• Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510

RAHASIA HIDUP YANG BERBUAH

 

Dr. Yohanes Suprandono

 

Pendahuluan


Saudara-saudari yang terkasih, setiap orang merindukan hidup yang berhasil, bermakna, dan menghasilkan sesuatu yang baik. Kita ingin melihat keluarga diberkati, pelayanan berdampak, dan kehidupan yang memuliakan Tuhan. Melalui kehidupan Yusuf, sebagaimana dicatat dalam Alkitab, kita belajar bahwa hidup yang berbuah bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari prinsip-prinsip ilahi yang Tuhan tetapkan.


Dalam Kejadian 41:51-52, Yusuf menamai anak pertamanya Manasye sambil berkata, “Allah telah membuat aku melupakan segala kesusahanku.” Anak keduanya dinamainya Efraim, dengan pengakuan, “Allah telah membuat aku berbuah di tanah kesusahanku.”
Perhatikan baik-baik: Yusuf tidak berbuah di tempat yang mudah, tetapi justru di tanah kesusahannya. Ini menjadi pesan kuat bagi kita — Tuhan sanggup membuat hidup kita berhasil bahkan di tengah situasi yang sulit.


I. Kewajiban dalam Hidup: Menjadi Berbuah.


Menjadi berbuah berarti hidup kita menghasilkan sesuatu yang bernilai — bukan hanya sukses secara duniawi, tetapi juga berarti di hadapan Tuhan. Sejak awal, tujuan Allah memberkati manusia adalah supaya kita bukan hanya diberkati, tetapi juga menjadi berkat bagi orang lain (Kejadian 12:1-2).


Ada tiga prinsip penting tentang hidup yang berbuah:

1.       Allah Menginginkan Kita Berbuah.

Mazmur 1 menggambarkan orang benar seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buah pada musimnya. Ulangan 28 juga menunjukkan bahwa ketaatan membawa berkat yang nyata.  Artinya, keberhasilan rohani bukanlah keinginan manusia semata — itu adalah kerinduan hati Allah sendiri.

2.       Allah Merancang Kita untuk Berbuah.

2 Petrus 1:3 berkata bahwa kuasa ilahi Tuhan telah memberikan segala sesuatu yang kita perlukan untuk hidup saleh.  Sering kali kita berkata, “Saya tidak punya kemampuan.”
Namun firman Tuhan berkata sebaliknya: Tuhan sudah menyediakan semua yang kita butuhkan.  Masalahnya bukan kekurangan kemampuan, tetapi apakah kita mau hidup sesuai rancangan-Nya.

3.       Allah Menentukan Cara Kita Berbuah.

Seperti seseorang mandi di bawah keran air — airnya tersedia, tetapi kita harus berdiri di bawahnya. Dalam Ulangan 28:1-2 ada kata penting: “Jika.”  Jika kita menaati Tuhan, maka berkat akan mengikuti.

 

Ada beberapa hal praktis yang Tuhan ajarkan agar kita berbuah:

         Bertekun dalam Kristus (Yohanes 15:4-5). Ranting tidak bisa berbuah tanpa pokok anggur.

         Memberkati orang lain (Lukas 6:38). Memberi membuka pintu berkat.

         Memiliki komitmen (Galatia 6:9). Jangan lelah berbuat baik karena ada musim menuai.

         Bekerja keras (Amsal 10:4; 12:24). Kerajinan menghasilkan kepercayaan.

         Menjadi unggul (Amsal 22:29). Keunggulan membawa kita berdiri di hadapan raja.

   Belajar melupakan dan mengampuni. Dan di sinilah banyak orang gagal. Mereka memiliki kemampuan, kesempatan, bahkan panggilan — tetapi masa lalu menahan mereka.


II. Melupakan Masa Lalu.


Kejadian 41:51 menunjukkan bahwa Yusuf memilih untuk melupakan kesusahannya.  Melupakan bukan berarti kehilangan ingatan. Melupakan berarti tidak lagi membiarkan masa lalu menguasai pikiran dan perkataan kita.


Ada beberapa hal yang harus kita lepaskan:

1.       Dari mana kita berasal.

Mungkin latar belakang kita miskin, keluarga kita bermasalah, atau pendidikan kita terbatas. Tetapi Tuhan tidak melihat masa lalu kita sebagai batas masa depan kita.

2.       Apa yang pernah kita alami.

Dikhianati, ditipu, atau diperlakukan tidak adil — Yusuf mengalami semuanya.

3.       Siapa yang pernah menyakiti kita.

4.       Bagaimana kita menderita.


Banyak orang gagal bukan karena masa depannya buruk, tetapi karena ia terus hidup di masa lalunya.
Tuhan tidak bisa memenuhi tangan yang terus menggenggam luka lama.


III. Mengampuni Mereka yang Menyakiti Kita.


Dalam Kejadian 50:19-21, ketika saudara-saudaranya takut akan pembalasan, Yusuf berkata:
“Apakah aku berada di tempat Allah?”

 

1.       Serahkan Pembalasan kepada Allah.

Pengampunan dimulai ketika kita berhenti mengambil posisi Tuhan.
Balas dendam melelahkan jiwa, tetapi menyerahkan perkara kepada Tuhan membawa damai.

2.       Hidup Dipimpin oleh Misi.

Yusuf berkata, “Kamu memang merencanakannya untuk kejahatan, tetapi Allah merencanakannya untuk kebaikan.”  Orang yang memiliki tujuan hidup tidak punya waktu untuk menyimpan kebencian.
Sering kali ketika hidup terlalu kosong, pikiran kita kembali pada luka lama. Tetapi ketika kita sibuk dengan panggilan Tuhan — menyelamatkan jiwa, memberkati orang lain, membangun keluarga — kepahitan kehilangan tempatnya.

3.       Hidup dalam Berkat dan Menjadi Berkat.

Yusuf bukan hanya mengampuni; ia menyediakan kebutuhan saudara-saudaranya.
Ketika kita mengalami berkat Tuhan, hati kita menjadi lebih lembut.
Ada kisah sederhana: seseorang berkata, “Kami bisa menanggungnya.” Ketika Tuhan mencukupkan hidup kita, kita tidak lagi merasa perlu membalas.


Orang yang merasa kekurangan sulit mengampuni. Tetapi orang yang sadar Tuhan mencukupi hidupnya mampu berkata, “Tuhan sudah terlalu baik bagiku untuk menyimpan kebencian.”
Saudara-saudari, Tuhan rindu kita hidup berbuah. Namun buah itu lahir dari hati yang bebas.

 

         Tuhan ingin kita berbuah.

         Tuhan sudah memperlengkapi kita untuk berbuah.

         Tuhan menunjukkan jalan agar kita berbuah.


Karena itu: Lupakan masa lalu, lepaskan luka lama, ampuni mereka yang menyakiti kita seperti Yusuf, Tuhan sanggup membuat kita berbuah, bahkan di tanah kesusahan kita.


Amin.


ID EN