Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Penulis lahir dan dibesarkan dalam keluarga besar yang taat beragama di Bagelen, Purworejo daerah tua di Jawa Tengah yang sarat dengan warisan budaya Hindu-Buddha, Islam, dan tradisi Jawa. Sejak kecil, penulis hidup dalam suasana religius: belajar agama dari paman yang guru agama, mendengar lantunan ayat-ayat suci dalam bahasa Arab dari kakek, dan melihat nenek tekun bersembahyang lima waktu setiap hari. Tradisi lokal seperti slametan, nyadran, dan penghormatan leluhur menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Dalam konteks budaya plural ini, keluarga penulis pertama kali mendengar Injil melalui pelayanan misionaris lintas budaya pada akhir 1970-an. Pesan Injil membawa pengharapan baru tentang pengampunan dan keselamatan. Setelah misionaris itu pergi, penulis yang masih berusia sembilan tahun dibimbing oleh seorang penginjil nasional dari Every Home Indonesia yang tinggal di rumah keluarga. Dari sinilah penulis belajar doa, firman Tuhan, dan ikut melayani membagikan kabar baik dari rumah ke rumah. Ketika kemampuan membaca mulai berkembang, penulis tekun membaca Alkitab dan menghafal ayat-ayatnya.
Pada usia sepuluh tahun, setelah menyelesaikan pembacaan seluruh Kitab Suci, penulis bertobat, beriman kepada Yesus Kristus, dan dibaptis dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Pengalaman ini menjadi titik lahir baru dalam hidup rohani. Masa remaja ditandai semangat melayani, berpegang pada nasihat: "Janganlah kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan" (Rm. 12:11). Penulis aktif beribadah di jemaat lokal dan mengikuti pemuridan dalam Kelompok Kristus-komunitas yang beribadah di rumah-rumah.
Pada usia 15 tahun, penulis mulai membimbing orang percaya baru dan meneguhkan panggilan untuk memuridkan melalui kelas pendalaman Alkitab dan kursus tertulis Every Home Indonesia. 09 | Every Home Indonesia Setelah menamatkan SMA, penulis melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia, lalu melayani penuh waktu bersama Yayasan Lembaga Literatur Kristen Indonesia (Every Home Indonesia) di Bandung. Dalam pelayanan ini, penulis memimpin dan merintis 16 jemaat rumah yang berkembang menjadi jemaat lokal. Salah satu di antaranya, yang dimulai dari lima Kelompok Kristus, setelah 25 tahun bertumbuh, berhasil menjangkau dan membaptis lebih dari 200 jiwa serta memiliki gedung ibadah sendiri.
Perjalanan iman ini menunjukkan kesinambungan yang utuh: dari akar religius Jawa, perjumpaan dengan Kristus, pertumbuhan dalam pemuridan, hingga panggilan untuk menabur Injil dan mendirikan jemaat. Pemuridan dalam Kelompok Kristus terbukti membentuk iman pribadi sekaligus melipatgandakan murid Kristus-sebuah wujud nyata dari amanat agung Yesus: "Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku" (Mat. 28:19).
Tulisan selanjutnya akan membahas: apa yang dimaksud dengan pemuridan, dan bagaimana pemuridan dilakukan di dalam jemaat rumah yang disebut Kelompok Kristus. Apa Itu Pemuridan dan Bagaimana Pemuridan Dilakukan dalam Kelompok Kristus: Bagi saya, pemuridan bukan sekadar kegiatan belajar Alkitab atau mengikuti pertemuan rohani. Pemuridan adalah perjalanan hidup bersama Kristus, di mana seseorang dibentuk, diajar, dan diarahkan untuk menjadi serupa dengan Dia.
Pemuridan bukan hanya tahu firman Tuhan, tetapi menghidupi firman itu setiap hari, sehingga hidup kita sendiri menjadi kesaksian tentang kasih dan kuasa Injil. Saya belajar arti pemuridan pertama kali bukan dari ruang kelas, tetapi dari teladan seorang penginjil yang tinggal di rumah kami. la tidak banyak berbicara teori, tetapi hidupnya penuh kasih, sederhana dan tekun berdoa. Setiap pagi kami berdoa bersama, membaca firman Tuhan, lalu mengunjungi rumah-rumah untuk membagikan traktat dan kabar baik. Dari sana saya melihat bahwa pemuridan sejati terjadi di tengah kehidupan sehari-hari di dapur, di ladang, di rumah, bahkan di perjalanan. Ketika saya mulai terlibat dalam Kelompok Kristus, saya menemukan pola yang sama: komunitas kecil yang saling mengenal, saling menolong, dan bertumbuh bersama dalam kasih Tuhan. Dalam kelompok ini tidak ada jarak antara pengajar dan murid; semua belajar bersama sebagai saudara seiman. Kami bersekutu di rumah-rumah, membaca firman, berbagi kesaksian, dan berdoa untuk kebutuhan satu sama lain.
Saya menyaksikan bagaimana pemuridan mengubah banyak orang. Ada yang dulunya hidup dalam kebiasaan lama, mulai belajar mengampuni, hidup jujur, dan setia kepada keluarga. Ada juga yang dulu ragu, kini berani bersaksi dan melayani. Semua itu bukan karena kehebatan manusia, tetapi karena pekerjaan Roh Kudus melalui proses pemuridan. Setiap kali saya membimbing anggota baru, saya selalu mengingat pesan Yesus: "Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku." (Mat. 28:19). Ayat itu menjadi dasar setiap langkah pelayanan. Saya percaya, ketika seseorang benar-benar dimuridkan, maka ia pun akan terdorong untuk memuridkan orang lain. Itulah yang membuat jemaat-jemaat rumah terus bertumbuh dan melahirkan banyak murid Kristus baru.
Kini, setelah puluhan tahun berjalan, saya melihat buah pemuridan itu nyata. Beberapa dari mereka yang dulu saya bimbing kini menjadi pemimpin jemaat, penginjil, bahkan gembala. Dari rumah-rumah kecil yang dulu kami gunakan untuk beribadah, kini berdiri jemaat-jemaat yang hidup, kuat, dan mandiri. Semua bermula dari satu hal sederhana: ketaatan untuk memuridkan seperti Yesus memuridkan. Mendefinisikan Ulang Makna Pemuridan : Bagi saya, pemuridan bukan program, melainkan panggilan hidup. Setiap hari adalah kesempatan untuk berjalan bersama Tuhan dan membimbing orang lain berjalan dalam terang-Nya. Itulah sukacita dan tujuan hidup saya: menjadikan hidup ini saluran kasih Kristus bagi banyak orang, agar setiap rumah menjadi tempat di mana Injil diberitakan, iman bertumbuh, dan murid-murid Kristus dilahirkan.
Pemuridan bukan sekadar program, melainkan inti dari Amanat Agung dan jantung misi Kristus. Pemuridan dimulai dari perjumpaan pribadi dengan Injil-saat seseorang mengalami kasih Kristus, diubahkan oleh firman-Nya, dan kemudian menjadi saksi yang melahirkan murid-murid baru. Proses ini terus berlanjut hingga terjadi pelipatgandaan rohani. Firman Kristus adalah fondasi pemuridan: "Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus" (Roma 10:17). Melalui pembacaan dan pendalaman Alkitab, seseorang mengenal Yesus, memahami kebenaran, dan menyadari kebutuhan akan keselamatan. Dari situ lahir iman yang nyata, diwujudkan melalui baptisan sebagai deklarasi publik bahwa hidup lama telah berlalu dan hidup baru dalam Kristus dimulai (Roma 6:4). Pemuridan sejati berarti hidup dalam ketaatan setiap hari, bertumbuh dalam kekudusan, dan serupa dengan Kristus (2 Korintus 5:17; Lukas 9:23).
Pertumbuhan iman juga berlangsung dalam komunitas lokaltempat kita bersekutu, beribadah, dan saling meneguhkan. Dari sini, murid Kristus belajar hidup dalam kasih, pengampunan, dan kebenaran, serta melayani dalam misi Allah. "Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik" (Ibrani 10:24-25).
Pemuridan adalah perjalanan terus-menerus menuju keserupaan dengan Kristus, yang memberi damai dan tujuan sejati (Filipi 1:6; Roma 14:17). Pertumbuhan iman juga berlangsung dalam komunitas lokaltempat kita bersekutu, beribadah, dan saling meneguhkan. Dari sini, murid Kristus belajar hidup dalam kasih, pengampunan, dan kebenaran, serta melayani dalam misi Allah. "Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik" (Ibrani 10:24-25).
Pemuridan adalah perjalanan terus-menerus menuju keserupaan dengan Kristus, yang memberi damai dan tujuan sejati (Filipi 1:6; Roma 14:17). Namun, mengikut Yesus sering kali berarti menghadapi penderitaan dan penolakan. Dalam konteks budaya non-Kristen, menjadi murid Kristus kerap dianggap sebagai pengkhianatan terhadap tradisi leluhur. Saya sendiri berasal dari latar belakang agama dan budaya Islam-meninggalkan tradisi seperti Ramadan dan Idul Fitri bukan hal mudah, karena di situ melekat kenangan dan identitas. Tetapi, mengikuti Yesus berarti menempatkan kasih kepada-Nya di atas segala hal lain.
Pemuridan menuntut pertobatan radikal dan penyerahan penuh kepada Roh Kudus. Yesus memberi teladan pemuridan yang sejati: la berdoa, memilih murid, mengajar, dan mengutus murid-murid-Nya untuk melayani. Pemuridan bukan teori, melainkan relasi yang hidup-belajar, melayani, dan berjalan bersama. Melalui pelayanan dan kesetiaan kepada Firman, saya menemukan sukacita dan tujuan yang tidak dapat diberikan oleh agama atau tradisi mana pun. Menjadi murid Kristus adalah perjalanan seumur hidup: mengenal, percaya, mengikut, dan menghidupi iman setiap hari-bukan hanya sebagai murid, tetapi juga sebagai pemurid bagi kemuliaan Tuhan.
Pemuridan sejati bukan sekadar respons terhadap Injil, tetapi perjalanan nyata mengikuti Yesus. Seseorang mulai menjadi murid ketika ia dibina dalam komunitas kecil-belajar berdoa, membaca Alkitab, melayani, dan tetap setia kepada Kristus dalam suka maupun duka. Tujuan akhirnya bukan hanya tahu firman, tetapi menghidupi firman-menjadi seperti Yesus: hidup suci, sederhana, melayani, dan berani memberitakan Injil dengan kuasa Roh Kudus. Kita tahu seseorang telah dimuridkan dengan baik ketika hidupnya mencerminkan karakter Kristus dan terlibat aktif dalam misi-Nya. Ada perbedaan antara membantu pertumbuhan rohani dan memuridkan. Membantu pertumbuhan berarti menyediakan sarana-Alkitab, buku, atau pelatihan. Sementara memuridkan berarti hadir secara pribadi: mendampingi, meneladani, menegur dengan kasih, dan berjalan bersama. Tanpa relasi, pertumbuhan hanya menjadi teori; tanpa dukungan, pemuridan kehilangan arah. Pemuridan yang sejati bersifat transformatif, bukan hanya informatif. Informasi Alkitabiah penting, tetapi tidak otomatis mengubah hidup.
Pemuridan harus menyentuh tiga dimensi: 1. Pola pikir - Berpikir seperti Kristus (Roma 12:2). 2. Pola hidup - Menjadi pelaku firman (Yakobus 1:22). 3. Pandangan hidup - Menjadikan Kristus pusat segala aspek kehidupan: keluarga, pekerjaan, keuangan, hingga media sosial. Banyak pendekatan pemuridan gagal karena terlalu berfokus pada program gereja, teori teologi, atau metode impor yang tidak sesuai konteks lokal.
Pemuridan yang sejati kembali pada teladan Yesus: dilakukan dalam kelompok kecil, melalui relasi yang hidup, lintas generasi, dan relevan dengan realitas umat.Pemuridan bukan hanya membangun pengetahuan, tetapi membentuk kehidupan-menjadikan setiap orang serupa Kristus dan siap memuridkan orang lain. Tuhan Yesus memberkati kita semua untuk berlipatganda.
Pdt. Dr. Yohanes R Suprandono
Bendahara Umum PP PGLII