Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Pdt. Tommy O. Lengkong, M.Th.
Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. (Mazmur 1:1-2)
Ketika kebanyakan orang memikirkan muara dari kehidupan yang lurus atau saleh, adalah tentang “reward”. Artinya, mereka berpikir bahwa jika mereka melakukan apa yang Tuhan perintahkan kepada mereka, Dia akan memberi mereka hadiah, tetapi jika mereka tidak melakukannya, mereka akan dihukum, Tetapi apa yang sebenarnya dikatakan pemazmur di sini sangat berbeda. Dia berbicara tentang "berkat”, "Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, … tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, (ay. 1a,2a) Maksudnya adalah bahwa ini bukan “reward” (hadiah) melainkan “result” (hasil) dari suatu kehidupan tertentu.
Pemazmur menggunakan dua gambar untuk menunjukkan hasil dari dua pola kehidupan spiritualitas. Yang pertama adalah pohon yang berbuah. Ini menggambarkan orang yang kesukaannya hukum Tuhan, maka cara mendapatkan makanan rohaninya adalah seperti pohon yang menarik makanannya dari tanah yang berada di tepi sungai yang mengalir deras. Tanah lain mungkin cukup kering dan tandus. Angin mungkin panas. Tetapi jika pohon itu ditanam di tepi sungai maka ia dapat menenggelamkan akarnya dan menarik makanan dari tanah yang kaya makanan, ia akan makmur dan berbuah. Ini adalah hasil dari orang saleh.
Perumpamaan kedua yang digunakan pemazmur adalah sekam, yang dengannya ia membandingkan orang fasik. Orang fasik seperti sekam dalam dua pengertian, yaitu sekam itu tidak berharga dan sekam itu akan dibakar. Ini menggambarkan kehidupan yang sia-sia, kosong, dan tidak berharga dari orang-orang yang fasik. Mereka tak terelakkan akan menghadapi penghakiman. Inilah hasil dari orang fasik.
Pilihan untuk berpihak dengan kehidupan orang fasik tentu bertujuan untuk mendapatkan kesenangan dan kepuasan. Namun Firman Tuhan dengan jelas mengatakan: “Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.” (1 Yoh. 2:16-17) Kesenangan dunia adalah bahagian dari tipuan Iblis. Seperti kejadian di Taman Eden, iblis memberitahu Hawa bahwa jika dia tidak menaati Tuhan dengan memakan pohon terlarang, matanya akan "terbuka" dan dia akan menjadi "seperti Tuhan, mengetahui yang baik dan yang jahat" (Kejadian 3:5). Tetapi dia tidak menjadi seperti Tuhan; dia menjadi seperti Setan. Dan matanya tidak terbuka, malahan dia dan Adam menjadi buta terhadap realitas spiritual.
Jangan percaya kebohongan iblis. Janganlah mengikuti keinginan dunia ini, karena ia sedang mencoba menarik Anda dari kehidupan yang benar, memperdaya dengan kepalsuan. Nasihat Rasul Paulus dalam Efesus 4:1, “Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu.”
“Teruslah bersekutu dan memberitakan Injil !”
Pdt. Tommy O. Lengkong, M.Th. - Ketua Umum PP PGLII