• Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510

KISAH DIBALIK PENULIS KRISTEN TIONGHOA YANG MENULIS 2.000 LAGU ROHANI

 

 

Oleh X. YANG

 

Lü Xiaomin tidak pernah menerima pendidikan musik formal. Namun, lagu-lagu penyembahannya telah membuat namanya dikenal luas di gereja-gereja Tiongkok.

 

Setiap hari pukul 5 pagi, Lü Xiaomin berlutut di lantai sebuah ruangan yang remang-remang di apartemennya di Tiongkok bagian utara. Ia menyanyikan sebuah himne dengan suara lantang, membaca Alkitab, dan berdoa kepada Tuhan. Kadang-kadang ia bertemu dengan orang-orang percaya lain, baik secara daring maupun langsung, untuk membaca Firman Tuhan bersama. Setelah sarapan dan berjalan kaki sebentar, jadwalnya dipenuhi dengan pelayanan, seperti membagikan kesaksian hidupnya atau mempersiapkan pendalaman Alkitab.

Gaya hidup Lü mencerminkan lagu penyembahan khas yang ia tulis pada awal tahun 1990-an, “Pukul Lima Pagi di Tiongkok”. Dengan melodi yang lembut, lagu itu menyatakan:

 

Pada pukul lima pagi di Tiongkok,

Terdengar suara orang-orang berdoa.

Doa membawa kebangunan rohani dan damai sejahtera.

Doa membawa kesatuan dan kemenangan…

Melintasi danau dan pegunungan,

Melembutkan hati yang paling dingin.

 

Panggilan Lü sebagai penulis lagu rohani mungkin terdengar mengejutkan. Ia tidak pernah belajar musik secara formal, bahkan belajar menulis huruf-huruf Mandarin dari kamus ketika menggembalakan domba di ladang. Namun lagu-lagunya membuatnya dikenal luas sebagai “Saudari Xiaomin” di kalangan orang Kristen Tionghoa di seluruh dunia.

 

“Saya sebenarnya tidak memahami teori musik, tetapi saya tahu Roh Kudus memberikan lagu itu, dan saya hanya menuliskannya ketika menerimanya,” kata Lü. “Saya hanyalah orang biasa, orang sederhana yang dipenuhi Roh Kudus.”

 

Lü lahir pada tahun 1970 dalam keluarga Hui yang bukan Kristen di Fangcheng, sebuah wilayah di Tiongkok utara. Ketika berusia 10 hari, orang tuanya berencana menyerahkannya kepada keluarga lain. Namun pada hari itu terjadi banjir besar sehingga rencana tersebut batal. Dalam dokumenter The Cross: Jesus in China (2000), ibunya berkata:

 

“Itu adalah berkat Tuhan bagi keluarga kami.”

 

Saat SMP, Lü menderita infeksi sinus kronis yang membuatnya sering pusing dan mual. Ia akhirnya putus sekolah dan bekerja sebagai petani. Dalam pergumulannya dengan kesehatan yang buruk, bibinya mengajaknya ke gereja dan mengatakan bahwa Tuhan akan menyembuhkannya.

 

“Sering kali saya duduk dan memandang langit, burung-burung, bunga-bunga, pohon-pohon, rumput, dan ladang,” kenangnya dalam dokumenter tersebut. “Di hati saya, saya tahu semua itu adalah karya seorang Pencipta, tetapi saya tidak tahu siapa Dia dan apa nama-Nya.”

 

Setelah percakapan dengan bibinya, Lü menyadari bahwa Allah yang selama ini ia cari adalah Sang Pencipta itu. Ia segera berlari ke rumah bibinya, menghentikan makan malam mereka, dan meminta untuk dibawa ke gereja saat itu juga. Malam itu juga, pada usia 19 tahun, ia menerima Kristus.

 

Tahun berikutnya, Lü bergabung dengan Persekutuan Fangcheng, salah satu jaringan gereja rumah terbesar di Tiongkok, dan menjadi penginjil awam. Suatu malam, setelah mengalami perjumpaan yang kuat dengan Roh Kudus dalam sebuah kebaktian kebangunan rohani di desa, ia merasa gelisah dan tidak bisa tidur.

 

Tiba-tiba, melodi dan lirik sebuah lagu muncul di benaknya di tengah malam. Ia pun menyembah Tuhan secara spontan.

 

Lagu itu menjadi himne pertamanya: “Bring Your Joy” (Bawalah Sukacitamu), yang mendorong orang percaya untuk melepaskan beban mereka dan hidup bersama dalam Injil.

 

Lagu tersebut juga menjadi awal dari gerakan yang kemudian dikenal sebagai Himne Kanaan (Canaan Hymns)—kumpulan lebih dari 2.200 lagu dengan lirik yang sederhana dan mudah dipahami, dipadukan dengan melodi yang menyentuh hati dalam gaya lagu rakyat Tiongkok.

 

Usaha awal Lü dalam menulis lagu lahir dari kebangunan Kekristenan di Tiongkok antara tahun 1989–1998. Masa itu dianggap sebagai periode emas ketika iman Kristen menyebar dari daerah pedesaan, sementara para percaya dengan penuh semangat memberitakan Injil meskipun harus menghadapi penderitaan.

 

Ratusan orang percaya dari berbagai daerah datang ke kota Lü untuk beribadah bersama di rumah dan halaman keluarga tuan rumah. Menurut Lü, pertemuan-pertemuan itu sangat hidup dan penuh kuasa Roh Kudus.

 

Setelah pertemuan berakhir, para jemaat membawa pulang rekaman lagu-lagu Lü dalam kaset untuk dibagikan kepada komunitas mereka. Para pengkhotbah keliling juga membawa lagu-lagunya ke berbagai wilayah lain seperti Yunnan dan Xinjiang.

 

Banyak dari para pengkhotbah ini hampir tidak memiliki dukungan keuangan. Ketika mereka bertemu, mereka sering menyanyikan lagu “Tuhan, Peganglah Tangan Kami” sambil menangis dan berseru kepada Tuhan memohon kekuatan serta ketekunan.

 

Memasuki awal tahun 2000-an, tema lagu-lagu Lü mulai berubah. Jika sebelumnya banyak berisi permohonan akan pertolongan dan belas kasihan Tuhan, kini lagu-lagunya lebih menonjolkan kasih Allah yang tanpa syarat seiring kedewasaan gereja.

 

Misalnya, lagu “Sungguh Ada Allah yang Mengasihimu” menegaskan bahwa Tuhan memberikan nafas kehidupan dan mengampuni manusia setiap hari.

 

Pada tahun 2002, komponis Tionghoa-Kanada An-lun Huang membuat aransemen musik formal bagi lagu-lagu tersebut, sehingga semakin dikenal luas di gereja-gereja Tiongkok dan diaspora Tionghoa.

 

Sejak tahun 2009, gereja-gereja di Tiongkok secara bertahap bergeser dari konteks gereja rumah di pedesaan menuju lingkungan perkotaan. Lü melihat munculnya perbedaan yang semakin besar dalam latar belakang dan denominasi orang percaya. Karena itu, ia semakin terdorong untuk menulis lagu yang mempersatukan umat Tuhan dalam visi yang sama.

 

Pada masa ini, gereja Tiongkok kembali menghidupkan Gerakan Kembali ke Yerusalem (Back to Jerusalem Movement), yang mendorong orang percaya untuk membawa Injil dari Timur ke Barat sebagai bagian dari penggenapan Amanat Agung.

 

Lagu Lü “Misi Tiongkok: Beritakan Injil” menggambarkan semangat ini:

 

Roda terus berputar, jalan masih panjang,

Dan gereja Tiongkok harus memberitakan Injil…

Api Roh Kudus telah diwariskan hingga hari ini,

Dipimpin secara ajaib oleh Tuhan.

 

Namun ketenaran Lü juga membawa banyak ujian. Ia sering menjadi sasaran gosip dan fitnah. Pernah beredar rumor bahwa anaknya memiliki ayah orang asing karena ia sering melakukan pelayanan ke luar negeri.

 

Di sisi lain, ia juga menghadapi tekanan untuk membatasi kegiatan penginjilannya. Namun beberapa orang yang awalnya ia layani justru kemudian menonton dokumenter The Cross tentang kehidupannya dan akhirnya memutuskan untuk berdoa kepada Tuhan.

 

Lü juga menyadari bahwa ia sering membebani suaminya dengan tuntutan pelayanan. Ia mendorong suaminya untuk terus membaca Alkitab, berdoa, dan menghadiri persekutuan. Namun suaminya tetap mendukung pelayanannya dengan kesabaran dan kesetiaan.

 

Dari pengalaman itu, Lü belajar untuk hidup dalam rasa syukur dan kerendahan hati serta melihat kehidupan dan pelayanan dari perspektif Tuhan.

 

Sebagian orang percaya menganggap lagu-lagu Lü terlalu berpusat pada Tiongkok. Salah satu lagunya berbunyi:

 

“Tiongkok, menghadapi baptisan hidup dan mati,

Engkau harus gentar dan hormat.

Hanya dengan demikian Tiongkok akan menjadi paling indah.”

 

Lagu lain menegaskan kuasa dan kedaulatan Tuhan atas seluruh negeri.

 

Namun Lü tidak terlalu memedulikan kritik tersebut.

 

“Tiongkok memikul utang ganda—bukan hanya kepada Yesus, tetapi juga kepada para misionaris yang pernah mencurahkan darah mereka di tanah Tiongkok,” katanya. “Mengapa Tuhan begitu mengasihi Tiongkok sehingga mengirim begitu banyak misionaris ke sini?”

 

Sebagian orang juga menilai lagu-lagunya terlalu kuno. Namun menurut Lü, menulis lagu rohani bukanlah soal menghasilkan karya seni yang sempurna demi menyenangkan pendengar.

 

Baginya, lagu-lagu itu harus menjadi sarana:

 

* Pengakuan dosa,

* Syafaat,

* Penginjilan,

* Dan misi gereja.

 

“Ketika lagu menjadi terlalu halus dan sempurna, lagu itu kehilangan kesederhanaan dan keasliannya, sehingga saudara-saudari sulit mengikutinya.”

 

Seorang pendeta bernama Wu, berusia sekitar 40-an dari Tiongkok timur, mengaku bertumbuh dengan mendengarkan Himne Kanaan. Ia masih memegang erat lagu-lagu tersebut karena mengingatkannya untuk tetap teguh beriman kepada Tuhan.

 

Sementara itu, generasi muda mulai mengaransemen ulang lagu-lagu Lü agar terdengar lebih modern. Pada bulan Juli, kelompok penyembahan Deep Spring Band merilis video musik lagu “We Are Dear Brothers”, yang dinyanyikan di tepi Sungai Kuning dengan iringan genderang besar.

 

Salah satu anggotanya, Yao, berkata:

 

“Kami mencintai Himne Kanaan karena lagu-lagu itu menyentuh jiwa kami secara mendalam, tanpa memandang usia. Kami ingin lagu-lagu ini menjangkau generasi muda di era digital, ketika banyak orang tersesat dalam kesepian dan depresi.”

 

Lagu-lagu Lü juga tetap populer di gereja-gereja diaspora Tionghoa di Amerika Serikat, Australia, dan berbagai negara lainnya. Menurut seorang gembala jemaat Tionghoa di Australia bernama Tin, lagu-lagu tersebut sangat beresonansi dengan pengalaman hidup orang-orang percaya yang berasal dari Tiongkok Daratan.

 

Dalam lima tahun terakhir, lagu-lagu Lü semakin bernuansa profetis. Banyak di antaranya mengajak orang percaya hidup dengan kesadaran eskatologis di tengah berbagai krisis global.

 

Ketika pandemi COVID-19 melanda Tiongkok, ia menulis lagu “Wuhan, Wuhan, You Are Not Alone” untuk menguatkan masyarakat kota itu. Lagu lainnya, “You Are the Ark in the Great Flood”, menggambarkan Tuhan sebagai tempat perlindungan dalam bencana, terang dalam kegelapan, dan rumah bagi anak-anak yang hilang.

 

Lebih dari tiga dekade setelah menulis lagu pertamanya, Lü masih bangun setiap hari pukul 5 pagi untuk berdoa, membaca Alkitab, dan menulis lagu bagi gereja Tiongkok.

 

Kerinduan terbesarnya tetap sama: membawa orang semakin mengenal Yesus secara pribadi dan mendalam.

 

“Saya harus terus belajar—Firman Tuhan, penyembahan, dan pelayanan—bukan untuk menyenangkan siapa pun, tetapi untuk menaati dorongan Roh Kudus,” katanya.

 

Sumber: Diterjemahkan dari,

X Yang, “The Chinese Christian Behind 2,000 Hymns.” Christianity Today. December 11, 2025. Diakses 13 Juni, 2026. https://www.christianitytoday.com/2025/12/lu-xiaomin-canaan-hymns-china-church-worship-songs/.


ID EN