Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Saudara-saudari yang terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus,
Para hamba Tuhan, pemimpin gereja, dan seluruh keluarga besar gereja serta lembaga Injili di Indonesia,
Di awal tahun ini, kita datang kepada Tuhan dengan hati yang penuh syukur, sekaligus keprihatinan. Kita bersyukur karena oleh anugerah Allah dalam Tuhan Yesus Kristus kita mengalami pemeliharaan Tuhan baik bagi pribadi, keluarga, komunitas gereja, sinode gereja, organisasi lembaga/yayasan dan PGLII. Kita bersyukur juga karena bangsa ini dapat melewati berbagai tantangan tapi menyadari bahwa perjalanan bangsa dan gereja tidak lepas dari pergumulan, air mata, dan berbagai krisis. Di dalam semua itu kita juga percaya bahwa tangan Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya.
Pada awal tahun ini izinkan kami menyampaikan pesan-pesan pastoral yang menjadi tuntunan kita sebagai gereja dan warga negara:
1. Keprihatinan, Doa, dan Kepedulian atas Bencana di Sumatera
PGLII menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas berbagai bencana alam yang dialami saudara-saudari kita di berbagai tempat, khususnya di wilayah Sumatera. Di tengah penderitaan, gereja dipanggil untuk hadir sebagai tubuh Kristus yang saling menopang. Firman Tuhan mengingatkan: “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis” (Roma 12:15).
Untuk itu mengajak seluruh gereja dan lembaga Injili untuk terus menaikkan doa syafaat, tidak berhenti menunjukkan kasih melalui kepedulian nyata, serta menjadi saluran penghiburan dan pengharapan bagi mereka yang terdampak. Kiranya gereja sungguh menjadi tempat perlindungan dan pengharapan di tengah krisis. Terima kasih kepada gereja-gereja dan lembaga-lembaga anggota di bawah naungan PGLII yang masih terus bekerja mengirimkan dukungan dan para relawannya di Sumatera.
2. Panggilan Gereja Merawat Bumi Sebagai “Shelter” Umat Manusia
Kerusakan ekologi adalah kerusakan lingkungan, ekosistem tumbuhan, ekosistem hewan, pencemaran air serta udara, perubahan genetika dan lain sebagainya. Eksploitasi sumber daya alam demi pemenuhan hasrat hidup manusia telah menimbulkan dampak buruk berupa kerusakan ekologi. Salah satunya, nampak secara real dan kasat mata peristiwa “banjir, tanah longsor dan endapan lumpur Sumatera”, yang berdampak sangat memprihatinkan bagi manusia.
Pola hubungan buruk antara manusia dengan alam adalah eksploitatif dan merusak, dan akhirnya justru menciptakan suatu bentukan bumi yang asing bagi manusia, karena menimbulkan bencana bagi manusia itu sendiri. Manusia kemudian mengalami keterasingan dalam “rumahnya” (shelter) yang menimbulkan gelombang krisis yang sangat, sangat, sangat memprihatinkan. Hal tersebut sangat mengancam eksistensi kehidupan manusia baik di masa sekarang maupun yang akan datang.
Mandat yang Tuhan berikan, "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (Kej. 1:28) Manusia yang telah memenuhi bumi adalah manusia yang menjadi penakluk dan juga harus menjadi penata alam dan bumi. Pemerintahan manusia atas bumi ini menuju keteraturan. (bd. Kej. 2:5)
Komitmen kita sebagai kaum Injili, kita mengasihi dunia ciptaan Allah. Kasih ini bukanlah sekedar kasih sayang sentimental terhadap alam. Kasih ini adalah urutan secara logis dari kasih kita kepada Tuhan dengan kesetiaan kita menata dan merawat apa yang menjadi milik Tuhan di mana kita hidup. Bumi adalah milik Tuhan yang kita akui kita cintai dan taati. Oleh karena itu marilah kita menjadi penata dan perawat bumi, karena bumi adalah milik Tuhan. Apa yang kita dapat lakukan dan mungkin sederhana, mulailah lakukan hal itu. Kitapun dapat menjadi agen perubahan demi kelangsungan bumi yang sehat.
3. Panggilan Gereja di Tengah Keprihatinan atas Korupsi
Kita juga tidak dapat menutup mata terhadap realitas korupsi yang telah merusak sendi-sendi kehidupan bangsa, mencederai keadilan, dan bahkan salah satunya berkontribusi pada kerusakan lingkungan serta bencana yang berulang. Gereja terpanggil menyampaikan pesan ini secara gamblang, di mana Firman Tuhan sendiri mengingatkan bahwa: “Ia telah memberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” (Mikha 6:8).
Atas dasar ini PGLII mengajak gereja untuk tetap setia mendidik umat agar hidup dalam kejujuran, integritas, dan takut akan Tuhan. Gereja dipanggil bukan hanya untuk berdoa, tetapi juga untuk menjadi suara kenabian yang menyatakan kebenaran dengan kasih. Yang memprihatinkan bahwa praktik ini juga tidak luput dilakukan oleh orang yang mengaku dirinya beragama Kristen. Oleh sebab itu gereja perlu mengingatkan bahwa kemiskinan yang semakin memprihatinkan di Indonesia akibat pembiaran praktik koruptif yang dilakukan banyak pemimpin bangsa ini.
4. Setia Memberitakan Injil sampai Semua Mendengar
Di tengah dunia yang terus berubah dan penuh tantangan, panggilan gereja tetap sama yaitu memberitakan Injil Kerajaan Allah. Sejalan dengan ajakan World Evangelical Alliance (WEA) dalam Konferensi Kaum Injili Sedunia pada Oktober 2025, kita menyambut visi “The Gospel for Everyone by 2033", untuk memastikan bahwa setiap individu di bumi setidaknya memiliki kesempatan untuk mendengar dan merespons Injil. Dorongan ini dilandasi karena kaum Injili memiliki DNA khusus yaitu pemberitaan Injil secara verbal di samping secara holistik, karena perintah Amanat Agung sangat jelas: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Markus 16:15).
Maka sesuai dorongan kaum Injili sedunia, PGLII melalui momentum ini mengajak anggota yang terdiri dari 100 sinode dan 70 lembaga pelayanan kaum Injil di seluruh Indonesia untuk bekerja sama lintas denominasi dan budaya guna menyelesaikan tugas misi global. Kami mengharapkan gereja dan lembaga Injili untuk terus setia, kreatif, dan bekerja sama dalam penginjilan yang kontekstual, penuh dedikasi, dan berpusat pada Kristus, sambil bersandar pada kuasa Roh Kudus.
5. Tetap Optimis, Berdoa, dan Berpengharapan bagi Bangsa Indonesia
Walaupun ancaman intoleransi dan tantangan kebebasan beragama, praktik korupsi masif masih terus kita hadapi, serta adanya bencana alam, PGLII mengajak seluruh umat Tuhan untuk tidak kehilangan pengharapan. Tuhan tetap berdaulat atas bangsa dan tanah air ini. Kita percaya akan perkataan Kristus dalam khotbah di bukit, “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Matius 5:9).
Mari kita sebagai keluarga besar PGLII terus berdoa bagi para pemimpin bangsa, menjaga persatuan, serta menjadi saksi Kristus melalui sikap yang berani namun lemah lembut, bijaksana, dan beretika, tanpa kehilangan keteguhan iman. Jangan pernah kita digentarkan oleh berbagai tekanan kebebasan beribadah yang bertentangan dengan dasar yang dibangun bangsa ini yaitu dasar kebangsaan dan kesetaraan. Perjuangan kita adalah perjuangan kasih di dalam komitmen kepada Injil Kristus.
Mengawali tahun ini dan memasuki tahun 2026, marilah kita melangkah bersama dengan iman yang teguh, pengharapan yang hidup, dan kasih yang nyata. Kami menyampaikan doa berkat bagi semua umat di Indonesia: “TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia” (Bilangan 6:24–26).
Selamat menjalani Tahun Baru 2026. Tuhan Yesus memberkati gereja-Nya dan bangsa Indonesia.
Pdt. Tommy Lengkong, M.Th.
Ketua Umum
Pdt. Prof. Dr. Daniel Ronda
Sekretaris Umum