Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
MANILA, Filipina — Di sela-sela Konferensi Asia tentang Gereja dan Misi (ACCM) 2026 yang berlangsung di Manila pada 9-12 Juni 2026, Pengurus Pusat Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia (PGLII) mengadakan pertemuan strategis dengan Sekretaris Jenderal World Evangelical Alliance (WEA), Pdt. Adv. Botrus Mansour. Pertemuan yang berlangsung dalam suasana sarapan pagi pada 11 Juni 2026 ini menjadi momentum penguatan kerja sama antara organisasi gereja terbesar di Indonesia dan aliansi evangelikal global yang mewakili 161 negara dengan lebih dari 650 juta umat Kristen di seluruh dunia.
Pertemuan di Tengah Konferensi Asia
ACCM 2026 sendiri merupakan konferensi yang diselenggarakan oleh Asia Evangelical Alliance (AEA) bekerja sama dengan Philippine Council of Evangelical Churches (PCEC), yang mengumpulkan 210 delegasi dari 25 negara di Asia dan sekitarnya. Konferensi dengan tema "Disciple or Die 3.0" ini berlangsung di GCF South Metro, Alabang, Metro Manila.
Dalam pertemuan tersebut, Pengurus Pusat PGLII yang terdiri dari Ketua Umum, Sekretaris Umum, dan Ketua II disambut hangat oleh Botrus Mansour. Sekjen WEA yang baru dilantik pada Oktober 2025 di Seoul, Korea Selatan, itu menyampaikan penyesalannya karena tidak dapat hadir pada Sidang Raya WEA yang diselenggarakan di Sentul, Indonesia pada tahun 2019. "Beliau memiliki keinginan besar untuk bisa berkunjung ke Indonesia," demikian keterangan resmi PGLII.
Tiga Agenda Strategis PGLII
Dalam pertemuan yang berlangsung santai namun membahas isu-isu fundamental tersebut, PGLII menyampaikan tiga agenda penting:
Pertama, PGLII meminta keterlibatan dan kesempatan untuk memberikan masukan serta mendampingi WEA dalam membangun dialog antar umat beragama, khususnya yang berkaitan dengan organisasi keagamaan di Indonesia. Hal ini sejalan dengan komitmen WEA yang selama ini aktif dalam advokasi kebebasan beragama di tingkat internasional melalui kantor-kantornya di markas PBB di Jenewa, Swiss, dan New York, Amerika Serikat.
Kedua, menyikapi meningkatnya intoleransi yang mengarah pada ketidakadilan, perampasan hak beribadah, dan persekusi, PGLII meminta WEA untuk menyuarakan keprihatinan ini dengan lebih serius di tingkat internasional, khususnya melalui Kantor WEA yang ada di Pusat PBB.
Ketiga, PGLII menyampaikan undangan resmi kepada Sekjen WEA untuk hadir pada perayaan Hari Ulang Tahun PGLII yang ke-56 pada tahun 2027.
Sambutan Positif dari WEA
Menanggapi ketiga poin tersebut, Botrus Mansour menyambut baik kesediaan PGLII untuk turut serta dalam dialog-dialog antar agama di masa mendatang. Ia juga berkomitmen untuk mendorong Kantor WEA di Jenewa agar lebih aktif berkomunikasi dengan PGLII guna memahami secara lebih detail mengenai berbagai kasus intoleransi dan persekusi di Indonesia, serta menindaklanjutinya ke tingkat yang lebih tinggi di kancah internasional.
Mengenai undangan HUT PGLII ke-56 tahun 2027, Mansour menyampaikan rasa syukurnya dan meminta agar PGLII segera mengirimkan surat resmi sehingga kantor WEA dapat menjadwalkan kunjungannya ke Indonesia.
Pertemuan dengan NU dan Harapan ke Depan
Sebelum mengakhiri pertemuan, Botrus Mansour mengungkapkan rencananya untuk bertemu dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) di Singapura dalam rangka mempererat hubungan antara NU dan WEA dalam membangun dialog-dialog antar umat beragama.
WEA sendiri telah memiliki pengalaman dalam membangun dialog lintas iman, termasuk dengan organisasi-organisasi keagamaan besar di dunia. Pada Mei 2026, WEA dan Komite Yahudi Internasional untuk Konsultasi Antaragama (IJCIC) meluncurkan kembali dialog formal tentang kebebasan beragama dan martabat manusia.
"Kiranya ke depan, Indonesia dapat dilibatkan oleh WEA dalam kegiatan yang sejenis," demikian harapan yang disampaikan PGLII.
Profil PGLII dan WEA
PGLII merupakan lembaga persekutuan gereja terbesar di Indonesia yang membawahi 102 sinode dengan jumlah sekitar 10 juta jemaat. Didirikan pada 17 Juli 1971 di Kota Batu, Malang, organisasi ini adalah salah satu Lembaga Gerejawi Aras Nasional di Indonesia di samping Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan organisasi gereja lainnya.
Sementara itu, WEA yang didirikan di London pada tahun 1846 merupakan organisasi payung bagi 128 aliansi evangelikal nasional yang mewakili 600 juta umat Kristen secara global. WEA memiliki status khusus di PBB dan aktif dalam advokasi hak asasi manusia serta kebebasan beragama atau keyakinan.
Diolah oleh INFOKOM PP PGLII @2026