• Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510

KUNCI PELAYANAN YANG BERBUAH

 

“Aku Harus Semakin Berkurang, dan Yesus Semakin Bertambah” (Yohanes 3:25-35)

 Pendahuluan

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, banyak orang berpikir bahwa keberhasilan hidup dan pelayanan ditentukan oleh seberapa banyak yang kita tahu, miliki, atau capai. Namun firman Tuhan mengajarkan sesuatu yang berbeda: kunci keberhasilan sejati bukanlah apa yang kita miliki, tetapi siapa yang kita miliki. Dalam Yohanes 3:25-35 kita melihat sebuah momen yang sangat manusiawi. Murid-murid Yohanes Pembaptis datang dengan kegelisahan. Mereka melihat Yesus semakin terkenal. Orang banyak beralih kepada-Nya. Secara manusiawi, ini bisa menjadi ancaman.Tetapi respons Yohanes luar biasa. Ia berkata:  “Ia harus semakin besar, tetapi aku harus semakin kecil.” (Yoh 3:30) Di sinilah kita menemukan rahasia pelayanan yang berbuah, kehidupan yang stabil, dan kepemimpinan yang berkenan kepada Tuhan.

 I. Mengapa Kita Harus Kurang tentang Diri Sendiri dan Lebih tentang Yesus

Pentingnya Mengetahui “Mengapa”  Banyak orang memulai dengan semangat, tetapi berhenti di tengah jalan. Mengapa? Karena mereka kehilangan alasan. Orang kehilangan arah ketika kehilangan alasan. Tanpa “mengapa”, seseorang tidak akan bertahan dalam perjalanan. Seorang penulis kepemimpinan terkenal, Simon Sinek, dalam bukunya Start With Why menekankan bahwa orang yang kuat bukanlah mereka yang tahu apa yang dilakukan, tetapi mereka yang tahu mengapa mereka melakukannya.

Demikian juga dalam kehidupan rohani.  Jika kita tidak memahami mengapa Yesus harus semakin besar dalam hidup kita, maka ego kita akan selalu mengambil kembali panggung utama.

 1. Yesus Ada di Atas Segala Sesuatu

Yohanes berkata: “Orang yang datang dari atas adalah di atas segala sesuatu.” (Yoh 3:31). Kolose 1:16-17 menjelaskan:  Segala sesuatu diciptakan oleh Dia. Segala sesuatu ada untuk Dia.  Segala sesuatu bertahan di dalam Dia. Bayangkan ini. Ketika manusia pertama kali menginjak bulan, astronot Neil Armstrong berdiri di tempat yang belum pernah disentuh manusia sebelumnya. Namun bayangkan lebih dalam: Pencipta alam semesta pernah berjalan di jalanan berdebu Galilea.  Dia yang mengatur rotasi bumi, menjaga bintang tetap pada orbitnya, mengendalikan waktu dan sejarah, pernah hidup di antara manusia. Jika Dia adalah Tuhan atas segala sesuatu — maka masuk akal jika hidup kita juga berada di bawah-Nya.

 2. Yesus Memiliki dan Mengucapkan Firman Allah

Yohanes 3:34 berkata:  “Dia mengatakan firman Allah.”  Yesus menghadapi pencobaan di padang gurun bukan dengan kekuatan fisik, tetapi dengan Firman Tuhan. Firman Allah berkuasa menenangkan badai, menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati,  dan menguatkan iman. Roma 10:17 berkata:  “Iman timbul dari pendengaran akan firman Kristus.” Ketika kita memiliki Firman Tuhan kita memiliki arah, kita memiliki janji, kita memiliki kemenangan.

 3. Yesus Memiliki Roh Kudus Tanpa Batas

Yohanes berkata: Allah memberikan Roh tanpa batas kepada-Nya. Mukjizat Yesus bukan sekadar demonstrasi kuasa. Itu adalah pekerjaan Roh Kudus. Roh Kudus yang sama turun atas Yesus, memampukan pelayanan-Nya, dan diberikan kepada gereja. Kisah Para Rasul 1:8 berkata: “Kamu akan menerima kuasa kalau Roh Kudus turun atas kamu.” Tanpa Roh Kudus, pelayanan menjadi aktivitas manusia. Dengan Roh Kudus, pelayanan menjadi pekerjaan Allah.

 II. Jalan Menuju Lebih Banyak Yesus dan Lebih Sedikit Aku

 Bagaimana Yohanes bisa begitu rendah hati? Ada beberapa sikap hati yang harus kita pelajari.

 1. Menyadari Yesus Adalah Tokoh Utama

Yohanes memakai gambaran pernikahan. Yesus adalah mempelai pria. Yohanes hanyalah sahabat mempelai.Tugasnya bukan mencuri perhatian. Tugasnya memperkenalkan. Banyak konflik pelayanan muncul ketika: kita ingin pengakuan, kita ingin posisi, kita ingin pusat perhatian. Padahal kita hanya pemeran pendukung. Yesus adalah pusat cerita.

 2. Sukacita Datang Ketika Yesus Dipermuliakan

Yohanes berkata: “Sukacitaku sekarang sudah penuh.”  Ia tidak iri. Ia bersukacita.  Mengapa? Karena ketika mempelai pria datang, tugas sahabat selesai. Ada pelajaran indah di sini. Ketika orang yang kita kasihi bahagia maka kita juga bahagia. Demikian juga secara rohani.  Ketika Tuhan disenangkan; damai datang, sukacita penuh, berkat mengikuti. Lebih diberkati memberi daripada menerima.

 3. Menyadari Yesus Adalah Sumber Segala Sesuatu

Yohanes 3:27 berkata: “Seseorang tidak dapat menerima apapun kecuali yang diberikan dari surga.”  Segala sesuatu berasal dari Tuhan: kesempatan, talenta, jabatan, kesehatan, bahkan nafas kita. Kita sering mengejar hasil. Padahal kita seharusnya mengejar sumber.  Jika kita memiliki Yesus maka artinya kita memiliki segalanya.

  4. Pelajaran Penyerahan

Galatia 2:20 berkata: “Aku telah disalibkan dengan Kristus.” Penyerahan bukan kelemahan. Penyerahan adalah kekuatan. Penginjil besar dunia, Reinhard Bonnke pernah menggambarkan Yesus sebagai Tuhan atas seluruh “rumah kehidupan”.  Banyak orang memberi Yesus ruang tamu. Tetapi masih menyimpan: ruang rahasia, gudang dosa, kamar ego.Pelayanan berbuah dimulai ketika Yesus memiliki seluruh rumah.

 Kesimpulan: Evaluasi Diri Seorang Pemimpin Rohani

Kebanyakan pemimpin tidak gagal karena kurang talenta. Mereka gagal karena jarang mengevaluasi diri. Mari bertanya secara jujur: Apakah aku semakin berkurang dan Yesus semakin bertambah bulan ini? Apa yang aku pelajari tentang Tuhan yang tidak aku ketahui bulan lalu? Apakah orang ingin belajar berdoa dari hidup doaku? Apakah keluargaku merasa menjadi prioritas?  Kepada siapa aku membagikan Injil minggu ini? Siapa yang berjalan lebih dekat kepada Kristus karena hidupku? Apakah ada sesuatu yang aku sembunyikan dari Tuhan?  Jika aku berhenti hari ini, apakah pelayanan tetap berjalan?

Apakah aku meninggalkan warisan Roh Kudus bagi generasi berikutnya? Apa rencanaku untuk memimpin lebih baik minggu depan? Karena tanpa rencana, kita sedang merencanakan kegagalan.

 Penutup

Saudara-saudari,  Pelayanan yang berbuah bukan tentang nama kita dikenal. Bukan tentang pengaruh kita besar. Bukan tentang posisi kita tinggi. Tetapi tentang satu hal: Apakah Yesus semakin terlihat melalui hidup kita? Kiranya doa Yohanes menjadi doa kita: “Ia harus semakin besar, tetapi aku harus semakin kecil.”

Amin.

Dr. Yohanes Suprandono - Bendahara Umum PP PGLII

 


ID EN