• Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510

Pdt. Tommy O. Lengkong, M.Th.

CINTA KASIH SEJATI ITU MEMILIKI DAYA TAHAN, KEKUATAN, KERINDUAN YANG SANGAT LUAR BIASA

 

Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN! Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina. (Kidung Agung 8:6-7)

 

Kasih atau cinta merupakan anugerah Tuhan pada manusia yang diciptakan-Nya. Dalam kitab Kidung Agung tulisan Salomo, ekspresi dari romantisme dan keindahan cinta diungkapkan begitu detil untuk menggambarkan tentang kuatnya cinta kasih.

Salomo menggambarkan cinta itu kuat seperti maut. Ketika ia menguasai hati seseorang cinta itu tak dapat tolak/dilawan seperti maut. Tidak ada seorangpun yang dapat menghindari maut. Demikian juga dengan cinta. Siapakah yang dapat melawan kekuatan cinta sejati? Kegairahan cinta itu seperti dunia orang mati. Dunia orang mati adalah gambaran tentang hal itu tidak bisa diubah. Hasrat dan sukacita cinta sulit untuk berubah. Ketika cinta itu menyala, maka nyalanya seperti nyala api Tuhan. Nyala api Tuhan gambaran yang tidak terpadamkan. Semangat, antusiasme dan keberanian cinta itu tidak dapat dipadamkan. (ay. 6)

Salomo melalui syairnya menggambarkan cinta kasih itu adalah anugerah Tuhan yang hidup dalam hati manusia, yang mempunyai daya tahan, power, kegairahan yang sangat luar biasa.

Cinta itu adalah saling memiliki. "Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu,.." (ay. 6a)  Kata meterai melambangkan tanda kepemilikan. Mencintai adalah meyerahkan hidup seseorang untuk dimiliki oleh orang yang dicintainya. Ia menempatkan dalam hatinya orang yang dicintainya melampaui segala yang dimilikinya. Ia tidak akan menduakannya.

Gambaran cinta yang diungkapkan Salomo bukanlah hanya dalam konotasi cinta dalam makna sensualitas, tetapi juga menjadi suatu gambaran kemurnian cinta kasih itu. Bukan hanya dalam pengertian relasi antara dua manusia yang sedang jatuh cinta, tetapi juga menjadi suatu refleksi relasi spiritual, antara Tuhan dengan kita. Dalam tradisi Yudaisme, romantisme cinta dalam kitab Kidung Agung ini sering dipahami secara kiasan, sebagai metafora hubungan antara Tuhan dan umat-Nya (Israel). Sang kekasih pria melambangkan Tuhan, sedangkan sang kekasih wanita melambangkan umat Israel. Demikian juga dalam PB, penggambaran tentang cinta kasih antara mempelai pria dan wanita dalam Kidung Agung ini dipahami sebagai penggambaran kasih antara Kristus dan Gereja (umat-Nya). Dalam Efesus 5:31-32, “Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.” Karena gereja adalah mempelai atau pengantin perempuan dari mempelai Anak Domba yaitu Kristus. (bd. Wahyu 21:9) Kristus adalah Mempelai Pria yang mengorbankan diri-Nya demi Gereja. Gereja adalah Mempelai Wanita yang dikasihi, disucikan, dan dipanggil untuk memiliki keintiman rohani dengan-Nya.

Oleh karena itu, jika kita menyadari tentang betapa besarnya kasih Kristus bagi kita manusia berdosa, maka kita pun harus bertekad mengasihi Tuhan Yesus dengan sepenuh hati, jiwa dan akal. Kasihilah Tuhan Yesus dengan kerinduan yang besar, dengan segenap kekuatan, serta pantang luntur. Ingatlah Firman Tuhan: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.” (Mat. 22:37-38)

 

“Teruslah bersekutu dan memberitakan Injil !”

Pdt. Tommy O. Lengkong, M.Th. - Ketua Umum PP PGLII


ID EN