Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Obituari
Pdt. Dr. Nus Reimas (1951–2026):
Hamba Tuhan, Penggerak Penginjilan, Suara Kenabian bagi Bangsa
Dengan duka yang mendalam namun dalam pengharapan iman, kami keluarga besar PGLII mengenang kehidupan dan pelayanan Pdt. Dr. Nus Reimas, yang telah berpulang kepada Bapa di surga pada 2 Mei 2026, dalam usia 74 tahun.
Bagi banyak orang, Pak Nus Reimas adalah pahlawan iman yang membawa obor api penginjilan ke seluruh Indonesia. Hidupnya digerakkan oleh satu doa yang sederhana namun total: “Tuhan, pakailah aku sehabis-habisnya.” Doa ini bukanlah kata-kata semata, melainkan realitas yang diwujudkan sepanjang hidup dan pelayanannya.
Kesatuan gereja menjadi visi yang konsisten ia perjuangkan. Dalam perannya sebagai Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia (PGLII) periode 2006–2015, dan kemudian sebagai Ketua Majelis Pertimbangan PGLII periode 2015–2020, ia tampil sebagai tokoh aras nasional yang menjembatani berbagai kalangan. Dengan sikap yang luwes, penuh kasih, dan berintegritas, ia merangkul lintas denominasi, lintas generasi, bahkan lintas iman, tanpa kehilangan keteguhan pada Injil.
Di bawah kepemimpinannya, PGLII menjadi ruang strategis bagi kesatuan dan kesaksian gereja Injili. Ia mendorong kolaborasi nyata, memperkuat suara gereja di ruang publik, serta menghadirkan perspektif profetis dalam isu-isu kebangsaan. Kehadirannya menjadi pengingat bahwa gereja dipanggil bukan hanya untuk bertahan, tetapi untuk berdampak.
Dalam pelayanan mahasiswa, ia melayani sebagai Direktur Nasional Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia (LPMI) (1999–2011), membangun gerakan penginjilan dan pemuridan yang melahirkan banyak pemimpin muda. Jauh sebelumnya, ia juga terlibat sebagai pendiri Yayasan Doulos pada 25 Maret 1975, sebagai wujud nyata panggilan misinya.
Perjalanan hidupnya dibentuk oleh pengalaman yang mendalam sejak masa muda. Lahir di Pulau Kei Besar, Maluku, ia mengalami kehilangan ibunda tercinta yang sangat mengguncang hidupnya. Dalam pergumulan itu, ia berseru, “Tuhan tolong saya,” sebagai sebuah doa sederhana yang menjadi titik balik dan sumber kekuatan rohaninya hingga akhir hidup.
Ia dikenal sebagai pribadi yang hangat, humoris, dan murah senyum. Dalam kesaksiannya, ia pernah menceritakan bagaimana selama puluhan tahun melayani tanpa gaji tetap, namun tetap mengalami pemeliharaan Tuhan yang setia. Hidupnya menjadi bukti bahwa Tuhan mencukupkan mereka yang berjalan dalam panggilan-Nya.
Salah satu lagu yang kerap ia nyanyikan, “Api Injil Terus Menyala.” Lagu ini adalah gambaran hidupnya sendiri, sebuah spirit pekabaran Injil yang ia jaga, kobarkan, dan wariskan kepada generasi berikutnya.
Sebagaimana tertulis dalam 2 Timotius 4:7–8: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman…”
Demikianlah hidup yang ia jalani, setia sampai akhir.
Kini kita melepasnya dengan iman dan pengharapan: Selamat jalan, Pak Nus. Warisanmu tetap menyala: api Injil itu akan terus menyala.
- Daniel Ronda (Sekum PGLII)