Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Kompleks Green Ville Blok AW/57 RT 07 RW 014, Kel. Kepa Duri, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510
Refleksi dari Konferensi AEA di Manila, 9-12 Juni 2026.
“May you be covered with the dust of your rabbi. ~ Kiranya engkau diselimuti oleh debu rabimu.”
Dalam khotbah pembukaan Konferensi Kaum Injili se Asia di Manila, Rev. Botrus Mansour (Sekjen WEA) mengingatkan kembali sebuah konsep pemuridan yang penting dari dunia Yahudi abad pertama “Talmeed (תלמיד)”, yaitu murid yang mengikuti rabinya begitu dekat sehingga debu dari langkah sang guru menempel pada dirinya. Ungkapan Yahudi kuno ini bukan sekadar metafora puitis. Ia menggambarkan esensi pemuridan yang sesungguhnya.
Di tengah banyaknya program gereja, aktivitas pelayanan, konferensi, dan strategi organisasi, gereja perlu terus mengingat satu pertanyaan mendasar: Apakah gereja kita sedang menghasilkan murid?
Sebab pada akhirnya, gereja menghadapi sebuah kenyataan yang sederhana namun serius “Disciple or Die”. Intinya bertumbuh dalam pemuridan atau perlahan kehilangan segalanya.
Pemuridan Bukan Program, Melainkan Cara Hidup
Ketika Yesus memanggil para murid-Nya, Ia tidak berkata: “Datanglah dan hadiri kebaktian-Ku.” Ia berkata: “Ikutlah Aku.” (Mat. 4:19). Undangan itu bukan menuju sebuah acara, melainkan menuju sebuah hubungan.
Dalam budaya modern, kita sering mengukur keberhasilan gereja melalui angka, jumlah jemaat, besar gedung, banyaknya kegiatan, atau kekuatan organisasi. Namun Yesus memberikan ukuran yang berbeda, “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku…” (Mat. 28:19). Perintah terakhir Yesus bukan membangun organisasi terbesar, melainkan menghasilkan murid.
Gereja yang kehilangan fokus pada pemuridan mungkin masih ramai, tetapi perlahan kehilangan daya transformasinya. Ia memiliki pengunjung (attenders), tetapi tidak memiliki murid dan tidak memiliki pengikut Kristus yang dewasa.
“Talmeed”: Murid yang Tertutup Debu Rabinya
Dalam tradisi Yahudi, seorang “talmeed”tidak hanya belajar informasi dari rabinya. Ia belajar kehidupan sang rabi. Ia mengamati bagaimana rabinya berdoa, menafsirkan Kitab Suci, cara lmemperlakukan orang, menghadapi penderitaan, dan cara mengambil keputusan.
Karena itu muncul ungkapan, “May you be covered with the dust of your rabbi.” Artinya, berjalanlah begitu dekat dengan gurumu sehingga debu jalannya menempel pada hidupmu. Inilah yang dilakukan para murid Yesus. Mereka tidak hanya mendengarkan khotbah-Nya. Mereka hidup bersama-Nya. Mereka melihat Yesus ketika mengajar, ketika lapar, ketika lelah, ketika menghadapi penolakan, ketika berdoa semalaman, bahkan ketika memikul salib. Pemuridan sejati terjadi melalui kedekatan hidup.
Krisis Gereja Modern: Informasi Tanpa Transformasi
Salah satu paradoks atau mungkin ironi gereja masa kini adalah kita hidup di zaman dengan akses pengajaran Alkitab terbesar dalam sejarah. Contohnya, podcast rohani berlimpah, video khotbah tersedia setiap saat, buku teologi dapat diakses dengan mudah. Namun pada saat yang sama, banyak gereja mengalami kekurangan murid yang matang secara rohani. Mengapa? Karena informasi tidak otomatis menghasilkan transformasi. Orang dapat mengetahui banyak tentang Yesus tanpa sungguh-sungguh mengikuti Yesus.
Sebaliknya pemuridan terjadi ketika kehidupan ditularkan melalui relasi. Paulus memahami prinsip ini ketika ia berkata, “Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus” (1 Kor. 11:1). Di sini pemuridan bukanlah soal transfer pengetahuan, tetapi transfer kehidupan.
Pemimpin yang Tidak Memuridkan Sedang “Membunuh” Masa Depan Gereja
Judul konferensi memang provokatif, namun mengandung kebenaran. Setiap pemimpin gereja harus bertanya: “Siapa yang sedang saya muridkan?” Banyak pemimpin sibuk memimpin program, rapat, administrasi, dan pelayanan publik. Namun Yesus yang hanya melayani sekitar tiga tahun justru menginvestasikan sebagian besar waktunya kepada dua belas orang.
Mengapa? Karena Yesus datang dengan membawa misi besar dalam penyelamatan. Kerumunan dapat mengagumi seorang pemimpin. Tetapi hanya murid yang akan melanjutkan misinya. Ketika seorang pemimpin tidak memuridkan, pelayanannya berhenti pada dirinya sendiri. Sebaliknya, ketika seorang pemimpin memuridkan, pengaruhnya melampaui masa hidupnya.
Warisan terbesar seorang pemimpin bukan gedung yang ia bangun, bukan juga organisasi yang ia pimpin. Warisan terbesar seorang pemimpin adalah orang-orang yang ia bentuk.
Debu Sang Guru dalam Kehidupan Pemimpin Rohani
Bagi para pemimpin gereja, pertanyaan yang lebih mendalam bukan hanya, “Apakah saya sedang memuridkan orang lain?” Tetapi penting untuk bertanya juga: “Debu siapa yang sedang menempel pada hidup saya?”
Setiap pemimpin sedang mengikuti seseorang. Entah Kristus, budaya, popularitas, ambisi pribadi, atau tekanan dunia. Karena itu pemimpin harus terus berada cukup dekat dengan Kristus sehingga “debu-Nya” memenuhi kehidupannya.
Orang-orang yang kita pimpin tidak hanya mendengar apa yang kita katakan. Mereka mengimitasi siapa diri kita, belajar cara berdoa, mengasihi, dan menghadapi konflik dari kita. Intinya mereka belajar cara hidup dari kita.
Pemimpin yang tidak berjalan dekat dengan Kristus pada akhirnya hanya akan mereproduksi dirinya sendiri. Namun pemimpin yang berjalan dekat dengan Kristus akan menghasilkan murid yang menyerupai Kristus.
“Disciple or Die”
Ungkapan “Disciple or Die” bukanlah slogan yang provokatif dan mengada-ada. Ia adalah pengingat bahwa pemuridan adalah sistem kehidupan gereja.
Tanpa pemuridan, iman menjadi dangkal, generasi berikutnya tidak siap, kepemimpinan menjadi rapuh, gereja kehilangan identitasnya. Sebaliknya, ketika pemuridan menjadi budaya orang percaya bertumbuh dewasa, pemimpin baru muncul, Injil diteruskan lintas generasi, gereja tetap hidup dan relevan.
Gereja mula-mula bertahan bukan karena memiliki gedung megah. Mereka bertahan karena murid menghasilkan murid. Paulus memuridkan Timotius. Begitu juga Timotius memuridkan orang lain. Dan Injil terus bergerak dari generasi ke generasi.
Refleksi untuk Para Pemimpin
Sebelum menyusun strategi pelayanan gereja di masa depan/berikutnya, mungkin sekarang kita perlu berhenti sejenak dan bertanya:
1. Apakah saya lebih banyak mengumpulkan orang atau membentuk murid?
2. Siapa yang sedang saya dampingi secara pribadi?
3. Apakah kehidupan saya cukup dekat dengan Kristus sehingga orang lain dapat melihat-Nya melalui saya?
4. Jika saya meninggalkan pelayanan hari ini, apakah ada generasi penerus yang siap melanjutkan misi Kristus?
5. Debu siapa yang melekat pada hidup saya?
Kiranya gereja-gereja kita kembali kepada panggilan yang paling mendasar, bukan menghadirkan orang ke dalam gedung gereja, melainkan membawa mereka berjalan begitu dekat dengan Yesus sehingga hidup mereka dipenuhi “debu Sang Guru.” Kiranya setiap pemimpin, pelayan, dan jemaat hidup dekat dengan Kristus sehingga dunia dapat melihat jejak Sang Guru dalam kehidupan mereka.
~ Daniel Ronda