetapi kita memiliki seorang penebus, yang membebaskan dan memulihkan kita. Jadi kita memiliki kemenanganNya di masa depan.
“Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya. Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut. … Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?" Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita." (1 Kor. 15:25-26; 55-57)
Betapa hebat dan mulianya, Penebus kita yang hidup yang telah menebus kita, sehingga kita adalah orang-orang yang berkemenangan bahkan memiliki hidup yang kekal.
Beritakanlah kepada orang banyak, bahwa Yesus Kristus adalah Penebus yang hidup.
“Teruslah bersekutu dan memberitakan Injil !”
Pdt. Tommy O. Lengkong, M.Th. - Ketua Umum PP PGLII