Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Pendahuluan
Jika kita memikirkan iman Kristen, kita akan menemukan bahwa kasih adalah inti dari semuanya. Kekristenan bukan pertama-tama tentang ritual, bukan tentang tradisi, bukan hanya tentang doktrin. Kekristenan pada dasarnya adalah hubungan kasih antara manusia dengan Allah. Yesus sendiri merangkum seluruh hukum Taurat dalam satu perintah yang paling utama: “Kasihilah Tuhan, Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” (Matius 22:37). Namun ada satu realitas yang perlu kita sadari. Alkitab berkata Allah mengasihi semua orang (Roma 5:8). Kasih Allah tidak terbatas, tidak bersyarat, dan tidak berubah.
Tetapi sebaliknya, tidak semua orang mengasihi Allah dengan tingkat yang sama, bahkan di antara orang percaya:
● Ada yang sangat mengasihi Tuhan
● Ada yang mengasihi Tuhan secara biasa saja
● Ada yang dulu mengasihi Tuhan, tetapi sekarang mulai dingin
Kasih kepada Allah bukan sesuatu yang otomatis. Kasih kepada Allah adalah sesuatu yang harus dipelihara, dijaga, dan terus dinyalakan kembali. Karena itu hari ini kita akan merenungkan satu pertanyaan penting: Apa yang terjadi ketika seseorang benar-benar mengasihi Allah?
Alkitab menunjukkan bahwa kasih kepada Allah membawa kita kepada 3 ( tiga ) realitas besar dalam kehidupan:
1. Mengasihi Allah Memberi Keyakinan Dalam Segala Keadaan
Roma 8:28 berkata “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Ayat ini adalah salah satu janji terbesar dalam Alkitab, tetapi perhatikan dengan teliti kepada siapa janji ini diberikan, ternyata bukan kepada semua orang, melainkan janji ini diberikan kepada mereka yang mengasihi Allah. Lalu apa yang dijanjikan itu ? Allah berkata Ia bekerja dalam segala sesuatu; bukan sebagian hal, bukan hanya hal yang baik saja, tetapi Ia bekerja dalam segala sesuatu!. Artinya ketika seseorang mengasihi Allah, hidupnya berada dalam tangan Allah yang aktif bekerja di balik setiap situasi. Allah bekerja dalam segala keadaan. Di dalam hidup kita ada banyak jenis pengalaman seperti masa keberhasilan, kegagalan, sukacita, kesulitan, kemenangan, penderitaan dan lain sebagaianya. Seringkali kita berpikir Tuhan hanya bekerja dalam hal-hal yang baik. Tetapi Roma 8:28 berkata bahwa Tuhan bekerja juga bahkan dalam hal-hal yang sulit. sebuah kegagalan dapat dipakai Tuhan, kesulitan dapat dipakai Tuhan, bahkan Kekecewaan pun dipakai Tuhan. Allah seperti seorang ahli tenun yang sedang menenun sebuah kain besar. Dari belakang kita hanya melihat benang yang kusut dan tidak beraturan, namun dari depan, Tuhan sedang membentuk sebuah pola yang indah.
Kasih kepada Allah memberi keberanian. Ketika kita mengasihi Tuhan, kita berani melakukan hal-hal yang mungkin terasa sulit atau berisiko, karena kita percaya Tuhan sedang bekerja, melayani Tuhan, saat mengambil keputusan untuk taat kepada Tuhan, atau waktu kita memilih jalan yang benar meskipun tidak mudah. Ada satu keyakinan yang muncul di dalam hati bahwa Tuhan sedang bekerja untuk kebaikan. Keyakinan ini menghilangkan ketakutan, kekhawatiran serta keraguan.
Ada sebuah ilustrasi cerita pengalaman seorang teman saya harus menjalani pelatihan di gunung bersalju yang sangat licin di Sichuan. Kondisinya tidak mudah. Jalan licin. Udara sangat dingin. Setiap langkah harus hati-hati. Dalam situasi seperti itu, seseorang bisa saja merasa takut dan bertanya, “Mengapa saya harus berada di tempat ini?” Tetapi ketika seseorang tahu bahwa ia berada di sana karena ketaatan kepada Tuhan, ada keyakinan yang berbeda. Mungkin jalannya sulit. Tetapi hati berkata: jika Tuhan membawa saya ke sini, Tuhan juga akan memimpin saya melewati ini. Itulah hasil pertama dari mengasihi Allah, kasih kepada Allah memberi kita keyakinan dalam segala keadaan.
2. Mengasihi Allah Membawa Kita Mengenal Allah Secara Pribadi
Yesus berkata dalam Yohanes 14:21 “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku… dan Aku akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.”. Ini adalah janji yang sangat luar biasa. Yesus tidak hanya berkata bahwa orang yang mengasihi-Nya akan diberkati. Yesus berkata “Aku akan menyatakan diri-Ku kepadanya.” Artinya orang yang mengasihi Tuhan akan mengalami Tuhan secara pribadi. Mengenal Allah adalah panggilan terbesar Rasul Paulus berkata dalam Filipi 3:10 “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia.” Bayangkan siapakah Paulus?. Ia adalah rasul besar yang mendirikan banyak gereja serta menulis sebagian besar Perjanjian Baru, tetapi keinginan terbesar dalam hidupnya tetap satu yaitu mengenal Allah lebih dalam.
Di Perjanjian Lama, Daniel 11:32 berkata “Umat yang mengenal Allahnya akan tetap kuat dan akan bertindak.”. Perhatikan urutannya: Mengenal Allah → menjadi kuat → melakukan hal-hal besar!.
Masalah banyak orang Kristen bukan kurang aktivitas rohani tetapi kurang mengenal Tuhan secara pribadi. Jalan untuk mengenal Allah dapat melalui dua cara utama yaitu : hat lezat
1. Firman Tuhan
2. Pernyataan pribadi dari Tuhan
Firman Tuhan memberi kita pengetahuan tentang Allah, tetapi kasih kepada Tuhan membuka pintu untuk pengalaman dengan Allah.
Sebagai ilustrasi bayangkan sebuah kaleng makanan yang dari luar kaleng kita bisa membaca isi labelnya seperti komposisi, rasa, kandungan bahan dan gizinya. Tetapi membaca label tidak sama dengan mencicipi isinya. Banyak orang membaca Alkitab seperti membaca label kaleng, mereka tahu ayat-ayat, mereka tahu cerita Alkitab. Hanya saja orang yang mengasihi Tuhan melakukan sesuatu yang berbeda. Ia membuka kaleng itu dan merasakan isinya. Ia mengalami kehadiran Tuhan, mendengar suara Tuhan, merasakan pimpinan dan kasih Tuhan. Itulah hasil kedua dari mengasihi Allah. Kasih kepada Allah membawa kita mengenal Allah secara nyata dan pribadi.
3. Mengasihi Allah Membuka Pintu Rencana Besar Tuhan
Korintus 2:9 berkata “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” Ayat ini menunjukkan satu kebenaran yang sangat penting. Allah memiliki hal-hal besar yang Ia siapkan, Hal-hal yang bahkan manusia tidak pernah bayangkan, Tetapi janji ini diberikan kepada satu kelompok orang yaitu mereka yang mengasihi Dia. Allah yang kita layani adalah Allah yang besar, dalam 2 Tawarikh 2:5 dikatakan “Rumah yang akan kudirikan itu harus besar, sebab Allah kita lebih besar dari segala allah.” Allah tidak berpikir kecil, Allah selalu bekerja melalui visi besar, panggilan besar serta rencana yang besar
Dan seringkali Tuhan mencari orang-orang yang mengasihi Dia lebih dari kenyamanan mereka sendiri. Kasih kepada Allah menghasilkan belas kasihan kepada manusia. 1 Yohanes 4:20 berkata “Barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya.” Ketika kita benar-benar mengasihi Allah, sesuatu berubah di dalam hati kita. Kita mulai melihat manusia seperti Tuhan melihat mereka, kita mulai memiliki belas kasihan kepada orang-orang yang terluka, tersesat atau sulit dikasihi. Karena Roma 5:5 berkata “Kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus.” Kasih kepada Allah selalu menghasilkan misi kepada manusia. Orang yang mengasihi Tuhan tidak hanya memikirkan dirinya sendiri saja. Ia mulai memikirkan dunia yang belum mengenal Tuhan.
Penutup: Kembali Kepada Kasih Yang Mula-Mula
Namun Alkitab juga memberi peringatan yang serius dalam Wahyu 2:4 Yesus berkata kepada jemaat Efesus “Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.” Ini gereja yang luar biasa !. Mereka melayani, bekerja keras serta mempertahankan kebenaran. Tetapi ada satu masalah besar. Kasih mereka kepada Tuhan mulai padam!. Oleh karena itu Yesus memberi tiga langkah pemulihan dalam Wahyu 2:5, yaitu :
1. Ingat
Ingat bagaimana dahulu kita mengasihi Tuhan. Ingat waktu kita berdoa dengan kerinduan, membaca Firman dengan lapar dan melayani dengan sukacita
2. Bertobat
Bertobat berarti berbalik arah sepenuhnya, mengubah hati dan prioritas hidup.
3. Kembali melakukan kasih mula-mula
Kadang jawabannya sederhana, kembali melakukan hal-hal yang dahulu menyalakan kasih kita seperti membaca Alkitab, berdoa, menyembah serta melayani dengan hati yang tulus dan lakukan itu sampai menjadi kebiasaan baru dalam hidup kita.
Kesimpulan
Mengasihi Allah bukan sekadar kewajiban rohani. Mengasihi Allah membawa kita kepada kehidupan yang luar biasa. Kasih kepada Allah memberikan keyakinan dalam segala keadaan, membawa kita mengenal Allah secara pribadi sekaligus membuka pintu rencana besar Tuhan. Oleh karena itu hari ini mari kita bertanya kepada diri kita sendiri : “Apakah kasih kita kepada Tuhan masih menyala?” Jika kasih itu mulai redup, Tuhan tidak menolak kita. Dia adalah Allah yang penuh belas kasihan. Dia hanya berkata “Kembalilah kepada kasih yang mula-mula.” Dan ketika kita kembali mengasihi Dia, kita akan menemukan bahwa hidup kita dipenuhi dengan keyakinan, pengenalan akan Tuhan dan rencana besar Allah bagi hidup kita. Amin !
Pdt. Dr. Yohanes Rahdianto Suprandono - Bendahara Umum PP PGLII