• Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510

Pesan Natal 2025 & Tahun Baru 2026 PGLII

 

 “ALLAH MENGUTUS ANAK-NYA SUPAYA DUNIA DISELAMATKAN MELALUI DIA”

(Yohanes 3:17)

 

 

Bapak/Ibu Pimpinan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia:

 

Saudara-saudari seiman di dalam Kristus,

 

Di penghujung tahun 2025 ini, kita menaikkan puji dan syukur kepada Allah Bapa yang dalam kasih dan anugerah-Nya telah menuntun perjalanan pelayanan kita semua. Sebelum memasuki tahun 2026, ada momen perayaan Natal yang kita rayakan bersama. Tahun ini PGLII mengangkat tema “Allah Mengutus Anak-Nya Supaya Dunia Diselamatkan Melalui Dia”  yang terambil dari Yohanes 3:17: Sebab Allah mengutus Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus, bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya. 

 

Ayat ini menyingkapkan makna terdalam dari Natal bahwa kelahiran Kristus lebih dari hanya peristiwa sejarah, tetapi sebagai perwujudan kasih Allah yang aktif bagi dunia yang telah jatuh dalam dosa. Dalam peristiwa Natal, Allah tidak datang membawa hukuman, melainkan mendatangkan keselamatan dan pembaruan hidup. Natal adalah bukti nyata kasih Allah yang tidak pernah menunggu manusia menjadi layak, tetapi justru berinisiatif datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia dalam kejatuhan dan ketidakberdayaannya. Karena itu, setiap perayaan Natal menjadi panggilan bagi kita untuk mewujudkan kasih yang menyelamatkan itu dalam kehidupan nyata serta menjadi saksi Kristus yang menghadirkan kasih di tengah dunia yang penuh ketidakpastian. 

 

Tema Natal ini juga mengingatkan kita akan nilai-nilai Injili yang sejati yaitu hidup yang berpusat pada Kristus dan menyatakan kasih melalui pelayanan yang nyata. Di tengah perubahan zaman yang cepat dan budaya yang makin sekuler, gereja perlu terus menjaga komitmen kepada Injil dan meneladani kerendahan hati Kristus yang datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani. 

 

Pemuridan Sebagai Jantung Misi Kaum Injili 

 

Pesan penyelamatan Kristus ini mengingatkan umat Kristen di Indonesia pesan penting dari Persekutuan Injili Asia (Asia Evangelical Alliance / AEA) yang pada tahun ini mengangkat tema yang kuat dan menantang: “Disciple or Die!” (Muridkan atau Mati!). Tema ini menegaskan urgensi pemuridan sejati di tengah melambatnya pertumbuhan kekristenan di Asia. Gereja tidak hanya dipanggil untuk mengumpulkan jemaat, tetapi untuk membentuk murid-murid Kristus yang hidup dalam ketaatan, kasih, dan misi. Tanpa pemuridan, gereja kehilangan denyut rohani dan arah panggilannya. 

 

Karena itu, PGLII mengajak seluruh gereja dan lembaga Injili di Indonesia untuk memperbarui komitmen dalam pemuridan yang holistik, yang melahirkan murid-murid yang mengasihi Kristus, bertumbuh dalam Firman, dan diutus untuk membawa Injil ke dunia. 

 

Panggilan Injil Global: Injil Untuk Semua Orang di Tahun 2033 

 

PGLII juga mendukung tema Konferensi Aliansi Injili Dunia atau World Evangelical Alliance (WEA) Tahun 2025 di Seoul, Korea Selatan, yang mengangkat tema “The Gospel for Everyone by 2033.” Pertemuan tersebut mempertemukan para pemimpin Injili dunia untuk memperkuat kerja sama dalam pemberitaan Injil, pemuridan global, dan kesatuan tubuh Kristus. Gerakan ini mengingatkan kita akan panggilan universal, agar menjelang tahun 2033 yaitu dua ribu tahun sejak penyaliban dan kebangkitan Kristus, setiap orang di dunia telah mendengar Injil keselamatan. 

 

Sebagai bagian dari gerakan Injili global, PGLII berkomitmen melanjutkan misi ini di Indonesia yaitu menjadi pemberita Injil Kristus yang membawa pengharapan bagi bangsa, dengan Injil yang menyelamatkan dan mengubahkan. 

 

Misi Holistik di Tengah Konteks Indonesia 

 

Dalam konteks Indonesia, panggilan misi itu harus diwujudkan secara holistik di mana dalam memberitakan Injil sekaligus menampakkan kasih dan keadilan Allah melalui tindakan nyata. Gereja-gereja secara serius wajib berkolaborasi bersama dipanggil untuk melawan intoleransi, korupsi, ketidakadilan, dan perpecahan sosial. Ini dinyatakan bukan dengan kebencian, tetapi dengan keteladanan hidup, kebenaran, dan kasih Kristus yang memulihkan. 

 

Tema Natal tahun ini mengingatkan kita juga bahwa Allah yang mengutus Anak-Nya adalah Allah yang peduli terhadap penderitaan manusia. Kita prihatin dengan adanya ribuan pengungsi di Papua, hutan dan tanah dieksploitasi tanpa kendali, peristiwa pembubaran dan pelarangan umat Tuhan beribadah, serta izin rumah peribadatan yang semakin sulit. Karena itu, sebagai umat yang telah diselamatkan melalui kasih Kristus, kita juga terpanggil untuk berdoa dan bersuara bagi bangsa ini. 

 

Kita senantiasa mendoakan pemerintah Indonesia, agar para pemimpin diberi hikmat, takut akan Tuhan, dan hati yang melayani dalam menegakkan keadilan dan kebenaran. Sebagaimana Allah mendengar jeritan dunia dan bertindak melalui Kristus, demikian pula kita mendorong pemerintah untuk mendengarkan suara rakyat, terutama mereka yang sedang menghadapi tekanan ekonomi, kesulitan hidup, dan ketidakpastian masa depan. 

 

Kita berdoa agar para pemimpin bangsa memiliki kepekaan dan keberanian moral untuk mengambil kebijakan yang berpihak kepada kesejahteraan rakyat, menegakkan keadilan sosial, dan mengelola sumber daya bangsa dengan jujur dan bertanggung jawab. 

 

Penutup

 

Kiranya makna Natal tahun ini menguatkan kita semua, bahwa Allah masih bekerja menyelamatkan dunia melalui Kristus. Ia memanggil gereja-Nya untuk menjadi alat kasih dan pembawa kabar baik bagi semua bangsa. Mari kita sambut Tahun Baru 2026 dengan semangat baru untuk terus menghidupi Injil, memperkuat pemuridan, dan melanjutkan misi Allah secara holistik bagi kemuliaan Kristus dan keselamatan dunia. 

 

Selamat Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Kasih, damai, dan sukacita Kristus kiranya menyertai kita semua.

  

 

PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DAN LEMBAGA-LEMBAGA INJILI INDONESIA

 

 

Pdt. Tommy O. Lengkong, M.Th.  |  Pdt. Prof. Dr. Daniel Ronda


ID EN