Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Pdt. Tommy O. Lengkong, M.Th.
Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya. (1 Yoh. 2:15-17)
Hidup dalam kesucian adalah suatu tuntutan bagi orang-orang beriman. Kita sebagai orang-orang beriman kepada Tuhan Yesus Kristus harus berkomitmen hidup melakukan segala sesuatu yang dikehendaki Allah, Bapa kita, dan menjauhkan diri untuk mengasihi dunia. Istilah “dunia” dalam ayat-ayat ini merujuk pada perilaku egois dan nilai-nilai buruk dari orang-orang yang hidup di dunia ini, yang bertentangan dengan nilai-nilai Allah. Dalam ayat 16 di atas, Yohanes menguraikan keinginan dunia dalam 3 hal:
Pertama, keinginan atau hawa nafsu daging adalah selera untuk memanjakan kesenangan-kesenangan daging yang mengarah kepada dosa (secara subjektif hal ini adalah kondisi manusia berdosa); tetapi sekaligus hawa nafsu daging adalah segala hal yang menghidupkan gairah dan kobaran kesenangan-kesenangan daging. (secara objektif) Itu sebabnya, hawa nafsu daging akan menjadi perangkap manusia untuk mengkhianati kasih kepada Allah.
Kedua, keinginan atau nafsu mata adalah keinginan yang dipicu oleh penglihatan kepada sesuatu yang menarik dan langsung disertai rasa ingin mendapatkannya, tanpa mempertimbangkan apakah itu dikehendaki Allah atau tidak. Keinginan-keinginan mata ini antara lain seperti memandang wanita/pria dan menginginkannya (Mat. 5:28); kesenangan akan kemewahan, harta benda dan kekayaan, seperti dosa Akhan. (Yos. 7:21) Hal-hal ini didambakan oleh mata yang penuh nafsu, yang sama dengan nafsu ketamakan. Nafsu mata mengalihkan fokus perasaan cukup dalam persekutuan dengan Allah.
Ketiga, keangkuhan hidup adalah pikiran yang sia-sia mendambakan semua kemegahan hidup yang sia-sia. Ambisi dan haus akan kehormatan dan pujian. Telinga haus mendengar sanjungan, pujian dan ungkapan-ungkapan kagum dari orang lain. Keangkuhan hidup adalah rangsangan hawa nafsu yang dapat muncul ketika seseorang mencapai kesuksesan atau telah merasa lebih dari orang lain, demikian juga dengan kesombongan atas harta benda, kekayaan, status sosial atau kekuasaan. Namun keangkuhan itu juga yang akan menjatuhkannya.
Godaan keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup dari dunia ini tidak henti-hentinya. Dunia dengan kesenangan, kemewahan dan sanjungan menjadi perangkap bagi orang yang percaya. Nasihat Yohanes bahwa, “Jikalau orang mengasihi dunia, kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu.” (ay.15)
Hati manusia itu sempit, dan tidak dapat menampung cinta kepada dunia dan kasih kepada Bapa. Dunia akan menarik kebulatan hati yang mengasihi Allah, sehingga semakin besar cinta kepada dunia, maka semakin berkurang kasih kepada Allah. Akhirnya kasih kepada Allah membusuk.
Jika manusia mau menuruti dan tidak ingin terlepas dari keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan yang berasal dari dunia ini, maka ia juga sedang terseret dengan dunia ini yang sedang lenyap. Dunia yang sedang lenyap (Yun: paragetai – bersifat presentis) dalam pengertian dunia ini sedang terus menerus melenyap atau sedang menuju kepada kebinasaan. Jadi mencintai dunia adalah akan berakhir dengan kesia-siaan.
Oleh karena itu janganlah membiarkan dirimu tergoda dengan keinginan dunia, keinginan mata dan kesombongan. Marilah kita hidup bukan dengan mencintai dunia ini, tetapi semakin mencintai Allah dan segala sesuatu yang berasal dari Allah.
“Teruslah bersekutu dan memberitakan Injil !”
Pdt. Tommy O. Lengkong, M.Th. - Ketua Umum PP PGLII