Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Filipi 1:27: “Hanya hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus…”
Beberapa waktu terakhir, banyak orang merasa bahwa negeri ini sedang tidak baik-baik saja. Berita tentang korupsi, ketidakadilan hukum, penyalahgunaan kekuasaan, konflik sosial, dan kesulitan ekonomi terus ramai di ruang publik. Tidak sedikit yang merasa marah, kecewa, bahkan kehilangan harapan.
Dalam situasi seperti itu, apa yang harus dilakukan orang Kristen?
Ketika membaca Filipi 1:27, kita sering menganggap Paulus hanya sedang berkata, “Jadilah orang baik” atau “Berperilakulah dengan benar.” Namun sebenarnya Paulus mengatakan sesuatu yang jauh lebih mendalam.
Kata yang dipakai Paulus untuk “hidupmu berpadanan” berasal dari kata Yunani politeuomai, yang berhubungan dengan kewarganegaraan dan kehidupan sebagai warga suatu kerajaan atau negara. Paulus sedang berbicara tentang identitas sebelum berbicara tentang perilaku.
Ini penting karena jemaat Filipi hidup di zaman penjajahan Romawi. Mereka cukup bangga menjadi warga Roma. Status kewarganegaraan menentukan cara mereka berpikir, berbicara, dan menjalani hidup.
Tapi Paulus seakan berkata, “Ingatlah, identitas terdalammu bukanlah sebagai warga Roma. Kamu adalah warga Kerajaan Surga.”
Di situlah letak kekuatan Injil. Paulus tidak memulai dengan perintah, melainkan dengan identitas. Ia tidak berkata, “Berusahalah menjadi warga Kerajaan Allah.” Ia berkata, “Karena Kristus telah menjadikanmu warga Kerajaan-Nya, hiduplah sesuai dengan siapa dirimu sekarang.”
Banyak orang hari ini mendefinisikan dirinya berdasarkan afiliasi politik, kelompok sosial, suku, atau ideologi tertentu. Akibatnya, percakapan publik dipenuhi kemarahan dan permusuhan. Kita lebih mudah melihat orang lain sebagai lawan daripada sesama manusia yang juga diciptakan menurut gambar Allah.
Namun, orang percaya tidak boleh kehilangan identitas utamanya. Kita boleh memiliki pandangan politik. Kita boleh mengkritik kebijakan yang tidak adil. Kita boleh bersuara terhadap korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Bahkan seringkali kita harus melakukannya.
Namun sebelum menjadi pendukung orang atau kelompok tertentu, kita ingat bahwa kita adalah pengikut Kristus. Sebelum menjadi warga negara Indonesia, kita adalah warga Kerajaan Allah. Sebelum berbicara atas nama kepentingan apa pun, kita hidup di bawah pemerintahan Raja yang satu, yaitu Yesus Kristus.
Karena itu, respons kita terhadap kondisi bangsa harus berbeda. Ketika kebohongan menjadi kebiasaan, kita memilih kebenaran. Ketika kebencian menjadi bahasa sehari-hari, kita memilih mengasihi. Ketika banyak orang menggunakan kekuasaan untuk diri sendiri, kita memilih melayani. Ketika masyarakat kehilangan harapan, kita tetap memegang pengharapan karena Raja kita tetap bertakhta.
Negeri ini mungkin sedang menghadapi banyak persoalan. Namun Kerajaan Allah tidak sedang krisis. Kristus tidak kehilangan kendali. Takhta-Nya tidak terguncang oleh pergantian pemerintahan, gejolak ekonomi, atau kegaduhan politik.
Karena itu panggilan orang percaya untuk hidup sebagai warga Kerajaan Surga di tengah dunia yang terluka. Melalui hidup yang jujur, penuh kasih, rendah hati, dan berani menyuarakan kebenaran, kita menunjukkan kepada dunia bahwa ada Raja yang lebih tinggi dari semua penguasa dunia dan ada Kerajaan yang tidak akan pernah tergoncangkan.
~ Daniel Ronda